SUDAH 1000 hari. Bukan angka, tapi catatan hitam kemanusiaan yang menodai wajah peradaban. Sedikitnya 73.098 jiwa telah gugur, 450 di antaranya bayi yang bahkan belum sempat mengenal dunia. Sementara 1.029 anak tidak pernah merayakan ulang tahun pertamanya.
Ada yang tertembak, ada yang terbakar, dan ada bayi yang mati kehausan dan kelaparan di tenda pengungsian yang tak layak dihuni manusia.
Inilah hari di mana puing-puing Gaza bukan lagi gambaran perang, tapi telah menjadi pemandangan sehari-hari yang diterima dunia sebagai “normal baru.”
Namun 1000 hari genosida ini juga menyimpan satu hal yang berbeda. Sebuah pergeseran besar mulai terlihat. Citra Zionis Israel di mata dunia tidak lagi seperti dulu. Gelombang pengakuan terhadap Negara Palestina menggulung, gugatan genosida bergulir di Mahkamah Internasional, dan surat perintah penangkapan membayangi para pemimpin Zionis. Dunia mulai sadar, meskipun gerakannya begitu lambat.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Masa Depan Anak-Anak
Apa yang berlangsung di Jalur Gaza yang terblokade darat, laut dan udara, bukanlah data semata, tapi perasaan yang terusik. Bayangkan, 21.283 anak meninggal, 44.486 lainnya terluka. Dari data itu, 26% dari total korban adalah mereka yang seharusnya sedang belajar, bermain, dan memimpikan masa depan mereka.
UNICEF mencatat, sejak gencatan senjata Oktober 2025 saja, ada 265 anak yang tetap terbunuh, rata-rata satu anak setiap hari. Di antara mereka, lebih dari 58.000 anak kini kehilangan ayah atau ibu. Yatim-piatu di tengah puing, tanpa pelukan, dan tanpa pelindung.
Mereka tidak mati di medan perang. Mereka mati di rumah, di rumah sakit, di sekolah, atau saat sekadar berlindung dalam tenda. Sebuah laporan PBB menegaskan, pasukan pendudukan Israel dengan sengaja menargetkan anak-anak Palestina, dan 30% dari total syuhada adalah anak-anak. Ini bukan kecelakaan. Ini adalah genosida yang terencana.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Perubahan Opini Dunia
Namun di balik genosida itu, ada optimisme yang harus kita pegang. Dunia tidak lagi diam.
Kita menyaksikan pengakuan Negara Palestina melonjak ke angka 160 dari 193 negara anggota PBB. Inggris, Kanada, Australia, Portugal, Prancis, dan Spanyol kini telah bergabung dalam gelombang pengakuan. Ini adalah kemenangan diplomasi yang tak terbantahkan.
Aksi solidaritas juga masif. Di Eropa saja, lebih dari 45.000 demonstrasi telah tercatat di hampir 800 kota, membawa suara rakyat yang menuntut keadilan bagi Gaza.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Lalu di pengadilan dunia, kita melihat harapan. Afrika Selatan mengajukan gugatan genosida, dan 12 negara lainnya, termasuk Turki, Spanyol, dan Kolombia, telah bergabung.
Pada November 2024, ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan Gallant. Bahkan media Ibrani Haaretz mengonfirmasi bahwa lima pejabat Israel lainnya kini menghadapi surat perintah rahasia. Tidak ada yang kebal hukum.
Isolasi diplomatik Israel semakin nyata. Irlandia memutuskan untuk menutup kedutaan besarnya di Tel Aviv. Sementara Spanyol, Slovenia, dan Belgia mendorong penangguhan perjanjian dagang dengan Israel di Uni Eropa .
Gaza Masih Berdarah
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
Meskipun dunia bergeser, rakyat Gaza tetap berdarah, dan tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan kepedihan di sana.
Setelah 1000 hari: 90% infrastruktur sipil hancur, pendudukan Zionis Israel menguasai 70% wilayah Gaza. Sementara kelaparan disengaja terus melanda, bahkan lebih dari 3.700 anak menderita malnutrisi akut pada Februari 2026. Belum lagi, rumah sakit rata, obat-obatan habis, dan 20.000 pasien menunggu untuk dievakuasi demi keselamatan hidup mereka
Kita ingat Hind Rajab (6 tahun), anak kecil tak berdosa yang meminta tolong dari dalam mobil dan dikelilingi tank Zionis. Lalu ia ditemukan syahid 12 hari kemudian.
Kita ingat Yousef, bocah keriting yang dicari ibunya dengan mata kosong di lorong rumah sakit. Kita ingat Reem, 3 tahun, “ruh dari ruh” yang dipeluk kakeknya sebelum dikubur.
Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza
Cerita-cerita ini bukan sekadar duka. Ini adalah saksi atas kejahatan. Dan kejahatan harus diadili.
Gerakan Literasi dan Aksi Nyata
Di sinilah peran kita sebagai umat Islam dan bagian dari kemanusiaan global.
Kita tidak bisa menghentikan perang di Gaza dengan tangan kosong, tapi kita bisa membangun kesadaran melalui literasi, salah satu perjuangan yang terus kita gaungkan.
Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi
Melalui Kantor Berita MINA, kita mengajak generasi muda untuk menulis, menyebarkan fakta, dan melawan propaganda Zionis. Karena perang narasi sama pentingnya dengan perang di medan tempur.
Gerakan boikot juga terus membawa dampak. Pada 2025, ekspor Israel ke Uni Eropa turun drastis, dengan 84% industrialis Israel kehilangan kontrak di Eropa. Pencabutan izin dan pembatalan kesepakatan dagang terus mengguncang ekonomi Zionis. Ini bukan aksi kecil, ini adalah perjuangan ekonomi yang nyata. Sayangnya Gerakan boikot ini sedang melemah lagi. Ayo galakkan lagi.
Indonesia melalui Aqsa Working Group (AWG) dan berbagai organisasi kemasyarakatan juga terus menggaungkan penolakan terhadap Board of Peace (BoP), yang justru ingin membubarkan UNRWA dan menggantikannya dengan lembaga baru yang melanggengkan penjajahan tanpa akuntabilitas . Ini adalah ancaman baru yang harus kita lawang bersama.
Jalan Masih Panjang
Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel
Seribu hari genosida bukanlah akhir. Ini adalah panggilan untuk terus bergerak. Gaza masih berdarah. Anak-anak masih menangis di bawah reruntuhan. Para ibu masih kehilangan pelukan. Duni a memang mulai berbenah, tapi belum cukup.
Karena itu, jangan pernah lelah menyuarakan kebenaran, karena suara kita adalah senjata yang bisa kita berdayakan.
1000 hari berlalu. Semoga hari-hari berikutnya adalah hari-hari keadilan, hari-hari kemerdekaan, dan hari-hari di mana Gaza bangkit kembali.
Gaza akan merdeka. Palestina akan bebas. Allahu Akbar! []
Baca Juga: Insiden FlyDubai Picu Kritik, Oposisi Israel Soroti Kegagalan Netanyahu
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic