Bangkok, MINA – Pemerintah Thailand mulai menjajaki pembelian minyak mentah dari Rusia sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik di tengah gejolak pasar global.
Upaya ini dilakukan seiring meningkatnya tekanan terhadap harga minyak dunia akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok energi internasional. Channel News Asia melaporkan, Selasa (17/3).
Wakil Perdana Menteri Thailand Phiphat Ratchakitprakarn menyatakan negaranya telah membuka pembicaraan dengan Rusia terkait potensi impor minyak mentah.
Langkah ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kekurangan pasokan, sekaligus mencari alternatif selain ketergantungan pada kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi sumber utama impor energi Thailand.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Kebijakan tersebut juga tidak terlepas dari dinamika global, termasuk kebijakan Amerika Serikat yang memberikan kelonggaran sementara bagi sejumlah negara untuk membeli minyak Rusia yang terdampak sanksi.
Relaksasi ini membuka peluang bagi negara-negara Asia, termasuk Thailand, untuk mengakses sumber energi tambahan dengan harga yang lebih kompetitif.
Di sisi lain, pemerintah Thailand tengah mengevaluasi kebijakan harga energi dalam negeri, termasuk rencana penyesuaian harga diesel setelah masa pembatasan harga berakhir.
Kenaikan biaya energi global turut mendorong pemerintah mengambil langkah penyeimbangan fiskal agar subsidi energi tidak membebani anggaran negara secara berlebihan.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Thailand sendiri menghadapi tantangan ketahanan energi karena tingginya ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Lebih dari separuh kebutuhan energinya berasal dari luar negeri, sehingga rentan terhadap gangguan pasokan global maupun fluktuasi harga internasional.
Kondisi ini mendorong pemerintah memperluas diversifikasi sumber energi guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Selain Thailand, sejumlah negara Asia lainnya juga mulai melirik minyak Rusia sebagai alternatif pasokan di tengah lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah dan ketegangan geopolitik global. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic