Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proyek Greater Israel: Ambisi Zionis Mencaplok Kawasan Timur Tengah

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 15 Juli 2026 - 21:04 WIB

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:04 WIB

44 Views ㅤ

Greater Israel (Linkedin)

APA yang terbayang ketika mendengar kata “Israel”? Mungkin sebuah negara kecil di Timur Tengah, yang berdiri sejak 1948 dengan dukungan kekuatan Barat. Namun tahukah kita, bagi para pendiri gerakan Zionisme, Israel yang kita kenal hari ini hanyalah awal dari sebuah ambisi yang jauh lebih besar?

Konsep “Greater Israel” atau “Israel Raya” adalah ideologi ekspansionis yang membayangkan wilayah Yahudi membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak. Ini bukan isapan jempol atau teori konspirasi. Ini adalah mimpi yang tertulis dalam buku harian Theodor Herzl, pendiri Zionisme politik, dan terus diucapkan oleh para pemimpin Israel hingga kini.

Pada Agustus 2025, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap visi ini. Dalam wawancara dengan i24NEWS, ketika ditanya apakah ia mendukung “Greater Israel,” ia menjawab tegas: “Absolutely. Very much.”

Mari kita bedah bersama: dari mana ide ini berasal, bagaimana implementasinya, dan mengapa ini mengancam seluruh kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Ketulusan Cinta Indonesia-Palestina, Makna Ciuman Kening Dubes Palestina kepada Imaam Yakhsyallah Mansur

Dari Nil ke Efrat: Fondasi Ideologis Greater Israel

Konsep “Greater Israel” tidak lahir di era modern. Akarnya tertanam dalam narasi keagamaan dan politik yang telah berusia ribuan tahun. Dalam Kitab Kejadian, terdapat janji Tuhan kepada Abraham yang memberikan tanah “dari sungai Mesir sampai sungai Efrat” sebagai milik keturunannya .

Namun, transformasi narasi ini menjadi proyek politik modern terjadi pada akhir abad ke-19. Theodor Herzl, pendiri gerakan Zionisme politik, menulis dalam buku hariannya bahwa wilayah negara Yahudi akan membentang “from the Brook of Egypt to the Euphrates”.

Pada 1947, Rabbi Fischmann, anggota Jewish Agency for Palestine, menyatakan di hadapan Komite Khusus PBB bahwa “Tanah yang Dijanjikan membentang dari Sungai Mesir hingga Efrat; termasuk bagian dari Suriah dan Lebanon”.

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

Sejarawan dan pakar arkeologi Palestina, Abdulrezzak Matani, menegaskan bahwa klaim tentang “kerajaan Israel bersatu” di bawah Daud dan Sulaiman yang membentang dari Nil ke Efrat tidak didukung oleh bukti arkeologis. Lebih dari seabad penggalian di Yerusalem dan sekitarnya gagal menemukan bukti monumen atau prasasti yang mengonfirmasi keberadaan kerajaan semacam itu.

Matani menyimpulkan bahwa narasi Torah telah sering digunakan untuk melegitimasi kebijakan kolonial pemukim dan menguasai tanah. Dalam prosesnya, warisan Arab dan Islam sering diabaikan atau sengaja dihapus.

Peta Ekspansi: Wilayah Mana Saja yang Diklaim?

Januari 2025 menjadi momen penting. Kementerian Luar Negeri Israel mempublikasikan peta “Greater Israel” di akun media sosial Arab-nya. Peta itu menggambarkan “Kerajaan Israel dan Yehuda” pada 928 SM, yang mencakup wilayah yang sekarang menjadi Yordania, Lebanon, Suriah, dan Mesir.

Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Menurut berbagai sumber, wilayah yang diklaim dalam Greater Israel mencakup: Wilayah Palestina (sudah diduduki), Yordania (klaim), Lebanon (Sebagian wilayah), Suriah (sebagian Dataran Tinggi Golan), Irak (sebagian wilayah), Mesir (Sebagian Semenanjung Sinai), Arab Saudi (Sebagian wilayah utara), dan Turki (sebagian kecil wilayah).

Bahkan ada perluasan klaim yang mencakup Sudan, sebagaimana diisyaratkan oleh peta “Timur Tengah baru” yang ditampilkan Netanyahu .

Respon Negara-Negara Arab: Kecaman Tanpa Tindakan?

Publikasi peta ini memicu gelombang kecaman dari negara-negara Arab, di antaranya:

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

  • Yordania: Mengecam “dengan keras” sebagai provokasi dan upaya menghalangi pendirian negara Palestina.
  • Arab Saudi: Menyebut klaim ini “ekstremis” dan “pelanggaran terang-terangan” terhadap hukum internasional.
  • Qatar: Menyebutnya pelanggaran norma internasional dan menyerukan tekanan global.
  • UEA: Mengecam sebagai “perpanjangan okupasi”.
  • Palestina: Nabil Abu Rudeineh menyebutnya pelanggaran terhadap hukum internasional dan menyerukan tindakan darurat.
  • Hamas: Menolak aneksasi dan menyerukan respons bersatu dari pemerintah Arab dan Muslim.

