Ankara, MINA – Hubungan antara Turkiye dan Israel memanas setelah Israel membombardir Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah barat laut, pada Selasa (18/8).
Serangan tersebut memicu saling tuduh antara dua kekuatan militer terbesar di Timur Tengah tersebut.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Suriah berada di ambang melanggar “status quo” keamanan dengan mengizinkan pasukan Turki dikerahkan di pangkalan tersebut.
Israel mengklaim telah “berulang kali memperingatkan” Damaskus bahwa langkah itu akan mengancam keamanannya. Financial Times melaporkan, Rabu (19/8).
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Namun, Kantor Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan membantah klaim tersebut sebagai “tidak dapat dipertahankan”. Turki menyatakan bahwa tuduhan itu berasal dari keinginan Israel untuk menjalankan langkah “ekspansionis dan destabilisasi” menjelang pemilihan umum Israel pada Oktober 2026.
Serangan tersebut menyoroti perbedaan visi Turkiye dan Israel mengenai masa depan Suriah. Turkiye adalah salah satu pendukung utama pemerintahan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, yang menggulingkan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Ankara telah memberikan pelatihan militer, peralatan, dan dukungan logistik untuk membangun kembali institusi negara Suriah.
Sementara itu, Israel melihat pemerintahan Sharaa sebagai ancaman dan telah melakukan serangan besar-besaran di Suriah sejak kejatuhan Assad, menghancurkan infrastruktur militer dan menduduki posisi di selatan Suriah.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Pangkalan udara Abu al-Duhur di Idlib, yang sebelumnya tidak aktif selama lebih dari satu dekade, kini sedang direhabilitasi. Delegasi Turki bahkan mengunjungi fasilitas tersebut hanya beberapa jam sebelum serangan Israel, menurut media Turkiye.
Israel menolak upaya Turkiye membangun infrastruktur militer yang dapat membatasi kebebasan geraknya, terutama di wilayah udara Suriah.
Hubungan Israel-Turkiye mulai memburuk secara serius pada 2024 akibat kebijakan Ankara yang mengkritik perang Israel di Gaza. Turkiye menangguhkan perdagangan bilateral dan sejak itu perbedaan mereka semakin tajam, terutama terkait Suriah.
Pada Juni 2026, Erdogan menyatakan bahwa “keamanan Turkiye dimulai dari Aleppo, Damaskus, Beirut”, menegaskan bahwa Turkiye tidak akan tinggal diam terhadap serangan di kawasan tersebut.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Israel semakin melihat peran Turki yang berkembang di kawasan sebagai tantangan keamanan. Beberapa politisi dan analis Israel bahkan menyebut Turkiye sebagai “Iran baru”.
Terlebih Turkiye baru-baru ini menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Arab Saudi dan Pakistan, yang memperkuat kehadiran militernya di Qatar dan Somalia. Hal ini menambah kekhawatiran Israel terhadap ambisi regional Turkiye. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
















Mina Indonesia
Mina Arabic