Wawancara Dr Abdul Malik: Madrasah di Nigeria Fokus Bahasa Arab dan Ilmu Islam

MINA mengadakan Wawancara Eksklusif dengan Dr. Ustadz Ahmed Abdul Malik,Lc., Ulama Nigeria, Alumni Al-Azhar Kairo, yang saat ini juga menjadi Dosen Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) Malaysia.

Ustadz Ahmed menjelaskan, secara umum lembaga pendidikan Islam sejenis pondok pesantren atau madrasah di negaranya, lebih fokus pada Bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama Islam, sehingga lulusannya mudah dan banyak yang berminat untuk studi lanjut ke negara-negara Timur Tengah.

Termasuk lembaga tahfidz Al-Quran, yang saat ini juga mulai berkembang. Perkembangan ini terutama di bagian utara Nigeria, yang banyak diikuti para pelajar dari suku Hausa dan Fulat. Sementara sebagian lainnya masih belum berkembang di bagian selatan yang dihuni rata-rata dari suku Yuruba.

Bagaimana mengetahui lembaga madrasah di negeri kawasan benua Afrika tersebut? Berikut wawancara eksklusif MINA dengan Ahmed Abdul Malik (AAM) melalui saluran seluler.

MINA : Mata pelajaran pokok apa yang digunakan di lembaga pendidikan sejenis pesantren atau madrasah di Nigeria?

AAM : Secara umum mata pelajaran di lembaga pendidikan Islam sejenis pondok pesantren atau madrasah lebih fokus pada ilmu-ilmu Islam dan Bahasa Arab.

Itu yang membuat alumninya mempunyai standar yang hampir sama seperti madrasah di negara-negara Arab, terutama mahir berbahasa Arab.

MINA : Apakah memang alumni pelajar-pelajar di sana banyak yang berminat melanjutkan studi di Timur Tengah, yang berbasis bahasa Arab?

AAM : Ya, sudah menjadi impian rata-rata tamatan madrasah di sana berminat melanjutkan studinya di Timur Tengah. Termasuk saya dulu lanjut kuliah di Al-Azhar Kairo, Mesir.

MINA: Bagaimana dengan perguruan tinggi Islam di Nigeria?

AAM : Ada juga beberapa perguruan tinggi Islam yang terkemuka, seperti Universitas Islam Al-Hikmah di Ilorin, Wilayah Kwara dan Al-Qalam University di wilayah Katsina. Namun kalau untuk studi keislaman berbasis bahasa Arab lebih lanjut yang lebih baik ya di Timur Tengah.

MINA : Pelajar-pelajar Muslimah di negara Anda, bagaimana penggunaan hijab atau jilbab mereka, terutama di lembaga pendidikan Islam?

MMA : Secara umum, pelajar-pelajar Muslimah di sana sudah terbiasa memakai hijab. Apalagi di lembaga pendidikan Islam. Pelajar Muslimah yang tidak memakai hijab pun, mereka berpakaian tradisi lokal yang juga menutup aurat.

MINA : Apa harapan terbesar Anda dalam hal lembaga pendidikan Islam di negara Anda?

AAM : Saya tentu dalam jangka ke depan sangat berharap memiliki pesantren tahfidz yang bagus seperti banyak terdapat di Indonesia.

Hal ini untuk melengkapi dirosah ilmu-ilmu agama Islam dan Bahasa Arab yang relatif sudah berjalan baik selama ini. (L/RS2/P1) 

Mi’raj News Agency (MINA)