Kinshasa, MINA – Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo terus menunjukkan peningkatan mengkhawatirkan setelah jumlah kasus positif melampaui 100 orang dan menyebar di sedikitnya tiga provinsi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut situasi tersebut sebagai ancaman serius bagi kawasan Afrika Tengah karena penyebaran virus berlangsung cepat di tengah lemahnya fasilitas kesehatan. Al-Jazeera melaporkan, Senin (25/5).
Pusat penyebaran wabah saat ini berada di Provinsi Ituri, namun kasus juga mulai terdeteksi di wilayah lain seperti Kivu Utara dan Kivu Selatan.
Pemerintah RD Kongo menyatakan sebagian besar pasien mengalami gejala demam tinggi, muntah, diare, hingga pendarahan berat yang menjadi ciri khas infeksi Ebola. Hingga kini, ratusan kasus suspek masih terus diselidiki oleh otoritas kesehatan setempat.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
WHO mengungkapkan wabah kali ini disebabkan oleh varian Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan resmi yang disetujui secara global.
Kondisi tersebut membuat penanganan wabah menjadi lebih sulit dibanding wabah Ebola sebelumnya yang sempat melanda Afrika Barat beberapa tahun lalu.
Selain persoalan medis, upaya penanganan wabah juga terkendala konflik bersenjata dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap petugas kesehatan.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah terdampak dilaporkan diserang massa yang menolak prosedur pemakaman pasien Ebola sesuai protokol kesehatan. Situasi keamanan itu mempersulit distribusi bantuan medis dan proses pelacakan kontak pasien.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Negara-negara tetangga mulai meningkatkan kewaspadaan guna mencegah penyebaran lintas batas. Uganda telah melaporkan beberapa kasus yang berkaitan dengan wabah di RD Kongo, sementara sejumlah negara Afrika memperketat pemeriksaan kesehatan di pintu masuk internasional.
Pemerintah India bahkan menggelar rapat khusus kesiapsiagaan nasional menyusul meningkatnya korban jiwa akibat wabah tersebut.
RD Kongo sendiri memiliki sejarah panjang menghadapi epidemi Ebola. Sejak virus itu pertama kali ditemukan pada 1976, negara tersebut telah berkali-kali mengalami wabah mematikan.
Namun para pakar menilai wabah tahun ini menjadi salah satu yang paling kompleks karena terjadi bersamaan dengan konflik bersenjata, pengungsian massal, dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di kawasan timur negara itu. []
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic