Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gairah yang Menghidupkan Pernikahan

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Kamis, 15 Januari 2026 - 14:58 WIB

Kamis, 15 Januari 2026 - 14:58 WIB

61 Views ㅤ

Ilustrasi: pasangan pengantin. (Gambar: Dreamina)

PERNIKAHAN bukan sekadar ikatan legal antara dua insan. Ia adalah perjumpaan dua jiwa, dua rindu, dua luka, dan dua harapan yang disatukan oleh Allah dalam satu jalan ibadah. Di dalamnya ada cinta, ada tanggung jawab, dan ada gairah—yang sering kali disalahpahami, dipendam, atau bahkan diabaikan. Padahal, gairah yang sehat dan halal justru menjadi denyut kehidupan rumah tangga yang membuat pernikahan tetap hidup, hangat, dan bernyawa.

Islam tidak pernah memusuhi gairah. Yang dimusuhi Islam adalah liarnya hawa nafsu tanpa arah, bukan keindahan rasa yang terjaga dalam akad yang sah. Allah justru menjadikan ketertarikan antara suami dan istri sebagai tanda kebesaran-Nya.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang ketenangan, tetapi juga mawaddah—cinta yang menyala, yang bergerak, yang hidup. Para mufassir menjelaskan bahwa mawaddah mencakup ketertarikan emosional dan fisik, sedangkan rahmah adalah kasih yang bertahan ketika gairah sedang menurun. Rumah tangga yang sehat membutuhkan keduanya.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Rasulullah SAW adalah teladan agung dalam memadukan spiritualitas dan kehangatan pernikahan. Beliau tidak kering dari rasa, tidak pula dingin dalam ekspresi cinta. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata bahwa Nabi SAW adalah manusia paling lembut terhadap keluarganya. Bahkan beliau menegaskan,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Dan pada hubungan suami istri salah seorang dari kalian terdapat sedekah.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengguncang paradigma lama yang memisahkan ibadah dari keintiman. Dalam Islam, gairah yang halal adalah ibadah, selama dilandasi niat yang lurus dan adab yang benar. Ia bukan sekadar pemuasan biologis, tetapi bentuk syukur atas nikmat pasangan.

Para ulama salaf memahami hal ini dengan sangat jernih. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa hubungan suami istri yang baik dapat melembutkan hati, menenangkan jiwa, dan menguatkan semangat ibadah. Bahkan beliau menyebutkan bahwa menjaga keharmonisan hubungan suami istri adalah bagian dari menjaga agama.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah رحمه الله menulis bahwa cinta antara suami dan istri adalah cinta paling murni, karena ia tidak hanya bertumpu pada keindahan fisik, tetapi juga pada rasa aman, kepercayaan, dan ketenangan batin. Ketika cinta ini dijaga, rumah tangga menjadi benteng dari fitnah zaman.

Dari sudut pandang psikologi modern, gairah dalam pernikahan memiliki peran vital. Penelitian menunjukkan bahwa keintiman emosional dan fisik yang sehat meningkatkan hormon oksitosin dan dopamin—hormon yang memperkuat ikatan, menurunkan stres, dan meningkatkan rasa bahagia. Pasangan yang mampu mengekspresikan kasih sayang secara konsisten cenderung lebih tahan terhadap konflik dan lebih cepat pulih dari luka emosional.

Namun, psikologi juga mengingatkan bahwa gairah tidak tumbuh di ruang hampa. Ia membutuhkan keamanan emosional, komunikasi yang jujur, dan rasa dihargai. Di sinilah Islam datang dengan bimbingan yang sangat halus. Rasulullah SAW bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Kebaikan di sini bukan hanya soal nafkah atau kewajiban formal, tetapi juga tentang kelembutan, perhatian, dan empati. Gairah akan mati dalam suasana kasar, dingin, dan penuh kritik. Ia hidup dalam rasa aman dan penghargaan.

Banyak rumah tangga tidak runtuh karena kurangnya cinta, tetapi karena cinta tidak lagi dirawat. Kesibukan, tekanan hidup, dan rutinitas sering membuat pasangan lupa bahwa pernikahan adalah amanah rasa. Islam tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mengajarkan kesungguhan dalam merawat.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menasihati seseorang yang ingin menceraikan istrinya hanya karena tidak lagi mencintainya. Umar berkata, “Apakah semua rumah tangga dibangun di atas cinta? Di mana letak amanah dan kesetiaan?” Ini menunjukkan bahwa cinta—termasuk gairah—adalah sesuatu yang diusahakan, bukan sekadar dirasakan.

Dalam psikologi relasi, ini dikenal sebagai intentional love—cinta yang dipelihara dengan kesadaran. Pasangan yang sehat bukan yang selalu bergelora, tetapi yang saling berusaha menyalakan kembali api ketika mulai redup. Islam mengajarkan hal yang sama melalui sabar, syukur, dan mu’asyarah bil ma’ruf.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Gairah yang menghidupkan pernikahan bukanlah yang bising dan berlebihan, tetapi yang hangat dan menenangkan. Ia tampak dalam sentuhan yang penuh makna, dalam perhatian kecil, dalam doa yang diam-diam dipanjatkan untuk pasangan. Rasulullah SAW bahkan mencontohkan keintiman emosional dengan berlomba lari bersama Aisyah, bercanda, dan mendengarkan cerita istrinya.

Ini semua menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang manusiawi dan realistis. Ia tidak mematikan fitrah, tetapi mengarahkannya. Gairah dalam pernikahan adalah anugerah yang jika dijaga akan menjadi sumber pahala, dan jika diabaikan bisa menjadi celah keretakan.

Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mau menjaga. Bukan tentang siapa yang paling berkorban, tetapi siapa yang paling tulus mencintai karena Allah. Gairah yang hidup adalah tanda bahwa dua insan masih saling memperjuangkan satu sama lain.

Dan ketika gairah itu diniatkan sebagai ibadah, dijaga dengan adab, dan dirawat dengan cinta yang bertanggung jawab, maka rumah tangga bukan hanya tempat bernaung di dunia, tetapi jalan bersama menuju surga.[]

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Tausiyah
Hikmah
Hikmah