Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Bawah Reruntuhan Gaza, Perpustakaan Phoenix Bangkit Kembali Setelah 13 Kali Pengungsian

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 24 April 2026 - 11:06 WIB

Jumat, 24 April 2026 - 11:06 WIB

14 Views ㅤ

Perpustakaan Phoenix Gaza. (Jaridah Al-Quds)

DI JANTUNG Kota Gaza, di tengah luka perang yang tak kunjung sembuh, wasiat tak lagi hanya ditulis untuk manusia. Kini, wasiat itu juga ditulis untuk buku-buku, khawatir ingatan yang terkandung di dalamnya akan lenyap ditelan api atau tertiup angin perang.

Itulah yang dirasakan oleh Omar Hamad, pendiri Perpustakaan Phoenix Gaza. Di saat-saat pengungsian yang paling sulit, ia menulis kata-kata perpisahan untuk buku-buku kesayangannya. Ia takut mereka akan hangus terbakar atau hilang di jalur-jalur pengungsian, tempat segala sesuatu lenyap dengan kecepatan yang luar biasa.

Bangkit dari Abu

Pada pertengahan April 2026 lalu, di Jalan Omar al-Mukhtar, Kota Gaza, Perpustakaan Phoenix resmi dibuka. Rak-rak kayunya kini berjejer rapi, menampung ribuan buku yang diperjuangkan dengan susah payah.

Baca Juga: Kunjungi Mesir, MUI Bahas Peluang Beasiswa bagi Pelajar Indonesia

Perpustakaan ini bukan sekadar proyek komersial atau budaya biasa. Ia adalah tempat pemukiman bagi ribuan volume buku yang telah berpindah-pindah sebanyak 13 kali bersama pemiliknya. Mereka berpindah dari pusat pengungsian ke rumah-rumah yang hancur, sebelum akhirnya menemukan tempat yang layak bagi nilai pengetahuan yang mereka bawa.

Perpustakaan Phoenix saat ini memiliki lebih dari 6.000 buku dengan berbagai spesialisasi. Mulai dari sastra, politik, kedokteran, hukum, ilmu syariat, tafsir, dan yurisprudensi. Yang paling istimewa, sastra Palestina dan Gaza menempati posisi menonjoh di rak-rak perpustakaan, sebuah upaya sadar untuk mengokohkan identitas nasional dan melindungi narasi sejarah kota yang terus-menerus menghadapi upaya penghapusan budaya.

Perlawanan Budaya

Perang pemusnahan di Gaza telah mengubah hubungan antara manusia dan buku menjadi fase yang sangat keras. Beberapa orang terpaksa menggunakan kertas sebagai bahan bakar untuk memasak atau menghangatkan diri, akibat blokade yang mencekik.

Baca Juga: Mengembalikan Jiwa yang Hilang dalam Pola Interaksi Keluarga Era Digital

Di tengah realitas pahit ini, hadirnya Perpustakaan Phoenix adalah tindakan perlawanan budaya, sebuah upaya menjaga pikiran tetap hidup, menghadapi kondisi yang menguras kesadaran manusia dan menekan kehidupan sehari-hari.

Perpustakaan ini bukanlah upaya individu semata, melainkan buah dari sumbangan dan inisiatif masyarakat. Warga Gaza menyumbangkan buku-buku yang ditinggalkan oleh para syuhada untuk mendukung bangunan budaya ini.

Di antara koleksi paling berharga adalah buku langka berjudul “Aliansi Yang Paling Disayangi dalam Sejarah Gaza,” disumbangkan oleh keluarga salah satu martir agar menjadi bagian dari memori kolektif kota.

Jendela Pengetahuan di Tengah Blokade

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Memburuknya ekonomi akibat blokade membuat para pengelola perpustakaan mengambil keputusan berani, sistem pinjaman buku gratis. Langkah tersebut diambil untuk memungkinkan para pelajar dan peneliti tetap mengakses ilmu pengetahuan.

Hossam Hamad, salah satu pendiri perpustakaan, mengatakan, “Tujuannya adalah agar perpustakaan ini menjadi blok bangunan dalam Masyarakat, memberi orang kesempatan untuk membaca ketika sarana hidup mereka terbatas.”

Perpustakaan itu rupanya menarik banyak pengunjung. Mereka menemukan perlindungan psikologis yang jauh dari kebisingan pesawat tempur dan berita kematian.

Nuniaz Abu Ras, seorang insinyur sistem komputer, menggambarkan tempat ini sebagai jendela harapan.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Ia mengatakan, “Pemikiran tetap menjadi satu-satunya ruang yang tidak dapat diakses pada masa perang. Membaca mendekatkan kita pada kebebasan yang telah lama kita nantikan.”

Ia menambahkan, “Buku-buku ini adalah bagian dari kepribadian saya, keberadaan saya, dan jiwa saya. Akhirnya, saya memberi mereka tempat khusus yang pantas mereka dapatkan, setelah perjalanan panjang pengungsian.”

Ia menekankan bahwa perpustakaan memainkan peran yang melampaui aspek budaya hingga mencapai dukungan psikologis. Di sela-sela rak, para pembaca sejenak melupakan beban berat yang dipikul akibat perang.

Tantangan dan Harapan

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

Perpustakaan Phoenix menghadapi tantangan serius. Biaya pengiriman buku sangat mahal, dan sulit mendapatkan edisi-edisi modern karena penutupan penyeberangan.

Namun, para pengelola perpustakaan bersikeras menyediakan buku-buku dalam berbagai bahasa: Arab, Inggris, Prancis, dan bahkan Jepang. Upaya ini menjadikan perpustakaan sebagai jendela nyata bagi warga Gaza menuju beragam budaya global.

Yang paling simbolis, buku-buku yang ditemukan dari puing-puing reruntuhan kini dipajang di Phoenix. Buku-buku itu telah berubah dari benda yang terlupakan menjadi alat kesadaran. Inisiatif ini mencerminkan tekad untuk melindungi warisan budaya Palestina dari kepunahan, meskipun terjadi penargetan sistematis terhadap lembaga pendidikan dan budaya di Gaza.

Perpustakaan Phoenix juga bercita-cita menjadi ruang pertemuan budaya dan diskusi intelektual, tempat para pemuda Gaza dapat berkumpul, menumbuhkan semangat komunitas dan rasa memiliki di saat perpindahan dan penyebaran begitu massif terjadi.

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Menurut para pengelolanya, setiap halaman yang dibaca adalah langkah menuju pemulihan dari efek perang yang panjang, sebuah upaya sadar untuk memulihkan keseimbangan psikologis dan intelektual masyarakat.

Penutup

Kisah Perpustakaan Phoenix adalah kisah tentang benang tipis yang menghubungkan kehilangan dan harapan. Kekhawatiran Omar Hamad terhadap buku-bukunya telah berubah dari teriakan ketakutan menjadi realitas konkret yang merayakan kata.

Di Gaza, di mana ruang aman semakin sempit, perpustakaan ini menjadi bukti bahwa pengetahuan adalah senjata yang tidak dapat dipatahkan, dan buku tetap menjadi pengasuh terbaik di masa-masa tersulit.

Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

Para pengunjung perpustakaan menegaskan, membaca di saat kelaparan dan pengungsian bukanlah kemewahan. Ia adalah kebutuhan eksistensial, untuk memahami realitas, mencoba mengubahnya, atau setidaknya untuk bertahan hidup.

Perpustakaan Phoenix menyediakan lingkungan tenang yang telah hilang dari sebagian besar rumah pengungsi. Ia menjadi tujuan sehari-hari bagi mereka yang mencari momen kejernihan mental di tengah puing-puing kota yang hancur.

Perpustakaan Phoenix berdiri sebagai contoh nyata bagaimana sebuah inisiatif individu dapat menjelma menjadi proyek nasional yang melestarikan ingatan dan identitas.

Ini membuktikan bahwa Gaza boleh menghancurkan rumah-rumah, tetapi ia tidak akan pernah bisa menghancurkan pikiran anak-anaknya.

Baca Juga: Peneliti UIN Ar-Raniry Ungkap Transformasi Otoritas Keagamaan di Era Digital

Dari wasiat yang ditulis dalam ketakutan, hingga rak-rak yang dipenuhi harapan, kisah Palestina terus diperbarui dan dibangkitkan kembali dari abu. []

Sumber: Jaridah Al-Quds.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Indonesia dan Mesir Perluas Kerja Sama Pendidikan, Beasiswa Hingga Riset

Rekomendasi untuk Anda