Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Hijrah Rasulullah SAW Menjadi Inspirasi Muslim Amerika

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:15 WIB

30 Views ㅤ

Komunitas Muslim di AS (foto: IG)

Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki, ulama Indonesia yang tinggal di News York, Amerika Serikat.

PADA hari-hari ini, umat Islam di seluruh dunia kembali mengenang kelahiran manusia luar biasa, pembawa lentera kehidupan dari Sang Pencipta langit dan bumi. Sosok yang pada dirinya terpatri kasih sayang dan kemanusiaan hakiki. Beliau adalah Muhammad SAW, nabi dan rasul terakhir, penghulu seluruh manusia hingga akhir zaman.

Tentu saja beliau tidak sekadar untuk dikenang, apalagi hanya pada bulan tertentu seperti Rabi’ul Awal saat ini. Beliau hadir untuk diimani, ditaati, dicintai, dan dijadikan suri teladan dalam kehidupan.

Dalam catatan ini saya ingin menyoroti satu aspek dari kehidupan Rasulullah SAW yang memiliki relevansi kuat dengan kehidupan komunitas Muslim imigran di Amerika Serikat. Tentu saya tidak bermaksud menyamakan keduanya, karena keduanya bagaikan langit dan bumi.

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Hijrah beliau ke Madinah adalah perintah dari langit. Sementara imigrasi komunitas Muslim ke Amerika pada umumnya didorong oleh faktor-faktor duniawi yang bersifat sementara. Namun di balik perbedaan itu, terdapat banyak pelajaran yang bisa menjadi pegangan bagi komunitas Muslim di Amerika.

Rasulullah SAW Adalah Karunia

Seringkali kita menyikapi keberadaan Rasulullah SAW secara biasa-biasa saja, seolah-olah sesuatu yang “taken for granted”. Seolah-olah mengimani, menaati, dan mencintai beliau adalah sesuatu yang otomatis demikian adanya.

Tidak banyak yang menyadari bahwa kehadiran Muhammad SAW sebagai nabi dan utusan Allah adalah karunia dan nikmat Allah yang luar biasa. Beliau hadir di tengah kehidupan manusia bagaikan mutiara di antara tumpukan batu, membawa cahaya dan nilai kehidupan.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Kita menyaksikan manusia hari ini, di tengah kemajuan sains dan teknologi, justru hidup dalam kebingungan yang mendalam. Mereka tampak tersenyum dan gembira, tampak pintar dan cendekia, bahkan tampak kaya dan berpunya. Namun semua itu hanyalah bungkus kegembiraan sesaat yang menutupi kegelapan, jeritan, dan kebingungan batin. Banyak manusia hidup dalam kepura-puraan dan kosmetika kehidupan.

Di tengah kebingungan itu, pertanyaan mendasar seperti siapakah aku, bagaimana aku hidup, untuk apa aku hidup, dan ke mana aku akan pergi, terus dicari jawabannya. Dan dunia modern yang materialistis telah terbukti gagal memberikan jawaban.

Di sinilah Baginda Rasulullah SAW, sebagai utusan Pencipta langit dan bumi, hadir memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar itu. Karena itulah beliau disebut sebagai karunia dari Allah bagi manusia, sebagaimana firman-Nya dalam Ali Imran ayat 164.

Hijrah Rasulullah ke Madinah dan Migrasi Muslim Amerika

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Kali ini saya ingin menyoroti hijrah Rasulullah pada tahun ke-13 kenabian. Hijrah merupakan salah satu fase terpenting dalam perjalanan dakwah beliau, sejak diangkat menjadi nabi dengan turunnya wahyu pertama, Isra dan Mi’raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, hijrah ke Madinah, dan akhirnya Fathu Makkah.

Jika Isra Mi’raj adalah simbol penguatan keislaman secara ruhiyah dan individual, maka hijrah adalah simbol kebangkitan dakwah secara kolektif dan keumatan.

Sudah pasti hijrah Rasulullah dan migrasi, yang dalam bahasa Arab juga disebut hijrah, komunitas Muslim Amerika tidaklah sama. Hijrah Rasulullah penuh dengan makna dan kesucian karena merupakan perintah suci dari Allah SWT.

Sementara migrasi komunitas Muslim pada umumnya karena dorongan untuk memperbaiki kehidupan dunia. Karena perbedaan mendasar itulah, saya kurang nyaman memakai kata hijrah untuk migrasi Muslim di Amerika.

