Jakarta, MINA — Ratusan jamaah memenuhi Lapangan Stadion Rawa Badak, Tanjung Priok, Rabu pagi (27/5), saat gema takbir Idul Adha 1446 H masih menggantung di udara Jakarta Utara. Di mimbar itulah KH Abul Hidayat Saerodji, Pembina Yayasan Mi’raj News Agency, membuka ceramahnya dengan pertanyaan yang langsung menghantam: “Kita hidup di zaman paling cerdas dalam sejarah. Tapi mengapa kejahatan semakin canggih dan ketimpangan semakin dalam?”
KH Abul Hidayat menegaskan bahwa kecerdasan yang berkembang pesat hari ini tidak otomatis membawa manusia ke kebenaran — justru sebaliknya, bila berjalan tanpa hati nurani, kecerdasan melahirkan kejahatan kerah putih: korupsi yang terstruktur, manipulasi yang tersembunyi di balik laporan rapi, eksploitasi sistemis yang dikemas dalam bahasa regulasi. Ketimpangan sosial yang melebar bukan karena bumi kekurangan sumber daya, melainkan karena ada tangan-tangan cerdas yang sudah tidak lagi bisa membedakan hak dari rampasan.
“Allah tidak pernah menjadikan kecerdasan sebagai ukuran kesuksesan,” tegasnya. Itulah mengapa Allah menurunkan Al-Qur’an — bukan sekadar kitab ilmu, tetapi jawaban atas pertanyaan paling mendasar tentang bagaimana manusia seharusnya hidup. Jalan menuju surga ada di sana, tetapi dibayang-bayangi kesulitan; hanya orang beriman yang sanggup menelusurinya. Sebaliknya, jalan menuju neraka dihiasi syahwat dan hawa nafsu — tampak mudah, terasa bebas, tetapi berujung kehancuran.
“Haji mengajarkan bahwa Ibrahim tidak berhenti berjuang meski diuji api, meski harus meninggalkan keluarga di lembah yang sunyi. Maka kita pun tidak boleh berhenti.”
Baca Juga: Khutbah Idul Adha Ponpes Al Fatah Cileungsi Serukan Pembebasan Masjidil Aqsa
KH Abul Hidayat lalu membawa jamaah ke kisah Nabi Ibrahim AS — cikal bakal seluruh prosesi haji. Ibrahim memulai dakwah dari lingkaran terkecil: keluarga dan lingkungannya. Perjuangannya memuncak saat berhadapan dengan Namrudz, raja paling lalim di zamannya yang mengklaim diri sebagai tuhan. Dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, Ibrahim tidak goyah — dan Allah memerintahkan api itu menjadi dingin dan selamat baginya. Perjalanan dakwah Ibrahim berlanjut hingga ke Palestina, meninggalkan jejak abadi di Yerusalem lewat Masjid Ibrahimiah yang masih berdiri hingga hari ini.
Babak paling menggetarkan dalam ceramah itu adalah kisah Siti Hajar. Allah SWT memerintahkan Ibrahim meninggalkan istri dan bayinya, Ismail, di lembah sunyi yang tandus dan tak berpenghuni. Yang mengejutkan bukan keberanian Ibrahim — tetapi keberanian Siti Hajar. Saat mengetahui ini adalah perintah Allah, ia tidak memohon agar Ibrahim membatalkannya. Dengan muraqabah — kesadaran penuh akan kehadiran Allah — ia justru meyakinkan Ibrahim agar pergi. “Allah tidak akan menyia-nyiakan kami,” demikian keyakinannya. Ibrahim pun pergi, menoleh sambil memanjatkan doa yang monumental, diabadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 126 — doa memohon agar lembah itu menjadi negeri aman, hati manusia tergerak ke sana, dan rezeki mengalir bagi penghuninya.
“Fenomena haji hari ini adalah bukti doa Ibrahim terkabul,” kata KH Abul Hidayat. Jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia setiap tahun berbondong menuju Makkah — mengantri bertahun-tahun, menabung puluhan tahun — demi memenuhi satu panggilan. Kerinduan kepada Makkah yang tidak bisa dijelaskan logika semata adalah tarikan spiritual yang Allah tanamkan sebagai jawaban atas doa seorang hamba di lembah kosong ribuan tahun silam.
Prosesi haji sendiri, lanjut beliau, adalah sekolah karakter paling intensif di muka bumi. Seorang haji meninggalkan jabatan, harta, dan identitas sosialnya, lalu mengenakan dua lembar kain ihram yang sama persis dengan jutaan jamaah lainnya. Tidak ada merek, tidak ada tanda pangkat. Cermin egaliterisme yang paling nyata: di bawah ihram, presiden dan petani tampak sama. Wukuf di Padang Arafah memperdalam pelajaran itu — jutaan orang berdiri tanpa naungan istimewa, tanpa koneksi yang bisa menolong. “Ini gambaran Mahsyar,” tegasnya. “Di sana tidak ada pertolongan selain pertolongan Allah melalui amal shaleh.”
Baca Juga: Khutbah Idul Adha Puitis: Belajar dari Pengorbanan Keluarga Nabi Ibrahim
KH Abul Hidayat menutup ceramahnya dengan seruan yang melampaui ritual. Sami’na wa atha’na — mendengar dan menaati — bukan kalimat yang selesai setelah berbaiat. Ia adalah cara hidup yang harus terus bergerak dalam dakwah, silaturahmi, dan keberpihakan kepada kebenaran. Termasuk, dengan tegas beliau menyebut, perjuangan Palestina — tanah yang pernah diinjak Ibrahim, yang hari ini diperjuangkan dengan darah oleh saudara-saudara sesama Muslim. “Kita harus memposisikan diri di pihak al-haq, dan tidak membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa suara.” []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Khutbah Idul Adha: Napak Tilas Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim
















Mina Indonesia
Mina Arabic