ADA PERANG yang berlangsung dengan senjata. Ada pula perang yang berlangsung dengan kata-kata.
Di zaman media sosial, sebuah negara tidak hanya berusaha mempertahankan wilayah, keamanan, dan kepentingannya melalui kekuatan militer dan diplomasi.
Ia juga berusaha membangun citra: bagaimana dirinya dilihat oleh dunia, bagaimana sejarahnya dipahami, dan bagaimana kebijakannya diterima oleh masyarakat internasional.
Di sinilah kita mengenal istilah public diplomacy, soft power, strategic communication, dan dalam konteks Israel, istilah yang cukup sering muncul: hasbara.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Secara sederhana, hasbara adalah istilah Ibrani yang berarti “menjelaskan”. Dalam penggunaannya, istilah tersebut berkaitan dengan upaya Israel mengomunikasikan posisi dan perspektifnya kepada publik internasional.
Perdebatan muncul ketika istilah itu digunakan untuk menggambarkan komunikasi yang dianggap sebagai pembentukan citra atau propaganda. Karena itu, kita perlu hati-hati membedakan antara komunikasi resmi pemerintah, diplomasi publik, aktivitas organisasi, dan pendapat individu.
Pertanyaannya kemudian: bagaimana narasi tentang Israel hadir di Indonesia? Jawabannya tidak sesederhana ada atau tidak ada.
Sebab narasi dapat hadir melalui banyak pintu: media, media sosial, video pendek, kanal berbahasa Indonesia, seminar, perjalanan, budaya, olahraga, teknologi, pariwisata, perdagangan, bahkan percakapan sehari-hari.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Dan di sinilah kita perlu belajar membaca.
Indonesia dan Pentingnya Ruang Publik
Indonesia bukan negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sikap Indonesia terhadap Palestina telah menjadi bagian dari politik luar negeri selama puluhan tahun. Dalam kajian Kementerian Luar Negeri, Indonesia disebut tetap konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Namun, tidak adanya hubungan diplomatik ternyata tidak berarti tidak ada hubungan sama sekali.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Perdagangan tetap berlangsung. Informasi tetap beredar. Orang Indonesia tetap dapat berkunjung ke berbagai negara dan memperoleh pengalaman mengenai Israel. Konten mengenai Israel tetap dapat ditonton melalui internet.
Dan karena masyarakat Indonesia sangat besar serta memiliki perhatian kuat terhadap Palestina, ruang publik Indonesia menjadi penting dalam pertarungan persepsi.
Tetapi di sini kita perlu menghindari satu kesimpulan yang terlalu cepat: tidak setiap konten positif tentang Israel otomatis merupakan propaganda Israel.
Sebuah video wisata bisa saja memang hanya video wisata. Seorang atlet bisa saja bertanding karena kewajiban profesional. Seorang akademisi bisa saja menyampaikan pandangan pribadi. Seorang warga Yahudi bisa saja berbicara tentang identitas agamanya tanpa mewakili pemerintah Israel.
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Karena itu, pertanyaan yang lebih cerdas bukan sekadar: “Apakah ini propaganda?”
Melainkan: “Siapa yang membuatnya, untuk siapa, pesan apa yang dibangun, fakta apa yang ditampilkan, dan konteks apa yang mungkin tidak terlihat?”
Ketika Israel Berbicara dalam Bahasa Indonesia
Perkembangan media digital membuat batas negara semakin tipis.
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
Dulu sebuah negara harus menggunakan kantor berita, surat kabar, radio, televisi, atau jaringan diplomatik untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat negara lain.
Sekarang cukup dengan sebuah kanal YouTube, akun Instagram, TikTok, podcast, atau video pendek. Bahkan bahasa pun bukan lagi penghalang.
Sejumlah penelitian akademik telah melihat bagaimana konten mengenai Israel dan Yerusalem diproduksi dalam bahasa Indonesia dan bagaimana audiens Indonesia menerimanya. Salah satu penelitian, misalnya, menganalisis representasi Yerusalem dalam konten Nas Daily Bahasa Indonesia dan respons audiens Indonesia terhadapnya.
Ini penting. Sebab ketika sebuah pesan disampaikan dalam bahasa lokal, dengan gaya komunikasi lokal, dan menggunakan platform yang biasa digunakan masyarakat sehari-hari, jarak psikologis menjadi semakin dekat.
Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak
Israel bukan lagi sekadar nama sebuah negara yang jauh di Timur Tengah. Ia hadir di layar telepon. Hadir dalam video satu menit. Hadir dalam potongan wawancara. Hadir dalam cerita tentang teknologi.
Hadir dalam wisata. Hadir dalam olahraga. Hadir dalam perdebatan di kolom komentar. Di situlah pertarungan persepsi berlangsung.
Hasbara: Propaganda atau Diplomasi Publik?
Istilah hasbara sering diterjemahkan secara sederhana sebagai propaganda Israel. Tetapi penyamaan itu perlu diperlakukan secara hati-hati.
Baca Juga: Nahkoda Baru PBNU: Akankah Gus Kikin dan Cak Imin Bersatu?
Sebab dalam praktik komunikasi politik, propaganda, diplomasi publik, hubungan masyarakat, kampanye informasi, dan komunikasi strategis memiliki irisan, tetapi tidak selalu identik.
Israel memiliki perangkat diplomasi publiknya sendiri. Kedutaan Israel di Singapura, misalnya, secara terbuka mencantumkan departemen Media and Public Affairs yang menangani pernyataan publik, media sosial kedutaan, dan komunikasi dengan media serta masyarakat.
Di sisi ekonomi, kedutaan yang sama memiliki departemen yang membantu perusahaan Israel mencari peluang perdagangan dan investasi di Singapura serta kawasan sekitarnya.
Artinya, komunikasi kepada publik memang merupakan bagian nyata dari aktivitas diplomasi negara. Tetapi tidak semua orang yang berbicara positif mengenai Israel berarti bekerja untuk pemerintah Israel.
Baca Juga: Pakta Mekkah Langkah Awal Menuju Kemandirian Pertahanan Timur Tengah
Ini penting agar kita tidak jatuh pada tuduhan yang tidak dapat dibuktikan. Yang perlu kita lakukan adalah memetakan ekosistemnya. Mana yang merupakan komunikasi resmi, aktivitas organisasi, aktivisme individu?
Mana yang merupakan opini? Dan mana yang benar-benar mempunyai hubungan kelembagaan dengan pemerintah Israel?
Dengan cara itu, kita menjadi lebih kritis sekaligus lebih adil.
Framing: Ketika Kata-Kata Mengubah Cara Kita Melihat Peristiwa
Baca Juga: Dunia Merindukan Kepemimpinan Muhammad SAW
Pertarungan narasi sering kali bukan mengenai apakah sebuah fakta benar atau salah. Kadang faktanya sama. Yang berbeda adalah cara fakta itu disusun.
Ambil contoh sederhana. Satu pihak menyebut: “Israel melakukan operasi militer.” Pihak lain mengatakan: “Israel melakukan serangan.” Pihak lain lagi mengatakan: “Israel mempertahankan diri.”
Peristiwa yang sama dapat menghasilkan persepsi berbeda karena pilihan kata berbeda.
Dalam palestina/">isu Palestina, kita berhadapan dengan banyak istilah: conflict, war, occupation, security, terrorism, resistance, self-defense, settlement, displacement, dan sebagainya.
Baca Juga: Ketika Hijrah Rasulullah SAW Menjadi Inspirasi Muslim Amerika
Jika persoalan Israel-Palestina hanya dipahami sebagai konflik antara dua pihak yang sama-sama bertikai, pembaca bisa kehilangan konteks yang lebih panjang: sejarah Nakbah, pendudukan, permukiman, status Yerusalem, blokade Gaza, hak menentukan nasib sendiri, keamanan Israel, serangan terhadap warga sipil, dan berbagai persoalan hukum internasional.
Karena itu, memahami Palestina membutuhkan konteks, bukan hanya potongan berita.
Tidak Ada Hubungan Diplomatik, Tetapi Perdagangan Tetap Ada
Ada fakta menarik yang sering luput dari perhatian. Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik, tetapi perdagangan tetap berlangsung.
Data BPS menunjukkan bahwa pada Januari–Oktober 2023 Indonesia mengekspor sekitar US$140,57 juta ke Israel. Komoditas utamanya antara lain lemak dan minyak hewani/nabati, alas kaki, mesin/peralatan elektrik, serat stapel buatan, serta sisa industri makanan. Pada periode yang sama, impor Indonesia dari Israel sekitar US$16,97 juta.
Data perdagangan yang lebih baru juga masih mencatat transaksi tersebut. Database UN Comtrade, misalnya, mencatat impor Indonesia dari Israel sekitar US$39,4 juta pada 2025, termasuk peralatan elektronik, produk farmasi, mesin, dan peralatan medis.
Bagaimana mungkin? Karena hubungan diplomatik dan hubungan perdagangan adalah dua hal berbeda.
Perdagangan dapat berlangsung melalui perusahaan, distributor, agen, dan jaringan perdagangan internasional.
Dalam sejumlah kajian juga disebutkan penggunaan negara ketiga sebagai perantara. Singapura sering muncul dalam pembahasan ini. Pemerintah Israel sendiri secara terbuka menyebut Singapura sebagai hub for Israeli business and regional trade, dan departemen ekonominya menyatakan membantu perusahaan Israel mencari peluang di Singapura serta kawasan sekitarnya.
Namun kita juga perlu hati-hati. Tidak semua barang yang masuk Indonesia melalui Singapura adalah barang Israel.
Singapura memang merupakan salah satu pusat perdagangan dan re-export regional. Indonesia sendiri mencatat Singapura sebagai salah satu mitra dagang dan investor terbesarnya.
Maka, daripada mengatakan semua perdagangan Israel-Indonesia “disamarkan melalui Singapura”, lebih tepat mengatakan: sebagian hubungan perdagangan dapat berlangsung melalui jaringan pihak ketiga, dan Singapura merupakan salah satu hub regional yang penting.
Ini jauh lebih kuat secara jurnalistik karena berdasarkan data, bukan dugaan.
Olahraga: Ketika Lapangan Pertandingan Menjadi Ruang Diplomasi
Olahraga sering dianggap netral. Namun dalam hubungan internasional, olahraga tidak selalu bebas dari politik.
Bendera dikibarkan. Lagu kebangsaan dimainkan. Atlet mengenakan identitas negaranya. Pejabat bertemu. Media memberitakan. Masyarakat menyaksikan.
Semua itu dapat menghasilkan efek diplomatik dan simbolik.
Tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa setiap pertandingan dengan atlet Israel otomatis berarti dukungan politik terhadap Israel.
Seorang atlet bisa saja bertanding karena aturan federasi. Sebuah negara bisa menjadi tuan rumah tanpa menyetujui seluruh kebijakan negara peserta.
Sebaliknya, keputusan untuk menerima atau menolak partisipasi juga dapat mengandung pesan politik.
Kasus Indonesia menunjukkan kompleksitas tersebut. Pada Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta, pemerintah Indonesia dan pihak olahraga nasional mengambil sikap terkait keikutsertaan atlet Israel, yang kemudian menimbulkan respons dari organisasi olahraga internasional.
Jadi olahraga memang dapat menjadi ruang soft power dan diplomasi, tetapi maknanya harus dilihat dalam konteks masing-masing peristiwa.
Pariwisata: Menjual Tempat, Sekaligus Menjual Cerita
Pariwisata juga bukan sekadar soal hotel dan tiket pesawat. Ketika seseorang berkunjung ke sebuah negara, ia melihat pemandangan, mendengar cerita sejarah, mencicipi makanan, mengunjungi tempat ibadah, berbicara dengan masyarakat, lalu membawa pulang pengalaman.
Pengalaman itu membentuk persepsi. Israel memiliki modal yang sangat besar dalam hal ini karena wilayah Palestina/Israel dan sekitarnya memiliki situs yang sangat penting bagi sejarah agama-agama Abrahamik.
Yerusalem, misalnya, bukan sekadar kota wisata. Ia adalah kota yang memiliki lapisan sejarah, agama, politik, dan identitas yang sangat kompleks.
Maka pertanyaan kritisnya bukan: “Bolehkah orang berwisata?” Tentu saja boleh. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Sejarah seperti apa yang diceritakan kepada wisatawan?”
Ketika sebuah tempat bersejarah dipromosikan, siapa yang disebut? Siapa yang tidak disebut? Narasi siapa yang menjadi pusat? Dan bagaimana sejarah Palestina dijelaskan?
Inilah yang membuat pariwisata dapat menjadi bagian dari soft power.
Bukan berarti setiap brosur wisata adalah propaganda.
Tetapi cara sebuah negara menceritakan dirinya kepada wisatawan memang dapat membentuk citra negara tersebut.
Bagaimana Kita Menyikapinya?
Ada lima pertanyaan sederhana yang bisa kita gunakan setiap kali menerima konten mengenai Israel-Palestina.
Pertama: Siapa yang berbicara? Apakah pemerintah, media, aktivis, perusahaan, influencer, akademisi, atau individu biasa?
Kedua: Apa sumber informasinya? Apakah sumber primer? Apakah ada dokumen? Apakah media lain mengonfirmasi?
Ketiga: Apa konteksnya? Jangan mengambil video 30 detik untuk menjelaskan konflik yang berlangsung puluhan tahun.
Keempat: Bahasa apa yang digunakan? Perhatikan kata-kata yang dipilih. Karena bahasa dapat membentuk cara kita melihat realitas.
Kelima: Apa yang tidak ditampilkan? Ini pertanyaan yang sering dilupakan. Kadang bukan kebohongan yang menjadi masalah. Tetapi fakta yang benar namun hanya sebagian.
Sebuah foto bisa benar. Sebuah video bisa asli. Sebuah pernyataan bisa benar-benar pernah diucapkan. Tetapi kalau konteksnya dipotong, kebenaran yang parsial dapat menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.
Melawan Propaganda dengan Kebenaran
Pada akhirnya, masyarakat Indonesia tidak perlu takut terhadap informasi. Justru kita harus semakin banyak membaca. Semakin banyak membandingkan. Semakin rajin memeriksa sumber. Dan semakin dewasa dalam berdiskusi.
Jika kita mendukung Palestina, jangan sampai dukungan itu membuat kita mudah membagikan informasi yang belum terverifikasi.
Jika kita mengkritik Israel, jangan sampai kritik itu berubah menjadi kebencian terhadap orang Yahudi sebagai kelompok agama atau etnis.
Dan jika ada orang yang menyampaikan pandangan berbeda mengenai Israel, jangan buru-buru menyerang pribadinya.
Bantah argumennya dengan argumen. Periksa datanya dengan data. Jawab narasinya dengan fakta dan konteks.
Sebab perjuangan membela Palestina tidak membutuhkan kebohongan. Palestina memiliki sejarah, manusia, hak, luka, dan suara.
Tugas kita adalah memastikan suara itu tidak tenggelam dalam derasnya arus informasi.
Pada zaman ketika perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di layar telepon kita, literasi informasi adalah bagian dari ikhtiar menjaga kebenaran.
Jangan mudah percaya. Tetapi jangan pula mudah menuduh. Di situlah kedewasaan kita diuji.
Karena dalam pertarungan narasi, kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil membuat orang lain membenci.
Melainkan ketika kita berhasil membuat masyarakat berpikir lebih jernih, memeriksa lebih teliti, dan berpihak kepada kebenaran dengan cara yang beradab. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic