Moscow, MINA – Presiden Rusia Vladimir Putin membantah tuduhan bahwa Moskow menjadi dalang gelombang demonstrasi massal di sejumlah kota Eropa.
Bantahan itu disampaikan Putin dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Rusia, VGTRK, yang disiarkan Ahad (25/10).
Putin menyebut tuduhan tersebut tidak masuk akal dan tidak kredibel. Menurutnya, para pemimpin Eropa enggan menganalisis penyebab ketidakpuasan publik dan memilih mencari pihak luar untuk disalahkan.
Ia mengaku heran karena sejumlah pejabat Eropa semula menuding Amerika Serikat (AS) berada di balik aksi tersebut, sebelum kemudian mengalihkan tuduhan kepada Rusia.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
Tuduhan terhadap Rusia sebelumnya dilontarkan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot dalam konferensi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 21 Oktober.
Barrot menyebut para pengunjuk rasa terpengaruh narasi bermusuhan dari Rusia, China, Iran, hingga gerakan MAGA di AS. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov telah menepis tuduhan itu pada 19 Oktober dan menyebutnya absurd, sedangkan Presiden AS Donald Trump menilai gejolak di Eropa dipicu gelombang migrasi massal.
Gelombang unjuk rasa di Eropa bermula dari Prancis pada pertengahan September dan merambat ke Spanyol, Belgia, Italia, Portugal, hingga Albania, dengan pemicu berbeda di tiap negara, seperti biaya hidup, layanan publik, dan perumahan.
Di Prancis, Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyebut sedikitnya 2.000 orang ditangkap dalam aksi akhir pekan sebelumnya, menurut laporan Skift.
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Di Spanyol, kepolisian Catalonia menyatakan 128 orang ditangkap di Barcelona semalam atas tuduhan vandalisme dan penjarahan, 73 di antaranya anak di bawah umur, dan 15 petugas terluka.
Kepala kepolisian Catalonia Silvia Cata menyebut gerakan itu tidak terorganisasi dan seruannya menyebar lewat media sosial, menurut Asharq Al-Awsat. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
















Mina Indonesia
Mina Arabic