Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Taubat Nasional: Mengembalikan SDA kepada Rakyat, Bukan kepada Mafia

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 10 Desember 2025 - 20:36 WIB

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:36 WIB

6 Views ㅤ

Taubat Nasional: Mengembalikan SDA kepada Rakyat, Bukan kepada Mafia
perjuangan para kaum buru dan tani dalam mencukupi kebutuhan hidupnya (foto : x)

HUJAN yang turun di banyak wilayah Sumatra akhir-akhir ini membawa perasaan yang berbeda. Ia bukan lagi menjadi kabar gembira tentang kesuburan bumi, tetapi berubah menjadi pemicu kecemasan. Setiap kali langit menggelap, warga mengingat banjir bandang yang datang tiba-tiba, longsor yang menelan rumah-rumah, dan sungai yang berubah seperti arus lumpur yang menakutkan. Di balik setiap bencana itu, ada luka alam yang semakin menganga. Dan sayangnya, luka itu bukan karena alam yang lelah, melainkan karena manusia yang hilang kendali.

Berbagai laporan dari Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan menunjukkan pola yang sama: hutan ditebang habis, tanah dikeruk secara ilegal, sungai dikeruhkan oleh aktivitas tambang yang tak mengenal batas, dan kawasan lindung berubah menjadi ladang eksploitasi. Ketika kekayaan alam diperlakukan seperti barang rampasan, rakyat kecil yang hidup dari tanah, sungai, dan hutan menjadi korban pertama. Ladang tidak lagi berproduksi, air sumur berubah keruh, jalan-jalan retak oleh truk bermuatan berat, dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang semakin tidak layak.

Padahal Allah sudah mengingatkan kita dengan firman-Nya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini terasa seperti gambaran tepat dari hari ini. Kerusakan itu jelas terlihat, bukan hanya melalui data, tetapi melalui air mata para petani, nelayan sungai, dan keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Nabi SAW juga menegaskan, “Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR. Ibnu Majah). Maka jelas, ketika eksploitasi SDA membawa banjir, longsor, penyakit, dan kerugian besar bagi masyarakat, itu bukan hanya pelanggaran hukum negara, tetapi juga pelanggaran syariat.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Ketika SDA berpindah ke tangan mafia, rakyat menjadi penonton di tanahnya sendiri. Hasil bumi yang seharusnya menjadi berkah bersama justru menjadi ladang kekayaan segelintir orang. Hadis Nabi SAW menegaskan bahwa “Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud).

Para ulama menafsirkan bahwa air, tanah, dan kekayaan alam tidak boleh dikuasai oleh kelompok tertentu untuk keuntungan pribadi. Ketika sungai dieksploitasi dengan alat berat, hutan dijadikan tambang liar, dan tanah rakyat diambil paksa, maka prinsip dasar syariat ini telah diinjak-injak.

Oleh karena itu, yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar penertiban, bukan hanya operasi sesaat, tetapi Taubat Nasional. Taubat bukan sekadar menangis dalam doa, tetapi keberanian untuk mengakui bahwa selama ini kita membiarkan kesalahan terjadi dan bahkan membiarkan kerakusan tumbuh. Taubat berarti menghentikan segala bentuk pembiaran terhadap mafia tambang, korupsi perizinan, dan eksploitasi yang tak mengenal batas. Taubat berarti mengembalikan SDA kepada pemiliknya yang sah: rakyat Indonesia.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini adalah pengingat bahwa perubahan besar tidak akan terjadi jika bangsa ini tidak berani berubah. Pemerintah harus berubah dengan kebijakan yang berpihak pada kelestarian. Aparat harus berubah dengan ketegasan dan integritas. Rakyat harus berubah dengan lebih peduli, bersuara, dan ikut menjaga. Inilah wujud taubat kolektif: kembali kepada amanah Allah dan kembali pada jalan yang benar.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Para ulama pun banyak menyuarakan kegelisahan tentang kerusakan alam. Mereka menyebut bahwa bumi ini adalah makhluk Allah yang bertasbih, dan merusaknya sama saja dengan memutus tasbih itu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan telah mengeluarkan fatwa tentang kewajiban menjaga lingkungan dan haramnya kegiatan yang merusak hutan. Fatwa itu tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari kenyataan pahit bahwa kerusakan ekologis sudah sampai pada tahap merusak kehidupan umat.

Mengembalikan SDA kepada rakyat adalah bagian dari ibadah sosial. Menjaga air berarti menjaga kehidupan. Menjaga tanah berarti menjaga rezeki. Menjaga hutan berarti menjaga masa depan anak cucu kita. Syariat Islam selalu mengajarkan bahwa keberkahan hanya turun kepada mereka yang jujur dan mengembalikan hak kepada pemiliknya. Jika SDA kembali dikelola berdasarkan keadilan dan tanggung jawab, insya Allah keberkahan itu akan kembali.

Alam Indonesia tidak pernah meminta balasan yang muluk-muluk. Ia hanya ingin dijaga. Ia ingin tetap bernafas, tetap hijau, tetap mengalir. Ia ingin menjadi rahmat seperti yang Allah janjikan. Maka kini, saat banjir dan longsor terus mengetuk pintu, saat udara semakin panas, saat air bersih semakin jauh dari genggaman, itu semua bukan kutukan—melainkan undangan dari Allah untuk kembali. Undangan untuk taubat. Undangan untuk memperbaiki negeri ini dari akar masalahnya.

Semoga bangsa ini berani memulai Taubat Nasional dengan mengembalikan amanah SDA kepada rakyat, bukan kepada mafia. Semoga Allah mengampuni kekeliruan kita, menguatkan langkah kita, dan mengembalikan negeri ini menjadi tanah yang subur, aman, dan diberkahi. Amin.[]

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Rekomendasi untuk Anda