Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump Tunda Kesepakatan Nuklir dengan Saudi, Minta Normalisasi dengan Israel

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:41 WIB

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:41 WIB

52 Views ㅤ

Presiden AS Donald Trump (foto: IG)

Washington, MINA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan kerja sama pengembangan program nuklir sipil dengan Arab Saudi tidak akan dilanjutkan apabila Riyadh belum bergabung dalam Abraham Accords atau perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel.

Sikap tersebut menghentikan laju kesepakatan yang sebelumnya diumumkan hanya berselang kurang dari satu hari. Al-Jazeera melaporkan, Sabtu (25/7).

Pernyataan itu disampaikan Trump setelah Departemen Energi AS mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman dengan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengenai pengembangan reaktor nuklir komersial pertama di kerajaan tersebut.

Kesepakatan tersebut semula dijadwalkan memasuki tahap peninjauan Kongres AS, namun Trump kemudian menambahkan syarat baru bahwa Saudi harus lebih dahulu menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.

Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan

Menurut Trump, persyaratan tersebut sebenarnya telah menjadi pemahaman sejak awal meskipun tidak dibahas secara eksplisit sebelum penandatanganan dokumen kerja sama.

Ia menyatakan program nuklir sipil Saudi hanya dapat berjalan apabila kerajaan bergabung dalam Abraham Accords, seraya menyebut pada akhirnya Riyadh diyakini akan mengambil langkah tersebut. Hingga kini pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan terbaru Presiden AS itu.

Bagi Arab Saudi, syarat tersebut menjadi persoalan mendasar karena Riyadh berulang kali menegaskan normalisasi hubungan dengan Israel hanya dapat dilakukan apabila terdapat komitmen yang jelas dan tidak dapat dibatalkan menuju pembentukan negara Palestina yang merdeka.

Posisi itu juga terus disampaikan para pejabat Saudi sejak agresi Israel di Jalur Gaza memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan, sehingga peluang bergabung ke Abraham Accords dinilai masih menghadapi hambatan politik yang besar.

Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November

Isu kerja sama nuklir sipil sendiri telah menjadi agenda diplomasi Washington sejak masa pemerintahan Trump periode pertama dan dilanjutkan pada era Presiden Joe Biden.

Pemerintah AS memandang kesepakatan tersebut dapat memperkuat kemitraan strategis dengan Arab Saudi sekaligus membuka peluang bisnis bagi industri nuklir Amerika.

Namun, mengaitkan proyek energi dengan normalisasi hubungan Saudi-Israel berpotensi memperlambat realisasi kerja sama di tengah situasi keamanan Timur Tengah yang masih bergejolak.

Keputusan Trump menunjukkan bahwa Washington tetap menjadikan perluasan Abraham Accords sebagai salah satu prioritas kebijakan luar negeri di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia

Meski demikian, selama tuntutan Arab Saudi mengenai jaminan terbentuknya negara Palestina belum terpenuhi, prospek kesepakatan nuklir antara kedua negara diperkirakan akan tetap berada dalam ketidakpastian, sekaligus mencerminkan eratnya keterkaitan antara isu energi, keamanan regional, dan palestina-israel/">konflik Palestina-Israel. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Demo Gen Z Jerman Berujung Ricuh di Hamburg, Frankfurt, dan Berlin

Rekomendasi untuk Anda