Teheran, MINA – Pemerintah Iran secara tegas menyatakan ketidakpercayaannya terhadap niat Amerika Serikat (AS) untuk kembali ke meja perundingan terkait kesepakatan nuklir maupun stabilitas regional.
Teheran menekankan bahwa pengalaman pahit akibat dikhianati dalam perjanjian sebelumnya menjadi alasan utama keengganan mereka untuk mempercayai janji-janji diplomatik dari Washington. Press TV melaporkan, Rabu (25/3).
Ketegangan ini berakar dari preseden buruk saat AS secara sepihak menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada masa pemerintahan sebelumnya, disusul dengan pengetatan sanksi ekonomi yang mencekik.
Bagi Iran, tawaran negosiasi yang diajukan AS saat ini dianggap hanya sebagai manuver politik tanpa ada jaminan konkret bahwa kesepakatan baru tidak akan dilanggar kembali di masa depan.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Pihak otoritas Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan terjebak untuk ketiga kalinya dalam pola diplomasi yang merugikan kedaulatan nasional. Teheran kini lebih memilih untuk memperkuat ketahanan dalam negeri dan memperluas aliansi strategis dengan kekuatan global lainnya di Timur dan Asia guna mengurangi ketergantungan pada mekanisme ekonomi yang dikontrol Barat.
Hubungan kedua negara semakin memanas seiring dengan meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Teluk dan dukungan tanpa syarat Washington terhadap agresi Israel.
Hal ini dipandang Iran sebagai kontradiksi nyata; di satu sisi AS mengajak berdialog, namun di sisi lain terus melakukan tekanan militer dan ekonomi yang provokatif.
Sikap keras Iran ini merupakan pesan kepada dunia internasional bahwa diplomasi hanya bisa berjalan jika didasari oleh penghormatan timbal balik dan komitmen tertulis yang mengikat secara hukum internasional.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Tanpa adanya pencabutan sanksi secara menyeluruh dan permanen, ruang untuk dialog konstruktif diprediksi akan tetap tertutup rapat.
Sikap teguh Teheran diharapkan menjadi peringatan bagi komunitas internasional bahwa stabilitas global tidak dapat dicapai melalui tekanan sepihak dan pelanggaran janji diplomatik yang berulang. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic