Wawancara dengan Sharif Abu Shammala, Direktur Pelaksana Al-Quds Foundation Malaysia (1)

Wartawan MINA edisi Arab Taufiqurrahman dan Kordinator Liputan MINA Rana Setiawan berkesempatan mengadakan wawancara dengan aktifis kemanusiaan asal Gaza Palestina yang juga merupakan Direktur Pelaksana Harian Al-Quds Foundation Malaysia, Sharif Abu Shammala. Pertemuan dilakukan di lobi hotel Grand Cempaka Business, Jakarta Pusat, Selasa (10/3).

Berikut isi wawancaranya :

Apa-apa yang dilakukan Al-Quds Foundation?

Saya sekarang bekerja sebagai Direktur Pelaksana Al-Quds Foundation Malaysia. Yayasan ini berdiri tahum 2012. Yayasan ini dipimpin oleh Datuk Mahathir Muhammad.

Al Quds Foundation memiliki perhatian serius dalam menyebarkan informasi seputar Palestina, Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa khususnya di kalangan muslim Malaysia dan Indonesia serta Asia Tenggara.

Di samping itu juga menjelaskan kepada mereka bahwa mereka berhak memiliki Masjid Al-Aqsa dan bertanggungjawab dalam upaya mempertahankannya dan menunaikan peran mereka terhadap persoalan ini.

Kami mencoba membangun jaringan dengan organisasi-organisasi lokal dan pihak-pihak yang aktif, menyelenggarakan daurah-daurah, menyebarluaskan buku-buku serta buletin online Aqsa Pedia. Aqsa Pedia merupakan ensiklopedia yang berisi beragam informasi seputar Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa dengan berbagai ragam bahasa seperti Melayu, Arab, Inggris, India dan lain-lain.

Selain itu juga kami bekerja di bidang sosial seperti menyalurkan bantuan untuk saudara-saudara kami di Palestina, Gaza & Al-Quds.

Diantara tantangan yang dihadapi Al-Quds Foundation?

Yang paling nyata bagaimana membuat semua orang di wilayah kami bekerja memiliki perhatian serius terhadap Al- Quds.

Kedua tantangan berupa bahasa. Yakni menerjemahkan informasi-informasi terkait Al-Quds ke berbagai macam bahasa seperti Malaysia, Indonesia, Inggris dan bahasa-bahasa lainnya.

Adakah kendala dalam menyalurkan bantuan ke Palestina?

Tentu saja. Israel memberlakukan banyak pengecekan pada setiap bantuan yamg masuk. Tapi alhamdulillah dengan izin Allah bantuan yang kami salurkan hingga kini dapat sampai melalui berbagai pihak lokal yang bekerja sama dengan kami.

Kami juga memiliki perwakilan di Gaza dan Al-Quds yang bekerja menyalurkan bantuan tersebut.

Bagaimana kabar Palestina kini?

Situasi di Palestina masih sangat memprihatinkan akibat blokade Israel yang masih berlangsung hingga kini terhadap Gaza. Mereka juga masih melakukan berbagai bentuk intimidasi terhadap Masjid Al-Aqsha, berusaha mencegah jama’ah menunaikan shalat di sana, khususnya warga Palestina yang berjaga-jaga di sana. Mereka juga masih menganiaya wanita dan anak-anak di sana.

Pelanggaran lainnya mereka, merusak bangunan-bangunan warga Palestina di Tepi Barat.

Kini bentuk paling mengerikan dari pelanggaran itu adalah adanya Deal of The Century.

Apakah upaya AS mewujudkan proposal tersebut di lapangan sudah tampak bagi warga Palestina ?

Saya jelaskan dulu apa itu Deal of The Century (DOTC). DOTC adalah langkah AS mewujudkan perdamaian yang ditawarkan oleh Trump. Dia menyebutnya ‘Damai untuk Kemakmuran’. Namun pada faktanya itu bukanlah perdamaian melainkan perang terhadap Palestina dan hak-hak Palestina.

Dan itu adalah langkah yang dibuat AS pribadi, bukan hasil dari kesepakatan berbagai pihak. Langkah itu kini tengah coba dipaksakan dan diterapkan oleh Israel atas bangsa Palestina. Meski demikian kami bangsa Palestina akan berjuang menggagalkan langkah yang disebut sebagai DOTC itu.

Mengapa kami menolak DOTC? Kami menolak karena isinya semuanya dari berbagai sisi adalah kedhaliman terhadap Palestina. Misalnya isi yang menyebutkan pengungsi Palestina tidak diperkenankan untuk kembali ke tanah mereka di Palestina. Bagi kami, kembali adalah hak yang tidak mungkin ditawar-tawar.

DOTC juga melegalkan perampasan tanah-tanah Palestina oleh Israel hingga tinggal seluas 15 persen dari tanah Palestina.

Demikian juga poin yang mencabut kedaulatan Palestina atas wilayahnya. Palestina tidak boleh berkuasa atas bandaranya, perbatasannya, dan pelabuhan-pelabuhannya. Tentu saja itu merupakan persoalan yang rawan.

DOTC juga menyerahkan kota Al Quds untuk Israel. Seperti anda tahu Al Quds merupakan denyut jantung peradaban, budaya dan aqidah Palestina. Al Quds lah yang membentuk peradaban, budaya dan aqidah bangsa Palestina. Tidak mungkin bagi warga Palestina menerima tawaran tersebut.

DOTC menginginkan Palestina menjadi negara tanpa senjata, negara tanpa kuasa. Sehingga tidak mungkin bagi Palestina mempersoalkan segala pelanggaran Israel ke Mahkamah Internasional. Di lan fihak DOTC tidak mungkin mencegah Israel melakukan berbagai bentuk kebiadabannya atas Palestina. — Bersambung) — (L/RA 02/ P1))