Shah Faesal Politisi Muda Harapan Baru Muslim Kashmir

Pada hari Senin, 4 Februari 2019, orang-orang berkumpul di salju untuk mendengarkan Shah Faesal berpidato di Kupwara, distrik paling utara dari Kashmir yang dikelola India.

Kerumunan itu tergolong besar untuk rapat umum bagi seorang politisi arus utama.

Beberapa pekan sebelumnya, Faesal mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pegawai negeri senior di pemerintahan India dengan alasan pembunuhan terhadap warga Kashmir terus terjadi, termasuk karena kurangnya penjangkauan politik yang kredibel dari pemerintah New Delhi kepada Kashmir.

Pada tahun 2010, Faesal memuncaki ujian masuk pegawai negeri yang prestisius. Ia menjadi orang Kashmir pertama yang mencapai prestasi itu, menginspirasi orang-orang muda Kashmir lainnya untuk menempuh jalur yang sama.

Dia diproyeksikan oleh pemerintah India sebagai panutan dan dipandang sangat kontras dengan komandan gerilyawan yang dibunuh, Burhan Wani, yang telah menarik banyak pemuda Kashmir kepada pemberontakan melawan pemerintah India.

Namun, selama beberapa tahun terakhir, pernyataan publik Faesal memberi kesan kekecewaannya yang semakin besar terhadap pemerintah India.

Dia blak-blakan di media sosial dan menulis kolom di surat kabar, yang membuatnya didisiplinkan oleh pemerintah, karena melanggar aturan pegawai negeri sipil.

Dia kemudian mengundurkan diri pada 9 Januari 2019.

“Api di hati saya”

Pada rapat umum di Kupwara, Faesal berbicara tentang nepotisme, korupsi dan pemerintahan buruk yang telah menimpa negara. Dia juga berbicara tentang pengorbanan rakyat Kashmir demi hak politik.

“Apa yang saya saksikan dalam 10 tahun terakhir sebagai pejabat senior pemerintah, ada api di hati saya pada tahun-tahun ini. Ketidakadilan saya saksikan. Saya biasanya merasa tidak berdaya hampir sepanjang waktu. Saya tidak bisa berbicara pada waktu itu dan sedang mencari kesempatan di mana saya bisa melayani dan berbicara untuk orang-orang Kashmir,” katanya kepada orang banyak.

Beberapa peserta yang hadir membandingkan Faesal dengan Sheikh Abdullah dan meneriakkan, “Apa pun yang dilakukan Faesal, kami bersama dia.”

Abdullah adalah pemimpin pendiri Konferensi Nasional Jammu dan Kashmir (NC), salah satu partai politik utama Kashmir. Abdullah dikenal sebagai “Singa Kashmir”. Orang-orang menganggapnya sebagai pembebas mereka.

Sejak 1951, NC sebagian besar memerintah Kashmir yang dikelola India hingga tahun 2002. Pesaingnya berasal dari Partai Rakyat Demokrasi (PDP) yang didirikan oleh almarhum Mufti Mohammed Sayeed pada tahun 1999.

Kedua partai regional ini telah mendominasi politik negara bagian itu.

Tetapi PDP terkena dampaknya karena kemitraannya dengan Partai Bharatiya Janata (BJP), sayap kanan yang membuat marah warga Kashmir. Banyak pihak menuduh PDP membuat daerah itu rentan terhadap ambisi politik BJP.

Akhir dari kemitraan PDP-BJP tahun lalu menenangkan pendukung PDP sampai batas tertentu. Namun, meningkatnya operasi “kontra-pemberontakan” oleh pasukan keamanan India terhadap gerilyawan setempat telah menyebabkan kekerasan yang luas, menjadikan 2018 sebagai tahun paling berdarah bagi Kashmir dalam beberapa tahun.

Dalam keadaan yang bergejolak inilah Kashmir yang dikelola India akan mengadakan pemilihan umum negara bagian dan pemilihan nasional, yang dijadwalkan pada bulan April tahun ini.

Siddiq Wahid, mantan wakil rektor di Universitas Islam Sains dan Teknologi mempertanyakan “Apa yang dihasilkan pemilu sejauh ini?”

“Pengalaman orang-orang Kashmir dengan politik pemilu tidak terlalu baik. Jadi suasananya skeptis,” katanya kepada Al Jazeera.

“Dan di saat ada defisit kepercayaan antara Kashmir dan India selama ini, tanggung jawab untuk mengubah situasi saat ini terletak pada partai-partai arus utama. Bisakah dan akankah mereka menantang India sejauh itu perlu ditantang?” katanya.

Masuknya Faesal dalam politik di musim ini bisa dipandang sebagai ujian lakmus. Apakah ada ruang untuk politik arus utama di luar NC dan PDP?

Distrik Kupwara telah menyaksikan kebangkitan politisi lain, yaitu Sajjad Lone dari Konferensi Rakyat.

Lone bergandengan tangan dengan BJP, sebuah langkah yang dikritik oleh sebagian warga Kashmir. Karena itu, banyak yang melihat Faesal sebagai kandidat baru untuk berhubungan dengan warga Kashmir biasa, terutama kaum muda.

“Dengan tidak adanya penjangkauan politik, kami membutuhkan seseorang yang dapat kami percayai,” kata Nasir Hussain dari Kashmir utara, yang bersiap untuk mendaftar ke pegawai negeri mengikuti jejak Faesal.

“Saya sudah bertemu dengannya berkali-kali. Dia memiliki kepribadian yang rendah hati dan seperti anak muda lainnya, saya juga heran melihat dia masuk ke dunia politik. Sesuatu yang positif akan datang,” katanya.

Meskipun Faesal mengaitkan pengunduran dirinya dengan pembunuhan orang-orang Kashmir, dia menjelaskan bahwa dia tidak akan bergabung dengan militan.

“Meningkatnya kekerasan di Kashmir adalah hasil dari penyempitan ruang politik selama beberapa dekade terakhir,” kata Faesal kepada Al Jazeera.

Faesal berharap memperbesar ruang politik di Kashmir dengan memulai proses perdamaian dan membawa semua pihak ke meja perundingan.

Namun, Noor Ahmad Baba, seorang pakar politik Kashmir, mendesak agar ia berhati-hati.

“Saya masih belum begitu jelas (melihat) dalam politiknya, saya tidak berpikir bahwa sebagai seorang individu ia dapat membuat banyak perbedaan dalam skenario politik Kashmir yang kompleks dalam hal memperluas ruang politik,” katanya.

“Saya lebih suka menunggu untuk melihat bagaimana dia membentuk politiknya dan (melihat apakah) itu akan berbeda dari pilihan saat ini,” tambahnya. (AT/RI-1/RS3)

 

Sumber: tulisan Aijaz Nazir di Al Jazeera

 

Mi’raj News Agency (MINA)