Kinshasa, MINA – Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika atau Africa CDC mengeluarkan peringatan serius terkait potensi penyebaran lintas negara setelah wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menewaskan sedikitnya 65 orang.
Wabah terbaru itu terjadi di Provinsi Ituri, wilayah timur laut Kongo yang berbatasan dengan Uganda dan Sudan Selatan. Al-Jazeera melaporkan, Sabtu (16/5).
Otoritas kesehatan melaporkan hingga kini terdapat 246 kasus dugaan Ebola yang tersebar di sejumlah zona kesehatan, termasuk Mongwalu dan Rwampara.
Laboratorium nasional Kongo menemukan virus Ebola pada 13 dari 20 sampel yang diperiksa, sementara sebagian korban meninggal telah terkonfirmasi melalui uji laboratorium.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, menyatakan koordinasi regional menjadi langkah mendesak mengingat tingginya mobilitas penduduk di kawasan pertambangan Ituri.
Wilayah tersebut dikenal sebagai daerah konflik bersenjata dengan arus perpindahan warga yang tinggi, sehingga memperbesar risiko penyebaran penyakit ke negara tetangga.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah Uganda melaporkan satu kasus kematian akibat Ebola yang melibatkan seorang warga asal Kongo yang melakukan perjalanan ke Kampala.
Africa CDC bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini memperkuat pengawasan lintas batas dan menyiapkan respons darurat bersama pemerintah Uganda dan Sudan Selatan. WHO juga telah mengalokasikan dana awal sebesar 500 ribu dolar AS untuk mendukung penanganan wabah tersebut.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Para ahli menyebut wabah kali ini diduga melibatkan strain Bundibugyo, jenis Ebola yang lebih jarang ditemukan dibanding strain Zaire yang selama ini dominan di Kongo.
Hingga kini belum tersedia vaksin berlisensi khusus untuk strain Bundibugyo, sehingga mempersulit langkah pengendalian wabah. Faktor lingkungan hutan tropis, kontak manusia dengan hewan pembawa virus seperti kelelawar, serta lemahnya infrastruktur kesehatan turut disebut menjadi penyebab berulangnya wabah Ebola di kawasan tersebut.
Republik Demokratik Kongo sendiri tercatat telah mengalami sedikitnya 17 wabah Ebola sejak virus itu pertama kali diidentifikasi pada 1976. Salah satu wabah terburuk terjadi pada 2018 hingga 2020 yang menewaskan lebih dari 2.300 orang.
Ebola merupakan penyakit mematikan yang menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita dan dapat menyebabkan demam berdarah berat hingga gagal organ. []
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic