BULAN SUCI Ramadhan kembali menyapa umat Islam di seluruh penjuru dunia, sebagai tamu agung nan mulia yang membawa keberkahan dan kebaikan berlipat ganda.
Bulan Suci Ramadhan juga membawa pesan langit, yakni pembaruan iman, penguatan takwa, dan kebangkitan umat Islam.
Bulan suci Ramadhan hadir bukan hanya sebagai bulan ibadah individual, tetapi sebagai momentum strategis untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif umat Islam. Terlebih, ketika Masjidil Aqsa, kiblat pertama dan tempat suci ketiga umat Islam, masih berada di bawah penjajahan dan penistaan Zionis Yahudi.
Bulan suci Ramadhan menuntut lebih dari sekadar ritual, tapi ia menuntut sikap dan keberpihakan dari orang-orang beirman.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Allah mengingatkan di dalam firman-Nya:
…… شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa Bulan Suci Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Quran sebagai pedoman hidup, bukan hanya untuk kesalehan personal, tetapi juga untuk menata sikap umat dalam menghadapi kezaliman dan ketidakadilan.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Ramadhan dan Tujuan Takwa
Puasa Ramadhan memiliki tujuan yang sangat jelas, sebagaimana firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 183).
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Takwa tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi melahirkan sensitivitas sosial dan keberanian moral. Takwa meniscayakan kepedulian terhadap penderitaan umat Islam di mana pun berada, termasuk saudara-saudara kita di Palestina yang terus menghadapi penjajahan, pengusiran, dan pelanggaran hak asasi manusia.
Dalam kaitan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Hadits ini menegaskan bahwa sikap abai terhadap penjajahan terhadap Masjidil Aqsa, Baitul Maqdis dan Palestina adalah bentuk kegagalan dalam menghayati ukhuwah islamiyah.
Al-Qur’an sebagai Spirit Pembebasan
Bulan Suci Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Al-Quran diturunkan bukan untuk membenarkan kezaliman, melainkan untuk membebaskan manusia darinya.
Sebagaimana firman Allah menyebutkan:
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاۤءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ اَهْلُهَاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ نَصِيْرً
“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (QS An-Nisa [4]: 75).
Ayat ini menunjukkan bahwa pembelaan terhadap kaum tertindas adalah bagian integral dari ajaran Islam. Dalam konteks hari ini, Masjidil Aqsa menjadi simbol nyata penindasan yang menuntut keberpihakan umat secara sadar dan terorganisir.
Sejarah juga mencatat bahwa Ramadhan adalah bulan kemenangan dan perubahan besar umat Islam, sebuah bukti bahwa ibadah yang benar akan melahirkan kekuatan spiritual dan sosial.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Terlebih, Masjidil Aqsa memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Masjidil Aqsa, yang namanya Allah sendiri menyebutkan di dalam Surat Al-Isra ayat pertama, bukanlah sekadar bangunan, melainkan bagian dari identitas dan akidah umat Islam. Karena itu, ketika Al-Aqsa dinodai, maka yang terlukai adalah kehormatan umat seluruhnya.
Tarhib Ramadhan
Kini, dalam rangkaian Tarhib Ramadhan (menyambut Ramadhan), kita tidak boleh berhenti pada seruan memperbanyak puasa sunnah, tilawah Al-Quran, qiyamul lail, yang semua itu memang merupakan fondasi utama keislaman kita. Akan tetapi, Tarhib Ramadhan harus menjadi madrasah kesadaran umat, tempat lahirnya generasi yang jernih pikirannya, lembut hatinya, dan tegas sikapnya terhadap kezaliman.
Karenanya, Tarhib Ramadhan bukan hanya ungkapan kegembiraan menyambut bulan suci, tetapi seruan kesadaran, inilah bulan ketika Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing umat keluar dari kegelapan menuju cahaya. Al-Qur’an yang sama pula yang menanamkan keberanian, keteguhan, dan keberpihakan kepada yang tertindas. Maka Ramadhan dan Al-Aqsa terikat dalam satu benang iman dan perjuangan.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Tarhib Ramadhan bermakna mengajak umat Islam menyadari bahwa kemenangan tidak diawali dari kekuatan materi, melainkan dari keteguhan iman. Al-Aqsa membutuhkan umat yang sadar bukan hanya marah, umat yang istiqamah bukan hanya emosional. Dari Ramadhan inilah seharusnya lahir generasi yang memahami bahwa membela Al-Aqsa adalah konsekuensi akidah, bukan sekadar simpati kemanusiaan.
Tarhib Ramadhan, menyambut Ramadhan berarti menyambut harapan. Harapan bahwa doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, air mata yang jatuh dalam sujud, dan kepedulian yang diwujudkan dalam dakwah dan aksi nyata, semuanya akan bermuara pada pertolongan Allah. Kemenangan itu bukan ilusi, melainkan janji bagi hamba-hamba yang bertakwa dan bersabar.
Penutup
Tarhib Ramadhan adalah seruan untuk bangkit, membersihkan hati, menguatkan akidah, dan menyatukan barisan umat Islam, hidup terpimpin berjama’ah.
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Tarhib Ramadhan, selamat datang Ramadhan, bulan Al-Qur’an, bulan persiapan pembebasan Al-Aqsa, dan bulan kemenangan yang dinanti umat Islam.
Semoga Bulan Suci Ramadhan tahun ini menjadi penguat langkah awal menuju pembebasan Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis, serta kemerdekaan Palestina. Dan itu, tanggung jawab kita semua umat Islam sedunia. Allahu Akbar! []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
















Mina Indonesia
Mina Arabic