Brussels, MINA – Uni Eropa menggelar rapat darurat tingkat menteri untuk membahas gelombang migran di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, setelah puluhan ribu warga Maroko nekat berenang menuju kawasan tersebut. Tragedi itu menewaskan sedikitnya 72 orang.
Menurut laporan Al Jazeera yang dikutip pada Senin (3/8), Irlandia yang saat ini memegang jabatan Presiden Dewan Uni Eropa menginisiasi pertemuan darurat para menteri dalam negeri guna membahas meningkatnya krisis migran di Ceuta dan dampaknya terhadap keamanan perbatasan Eropa.
Dalam pernyataan bersama, Uni Eropa menegaskan bahwa pihaknya tidak dapat membiarkan penyeberangan massal yang tidak terkendali.
“Kami tidak bisa membiarkan penyeberangan massal yang tidak terkendali, instrumentalisasi migrasi, atau ancaman hibrida lainnya menciptakan persepsi bahwa masuk secara ilegal ke Uni Eropa itu mungkin,” demikian bunyi pernyataan bersama negara-negara anggota Uni Eropa.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Laporan menyebutkan, antara Rabu hingga Jumat pekan lalu sekitar 50.000 hingga 60.000 migran dari Maroko berenang menuju Ceuta. Sedikitnya 72 orang meninggal dunia dalam upaya mencapai wilayah tersebut.
Gelombang migran di Ceuta kali ini jauh lebih besar dibandingkan insiden pada Mei 2021, ketika sekitar 12.000 orang menyeberangi perbatasan Maroko–Ceuta hanya dalam waktu dua hari.
Ceuta merupakan kota otonom Spanyol di pesisir Afrika Utara yang selama ini menjadi salah satu pintu masuk utama menuju Eropa.
Wilayah tersebut dikelilingi pagar perbatasan tinggi, sistem pengawasan ketat, serta dijaga oleh Garda Sipil Spanyol dan Kepolisian Nasional.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Lonjakan migran di Ceuta memicu reaksi dari sejumlah negara Uni Eropa.
Mereka menilai arus masuk ilegal tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem perbatasan kawasan Schengen.
Sebagai respons, Italia memutuskan menangguhkan kebijakan perbatasan terbuka dengan Spanyol yang berada dalam kawasan Schengen.
Langkah tersebut mendapat kritik dari pemerintah Spanyol.
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, menyatakan pada Sabtu (1/8) bahwa “hampir semua” migran telah dipulangkan ke Maroko dan situasi di Ceuta telah kembali terkendali.
Sementara itu, Prancis dan Inggris menyampaikan solidaritas kepada Spanyol.
Namun, Prancis juga mengumumkan peningkatan jumlah personel kepolisian hingga lima kali lipat di perbatasannya dengan Spanyol.
Portugal turut memperketat pengawasan di perbatasan darat maupun jalur maritim.
Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya
Hingga saat ini, penyebab pasti gelombang migran di Ceuta yang melibatkan puluhan ribu orang tersebut masih belum diketahui.
Pemerintah Uni Eropa dan negara-negara terkait masih terus melakukan penyelidikan terhadap faktor yang memicu migrasi massal tersebut.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Demonstrasi di New Jersey Protes Ekspor Senjata ke Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic