BULAN Sya’ban sering kali berlalu begitu saja di tengah kesibukan, padahal ia menyimpan keutamaan besar sebagai jembatan ruhani menuju bulan suci Ramadhan.
Inilah bulan persiapan, bulan latihan, dan bulan peningkatan amal sebelum kita memasuki bulan penuh kemuliaan, bulan suci Ramadhan.
Salah satu amalan utama di bulan Sya’ban adalah memperbanyak puasa sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencontohkan hal ini secara nyata. Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di satu bulan dari bulan-bulan selain Sya’ban.”
Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha juga menuturkan:
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya’ban.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak berpuasa di bulan mana pun lebih banyak daripada bulan Sya’ban, bahkan beliau berpuasa hampir seluruh bulan itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa kata “kullu” (seluruhnya) dalam hadits ini bermakna kebanyakan hari. Imam Asy-Syaukani menegaskan bahwa dalam bahasa Arab, seseorang yang berpuasa di sebagian besar hari dalam satu bulan bisa disebut berpuasa sebulan penuh. Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim juga menambahkan bahwa Rasulullah tidak menyempurnakan puasa sebulan penuh selain Ramadhan agar umat tidak mengira puasa di luar Ramadhan itu wajib.
Lalu, apa hikmah di balik banyaknya puasa Rasulullah di bulan Sya’ban?
Para ulama menjelaskan, puasa Sya’ban ibarat shalat rawatib yang mengiringi shalat wajib. Ia menjadi penyempurna, penguat, dan pengantar menuju ibadah utama di bulan Ramadhan. Dari sisi fisik, puasa ini juga menjadi latihan atau pemanasan agar tubuh dan jiwa siap menghadapi puasa sebulan penuh.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Bulan Sya’ban juga menjadi pengingat bagi mereka yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan tahun sebelumnya. Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pernah mengqadha puasa Ramadhannya di bulan Sya’ban, bertepatan dengan saat Rasulullah juga memperbanyak puasa.
Dalam kitab Lathâ’if Al-Ma‘ârif disebutkan bahwa memperbanyak puasa di bulan Sya’ban akan membuat seseorang lebih kuat, lebih siap, dan lebih bersemangat saat memasuki Ramadhan. Ibadah tidak terasa berat karena hati dan raga sudah dilatih sebelumnya.
Semoga bulan Sya’ban ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan amal ibadah, memperbanyak puasa sunnah, serta melunasi hutang puasa yang masih tersisa.
Dengan begitu, kita benar-benar menyambut Ramadhan bukan dengan kesiapan biasa, tetapi dengan hati yang telah dipersiapkan. []
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic