TIDAK semua pemimpin lahir dari gemuruh latihan militer. Tidak semua panglima dibentuk oleh medan perang. Sebagian dari mereka justru ditempa dalam sunyi yang panjang, ketika di sepertiga malam yang akhir, menutup hiruk-pikuk dunia dengan bertahajud di hadapan Allah Ta’ala.
Al-Qur’an tidak pernah memisahkan kepemimpinan dari ketaatan. Bahkan, Al-Quran meletakkan malam sebagai madrasah pertama bagi jiwa-jiwa besar.
Sebagaimana firman-Nya:
اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih kuat (mengisi jiwa) dan lebih mantap ucapannya.” (QS. Al-Muzzammil: 6).
Begitulah, Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi memahami hakikat shalat tahajud sebagai jalan hidup. Panglima Shalahuddin sangat meyakini bahwa siapa yang ingin kuat di siang hari, harus lebih dulu kokoh di malam hari. Maka sebelum dikenal sebagai pembebas Baitul Maqdis, ia dikenal sebagai hamba yang lama berdiri dalam sujud tahajud.
Sujud di sepertiga malam yang akhir, bukan sekadar ritual tambahan. Ia adalah ruang paling jujur bagi seorang pemimpin. Di sanalah niat dibuka, ambisi diuji, dan ego diluluhkan. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pasukan, dan tidak ada pujian, hanya Allah dan seorang hamba yang sadar akan kelemahannya.
Allah menggambarkan hamba-hamba pilihan-Nya, para pembebas Al-Aqsa, dalam Surat Al-Isra pada ayat yang menyebutkan:
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
“Dan pada sebagian malam hari mereka bertahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Q.S. Al-Isra’: 79).
Panglima Shalahuddin tidak sedang mengejar kemuliaan di mata manusia. Ia tengah mengejar tempat terpuji di sisi Allah. Ia paham, kepemimpinan yang tidak dibangun di atas keikhlasan akan melahirkan kezaliman, sementara perjuangan yang tidak dilandasi ketundukan hanya akan melahirkan kehancuran.
Keberanian sejati tidak lahir dari teriakan, tetapi dari keyakinan bahwa Allah bersama orang-orang yang taat. Demikian juga, pertolongan Allah itu tidak turun begitu saja. Pertolongan Allah diturunkan kepada jiwa-jiwa yang siap menanggung amanah.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Di sinilah sujud malam melatih Panglima Shalahuddin untuk bersabar, untuk tidak tergesa, untuk menimbang setiap langkah dengan rasa takut kepada Allah. Dari situlah lahir keteguhan, bukan nekat, tetapi yakin.
Di medan perang, ia dikenal tegas. Namun di sepertiga malam, ia dikenal lembut dan tunduk. Dua wajah ini bukan kontradiksi, melainkan kesempurnaan. Sebab Islam tidak mengajarkan kelembekan tanpa ketegasan, dan tidak pula mengajarkan kekerasan tanpa ketakwaan.
Begitulah, Panglima Shalahuddin bukan hanya panglima yang ditakuti musuh, tetapi pemimpin yang dicintai umat. Akhlaknya terjaga bahkan di puncak kemenangan. Ia tidak membalas dendam, tidak merendahkan yang kalah, tidak mabuk kuasa. Semua itu berakar dari hubungan panjang dengan Allah di waktu malam.
Akhlak tersebut tidak muncul tiba-tiba di medan sejarah. Ia tumbuh dari sujud yang konsisten, dari zikir yang panjang, dari doa-doa yang tidak terdengar siapa pun kecuali Allah.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Karena itu, siapa pun yang ingin meneladani Panglima Shalahuddin Sang Pembebas Al-Aqsa dan Baitul Maqdis, ia harus menapaki jalan sunyi ini. Jalan yang tidak populer, tetapi menentukan. Jalan yang mungkin tidak terlihat di media sosial, tetapi dicatat oleh langit. Dan dari amalan yang tersembunyi itulah, para pejuang Al-Aqsa dilahirkan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic