Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gempa NTT, Bagaimana Orang Beriman Menyikapinya

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 17 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Senin, 17 Agustus 2026 - 18:55 WIB

97 Views ㅤ

Penampakan kerusakan gempa NTT (foto: IG)

GEMPA BUMI yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingatkan manusia bahwa kehidupan ini berada dalam kekuasaan Allah. Di hadapan kekuatan alam yang begitu besar, manusia menyadari bahwa dirinya sangat lemah dan terbatas.

Kejadian gempa di wilayah NTT yang tercatat oleh BMKG menjadi pengingat bahwa bumi yang kita pijak bukanlah milik kita, melainkan ciptaan Allah yang berjalan sesuai ketetapan-Nya.

Ketika bencana datang, sering kali manusia bertanya, mengapa ini terjadi? Mengapa rumah rusak? Mengapa ada yang kehilangan harta bahkan orang-orang tercinta?

Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah, tentu dapat memahami bahwa di balik setiap kejadian ada hikmah dan ketetapan Allah. Kita boleh sedih, kita boleh menangis, tetapi hati tetap harus bersandar kepada Allah.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Dalam kaitan musibah, Allah menyebutkan di dalam firman-Nya:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156).

Kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un bukanlah sekadar ucapan ketika mendapat musibah. Ia adalah pengakuan seorang hamba bahwa dirinya, keluarganya, hartanya, dan seluruh alam ini adalah milik Allah.

Kita datang ke dunia pun tidak membawa apa-apa. Dan kita pun akan kembali kepada Allah tanpa membawa apa pun kecuali amal.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Allah Maha Kuasa, Manusia Hanya Berikhtiar

Gempa bumi mengajarkan kepada kita bahwa manusia memiliki batas. Kita bisa membuat bangunan yang kuat, membuat teknologi pendeteksi bencana, melakukan mitigasi, dan berbagai upaya keselamatan. Semua itu adalah kewajiban ikhtiar manusia.

Namun pada akhirnya, manusia hanya mampu berikhtiar. Hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.

Allah menegaskan di dalam firman-Nya:

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

 وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah.” (QS. Al-Insan: 30).

Ayat ini bukan mengajarkan manusia untuk pasrah tanpa usaha. Justru Islam mengajarkan keseimbangan, berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Seorang mukmin bekerja, berikhtiar, menjaga keselamatan, membantu sesama, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah.

Kepada saudara-saudara kita yang mengalami musibah gempa di NTT, atau di manapun, atau yang terdampak, tetaplah sabar, kuat dan tabah.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Kami tahu kehilangan dan kerusakan akibat bencana bukan sesuatu yang mudah. Rumah bisa dibangun kembali, harta bisa dicari kembali, tetapi derita memang membutuhkan kesabaran dan kekuatan iman.

Yakinlah, Allah melihat setiap air mata, setiap kesulitan, dan setiap perjuangan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Musibah bagi seorang mukmin bukan selalu tanda kehinaan. Bisa jadi ia menjadi jalan Allah mengangkat derajat, menghapus dosa, dan mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

Menggugah Kepedulian Sesama Anak Bangsa

Bagi masyarakat yang tidak terkena dampak langsung, musibah ini adalah panggilan untuk menghadirkan kepedulian.

Jangan biarkan saudara kita menghadapi kesulitan sendirian. Bantulah sesuai kemampuan. Ada yang bisa membantu dengan harta, tenaga, doa, informasi, atau dukungan moral.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Inilah nilai kemanusiaan dan persaudaraan. Ketika sebagian saudara kita sedang diuji, yang lain hadir memberikan kekuatan.

Tanggung Jawab Pemerintah dan Semua Pihak

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Dalam menghadapi bencana, pemerintah memiliki amanah besar untuk hadir melindungi rakyat. Penanganan yang cepat, tepat, transparan, dan berkeadilan adalah bagian dari tanggung jawab kepemimpinan.

Masyarakat yang terdampak membutuhkan pertolongan nyata: evakuasi, kebutuhan dasar, layanan kesehatan, tempat tinggal sementara, hingga pemulihan kehidupan setelah bencana.

Kepemimpinan bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi tentang pelayanan dan tanggung jawab kepada rakyat.

Pelajaran dari Musibah

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Gempa bumi bukan hanya mengguncang bumi, tetapi juga menggugah hati manusia.

Ia mengingatkan bahwa kehebatan manusia tidak berarti di hadapan kuasa Allah. Harta yang kita banggakan bisa hilang dalam sekejap. Jabatan yang kita kejar suatu saat akan ditinggalkan. Maka mari kembali memperbaiki hubungan dengan Allah.

Mari kita perbanyak doa. Perkuat ibadah. Perbaiki hubungan dengan sesama. Jadilah manusia yang ketika diberi nikmat bersyukur dan ketika diuji bersabar.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana di NTT. Semoga yang kehilangan diberikan pengganti terbaik, yang terluka diberikan kesembuhan, dan seluruh bangsa Indonesia diberikan hati yang peduli serta jiwa yang saling menguatkan.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semua milik Allah dan kepada Allah kita akan kembali. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Info MINA
Info MINA