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Namun demikian, ada beberapa sisi yang relevan untuk dikaitkan:

Pertama, Rasulullah SAW melakukan hijrah karena dipaksa oleh situasi penolakan kafir Quraisy yang sudah tidak bisa ditoleransi. Pada tingkatan tertentu, banyak imigran Muslim yang datang ke Amerika juga karena dipaksa oleh situasi, baik situasi politik maupun ekonomi di negara asal mereka.

Kedua, Rasulullah SAW mencintai negeri asalnya, Makkah, namun beliau menerima bahwa tempat barunya, Madinah, adalah rumah barunya yang juga harus dicintai dan dibangun. Demikian pula komunitas Muslim Amerika; mereka mencintai negara asalnya, tetapi juga memiliki komitmen untuk mencintai dan membangun rumah barunya, Amerika.

Ketiga, Rasulullah SAW berpindah ke sebuah negeri yang penuh dengan kejahiliyahan. Madinah sebelum Islam dipenuhi kekerasan, kebodohan, kezaliman, dan rasisme. Imigran Muslim di Amerika juga datang ke negara yang tidak bebas dari kejahiliyahan. Salah satu buktinya, hampir semua perang di dunia modern melibatkan Amerika. Maka Rasulullah hadir untuk membawa perubahan dan perbaikan, sebagaimana seharusnya komunitas Muslim Amerika juga hadir membawa perubahan.

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

Keempat, Rasulullah SAW pindah ke Madinah karena kota itu telah dipersiapkan menjadi kota yang membuka peluang (opportunity) bagi beliau, yaitu peluang dakwah dan agama. Bagi komunitas Muslim imigran di Amerika, selain peluang duniawi seperti ekonomi, politik, dan pendidikan, Amerika juga merupakan negara yang memberikan peluang luas untuk beragama dan berdakwah.

Kelima, Rasulullah SAW hadir di Madinah, sebuah kota dengan penduduk yang sangat beragam: Anshar, Muhajirin, Aus, Khazraj, dan suku-suku lainnya. Bahkan beragam pula agamanya: Islam, Yahudi, Nasrani, dan yang masih menganut kesyirikan. Komunitas Muslim imigran di Amerika berada dalam situasi yang sama, hidup di tengah keberagaman latar belakang negara, ras, etnis, dan agama.

Keenam, Rasulullah SAW menghadapi resistensi yang sangat besar. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, beliau harus menghadapi lebih dari 27 peperangan. Komunitas Muslim imigran di Amerika juga menghadapi resistensi yang tinggi. Islamofobia dan kebencian terhadap Islam dan umat Islam justru semakin meninggi seiring dengan perkembangan Islam itu sendiri. Terpilihnya Zohran Mamdani pun tidak menghentikan Islamofobia. Sebaliknya, keterpilihannya seolah menyiram bensin ke dalam kobaran api kebencian yang telah lama ada.

Ketujuh, Rasulullah SAW terus melangkah dalam perjuangan membawa perubahan dan perbaikan di bumi Madinah, hingga akhirnya dikaruniai kemenangan yang nyata (Fathun Mubina). Komunitas Muslim imigran di Amerika juga harus demikian, terus melangkah dalam perjuangan menghadirkan perubahan dan perbaikan di negeri ini, hingga datang masanya “fathun mubina” itu. Tanda-tanda itu mulai tampak dalam 2-3 tahun terakhir, di mana politisi-politisi Muslim atau setidaknya yang simpatisan terhadap komunitas Muslim mulai memenangkan kompetisi politik.

Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika

Kesimpulannya, hijrah Rasulullah ke Madinah dan migrasi komunitas Muslim ke Amerika tidak sama. Hanya saja dalam perjalanannya, keduanya memiliki banyak relevansi dan kesamaan dalam beberapa hal.

Garis kesamaan yang paling mencolok adalah keduanya memiliki harapan dan optimisme. Jika Rasulullah dikaruniai “Fathun Mubina” (kemenangan nyata) dengan “Nashrun” (pertolongan Allah) di Madinah, maka komunitas Muslim Amerika pun insyaAllah akan dikaruniai hal yang sama dan semua tanda-tanda itu sudah mulai tampak. InsyaAllah! []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Dunia Islam
Kolom
Dunia Islam
Tausiyah
Hikmah