Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump Kalah Perang, Senator AS: Iran Semakin Kuat

Redaksi Editor : Arif R - Senin, 10 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:52 WIB

41 Views ㅤ

Presiden AS Donald Trump. (Foto: The White House)

Washington, MINA – Senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Chris Murphy, melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Donald Trump terkait perang yang masih berlangsung dengan Iran. Murphy menilai konflik tersebut justru membuat posisi Amerika Serikat semakin lemah, sementara Iran dinilai semakin kuat.

Pernyataan itu disampaikan Murphy dalam wawancara dengan program NBC Meet the Press, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency dan The Independent, Senin (10/8).

Menurut Murphy, upaya pemerintahan Trump untuk mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi belum menghasilkan kesepakatan yang konkret. Ia bahkan memperkirakan Trump pada akhirnya akan menerima kesepakatan yang dinilai kurang menguntungkan demi mengakhiri keterlibatan AS dalam perang.

“Jadi, Donald Trump telah kalah dalam perang ini,” ujar Murphy.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

“Amerika menjadi lebih lemah. Iran menjadi lebih kuat,” lanjut Senator Connecticut tersebut.

Pernyataan Murphy muncul setelah laporan The Wall Street Journal (WSJ) mengungkap bahwa Trump tengah mempertimbangkan sejumlah opsi untuk mengakhiri konflik. Salah satunya disebut berkaitan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, meski persoalan program nuklir Iran belum sepenuhnya diselesaikan.

Salah satu tujuan utama operasi militer AS sebelumnya adalah mengamankan kesepakatan yang dapat menghancurkan material nuklir Iran yang tersisa sekaligus membatasi kemampuan Teheran dalam memperkaya uranium dan mengembangkan program nuklir di masa mendatang.

Namun, menurut laporan WSJ, Trump disebut telah menyampaikan kepada stafnya kemungkinan menerima kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa terlebih dahulu mencapai penyelesaian menyeluruh terkait isu nuklir Iran.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Murphy mengatakan dirinya bahkan bersedia mendukung kesepakatan yang tidak ideal jika langkah tersebut dapat segera mengakhiri perang dan memastikan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz kembali dibuka.

Ia memperingatkan bahwa biaya yang harus ditanggung AS untuk membuka kembali jalur perairan tersebut akan semakin besar jika negosiasi perdamaian terus mengalami kebuntuan.

Sementara itu, laporan The Washington Times menyebut sejumlah pejabat Iran mengajukan beberapa tuntutan sebagai syarat untuk mengakhiri konflik, termasuk pembayaran kompensasi, pencabutan sanksi ekonomi, serta penghentian operasi militer Amerika Serikat.

Murphy menilai perang yang berlarut-larut tidak hanya meningkatkan beban strategis dan militer AS, tetapi juga berdampak langsung terhadap masyarakat Amerika melalui kenaikan harga.

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

“Perang ini harus diakhiri karena setiap hari perang terus berlanjut, Amerika menjadi semakin lemah, Iran semakin kuat, dan masyarakat di Amerika Serikat semakin dirugikan akibat harga-harga yang terus melonjak naik,” tegasnya.

Ia juga menyatakan akan menolak pendanaan baru untuk melanjutkan perang. Namun, Murphy menegaskan dirinya tetap mendukung upaya pengisian kembali persediaan amunisi militer AS setelah konflik tersebut berakhir.

Pernyataan Murphy memperlihatkan semakin kuatnya kritik di dalam negeri AS terhadap keberlanjutan perang dengan Iran, terutama ketika upaya diplomatik belum menghasilkan kesepakatan yang mampu mengakhiri konflik secara permanen. []

Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya

Rekomendasi untuk Anda