Normalisasi: Jalan Menuju Perdamaian atau Jebakan Ekspansi?

Pola yang jelas terlihat: Israel menawarkan “perdamaian” sebagai imbalan pengakuan. Mesir menerima pada 1979 (Perjanjian Camp David), Yordania pada 1994. Lalu giliran Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, dan Sudan tahun 2020.

Tapi apakah normalisasi adalah jalan menuju perdamaian, atau jalan bagi Israel untuk melegitimasi ekspansinya?

Dr. Muslim Imran, Executive Director of Asia and Middle East Center for Research and Dialogue (AMEC), menegaskan bahwa tidak ada yang namanya “Israel Raya” dalam sejarah kuno. Suku-suku keturunan Israel hidup di wilayah Palestina bersama suku-suku lain. Ekspansi ini bukan untuk membangun peninggalan sejarah, tetapi untuk melanjutkan penjajahan.

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Lebih jauh, laporan dari Mida (platform berita Israel) dan Gatestone Institute memperingatkan tentang pembentukan “lingkaran Sunni” yang dipimpin Turki dan Mesir sebagai respons terhadap ambisi Zionis. Kerja sama militer Turki-Mesir senilai $350 juta, termasuk produksi senjata bersama dan latihan militer, menunjukkan bahwa negara-negara Arab mulai merespons ancaman ini secara serius.

Teori Heartland: Mengapa Palestina Begitu Strategis?

Mengapa “Israel” atas dukungan Amerika Serikatd an negara sekutu menduduki dan menjajah Palestina? Jawabannya terletak pada Heartland Theory, yang dikemukakan oleh Sir Halford Mackinder pada 1904.

Teori ini menyatakan bahwa siapa yang menguasai Eropa Timur akan menguasai Heartland. Siapa yang menguasai Heartland akan menguasai World Island. Siapa yang menguasai World Island akan menguasai dunia.

Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa

Palestina adalah jantung dari Heartland, terletak di persimpangan tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa. Inilah mengapa Zionisme dan AS begitu mati-matian mempertahankan kendali atas kawasan ini. Inilah mengapa Greater Israel bukan sekadar mimpi, ini adalah proyek geopolitik global.

Teori ini kemudian dipopulerkan oleh Karl Haushofer, yang berpengaruh pada pemikiran geopolitik Nazi Jerman. Hari ini, banyak analis melihat bahwa AS menggunakan Israel sebagai “buffer state” untuk menguasai kawasan Timur Tengah dan sumber dayanya.

Tantangan dan Peluang bagi Palestina

Meskipun ancaman Greater Israel nyata, ada faktor-faktor yang dapat menghambatnya:

Baca Juga: Rekam Jejak pada Penjajah Israel: Ketika Panggung Borobudur dan Jakarta Dipertaruhkan demi Bocelli

  1. Solidaritas Regional yang Meningkat: Aliansi Turki-Mesir, yang digambarkan sebagai “lingkaran Sunni” yang mengelilingi Israel, adalah perkembangan baru yang signifikan . Mesir juga mengendalikan Terusan Suez, yang vital bagi kepentingan Israel.
  2. Penolakan Publik yang Masif: Demonstrasi pro-Palestina di seluruh dunia terus menggerakkan opini publik. Di Eropa saja, lebih dari 45.000 demonstrasi tercatat.
  3. Tekanan Hukum: Gugatan genosida di ICJ dan surat perintah ICC terhadap Netanyahu membebani Israel secara diplomatik.
  4. Gerakan Boikot: BDS telah menekan ekonomi Israel secara signifikan. Pada 2025, 84% industrialis Israel kehilangan kontrak di Uni Eropa.
  5. Perubahan Opini Publik Global: “Telah terjadi pergeseran di sebagian besar opini publik dunia, yang mulai menemukan sifat barbar entitas Zionis ini”.

Jalan Masih Panjang

Ambisi Greater Israel bukanlah mimpi pinggiran. Ini adalah ideologi yang menggerakkan kebijakan Zionis sejak 1948. Dari pernyataan Herzl hingga peta Netanyahu, dari ekspansi 1967 hingga serangan ke Lebanon. Semua adalah bagian dari satu narasi besar: ekspansi tanpa batas.

Namun perlawanan juga nyata. Rakyat Palestina telah bertahan 77 tahun. Negara-negara Arab mulai bersatu. Opini publik global bergeser. Dan kita, umat Islam di seluruh dunia, memiliki peran penting dalam perjuangan ini.

Jangan biarkan mimpi Zionis menjadi kenyataan. []

Baca Juga: Muhammad adalah Nama Mulia

Penulis, Ali Farkhan Tsani, adalah Duta Al-Quds Internasional dan Redaktur Senior MINA News.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Tiga Tahun Thufan Al-Aqsa: Gaza Bertahan, Perlawanan Berlanjut, Solidaritas Dunia Berpihak

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia