Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Menjadi Muharraran, Pembela Masjidil Aqsha

Redaksi Editor : widi kusnadi - 28 menit yang lalu

28 menit yang lalu

3 Views ㅤ

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat kali ini berjudul Menjadi Muharraran, Pembela Masjidil Aqsha.

Ada pelajaran yang sangat mendalam dari kisah ibunda Maryam. Sejak anaknya masih berada dalam kandungan, ia telah menyiapkan orientasi kehidupan anak tersebut untuk mengabdi kepada Allah dan berkhidmat di Baitul Maqdis.

Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada Allah membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan visi kehidupan yang jelas. Seorang Muslim tidak cukup hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap agama Allah dan tempat-tempat suci-Nya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Niat pengabdian yang ditanamkan oleh ibunda Maryam tersebut kemudian tergambar dalam kehidupan Nabi Isa ‘Alaihis salam putranya.

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji hanyalah milik Allah , Rabb semesta alam, yang telah menganugerahkan nikmat iman dan Islam, serta membimbing langkah kita menuju jalan kebenaran dan keselamatan.

Shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat yang mulia, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah dan perjuangan beliau hingga akhir zaman.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah  dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan tidak hanya diwujudkan dalam kesalehan pribadi, tetapi juga harus tercermin dalam kepedulian dan tanggung jawab kita terhadap agama Allah, termasuk kepedulian terhadap Masjidil Aqsha dan perjuangan pembebasan Palestina.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran [3] ayat 35, Allah  berfirman:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ )آلِ عِمْرَانَ: ٣٥

“(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada di dalam kandunganku agar menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Ayat ini mengisahkan doa dan nazar seorang perempuan salehah, Hannah, istri Imran, yang kelak menjadi ibu dari Maryam, ibunda Nabi Isa ‘Alaihis salam. Ketika mengandung, ia bernazar kepada Allah  agar anak yang dikandungnya kelak menjadi pribadi yang mengabdikan dirinya kepada Allah  dan berkhidmat di Baitul Maqdis.

Menurut Ibnu Katsir, مُحَرَّرًا (muharraran) bermakna anak yang dikhususkan untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah serta berkhidmat di Baitul Maqdis.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata (muharraran) berasal dari makna merdeka atau terbebas dari perbudakan. Maknanya adalah menjadikan anak tersebut murni untuk Allah dan dikhususkan untuk berkhidmat kepada-Nya.

Dengan demikian, muharraran bukan hanya berarti merdeka secara fisik, tetapi juga memiliki makna pembebasan orientasi hidup dari kepentingan pribadi dan kecintaan dunia yang melalaikan, kemudian mengarahkannya untuk mengabdi kepada Allah .

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Ada pelajaran yang sangat mendalam dari kisah ibunda Maryam. Sejak anaknya masih berada dalam kandungan, ia telah menyiapkan orientasi kehidupan anak tersebut untuk mengabdi kepada Allah dan berkhidmat di Baitul Maqdis.

Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada Allah membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan visi kehidupan yang jelas. Seorang Muslim tidak cukup hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap agama Allah dan tempat-tempat suci-Nya.

Niat pengabdian yang ditanamkan oleh ibunda Maryam tersebut kemudian tergambar dalam kehidupan Nabi Isa ‘Alaihis salam putranya. Pada rangkaian ayat sebagai berikut, Allah  berfirman:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗ اٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ ۝٣٠ وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُ ۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ ۝٣١ وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا ۝٣٢ وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا ۝٣٣ (مريم : ٣٣-٣٠)

“Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia (akan) memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang nabi. Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada dan memerintahkan kepadaku (untuk melaksanakan) salat serta (menunaikan) zakat sepanjang hayatku, dan berbakti kepada ibuku serta Dia tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan hidup (kembali). (QS. Maryam: 30-33)

Rangkaian ayat ini mengisyaratkan bahwa pribadi muharraran adalah:

  1. Melaksanakan Al-Kitab (berpegang teguh pada wahyu Allah).

Nabi Isa ‘Alaihis salam memperkenalkan dirinya sebagai hamba Allah yang menerima kitab dan tugas kenabian. Ini menunjukkan bahwa pribadi yang berpegang teguh pada wahyu tidak menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman hidup. Ia senantiasa menjadikan petunjuk Allah sebagai dasar berpikir, bersikap, dan berjuang.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini juga merupakan penegasan Nabi Isa ‘Alaihis salam tentang kedudukannya sebagai hamba dan utusan Allah, bukan Tuhan sebagaimana anggapan orang-orang Nasrani.

  1. Membawa keberkahan di mana pun berada.

Pribadi yang diberkahi adalah pribadi yang kehadirannya membawa manfaat dan kebaikan bagi orang lain. Ia memberikan pengaruh positif melalui ilmu, akhlak, dakwah, dan amal saleh. Ia juga senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

  1. Menegakkan shalat.

Shalat merupakan kewajiban yang harus dijaga sepanjang hayat. Pribadi yang mengabdikan diri kepada Allah  tidak boleh memisahkan perjuangan dan aktivitas kehidupannya dari ibadah. Shalat menjadi sumber kekuatan iman, keteguhan hati, dan kedisiplinan dalam menjalankan amanah.

Dalam upaya membela dan memperjuangkan pembebasan Baitul Maqdis, shalat menjadi sarana memohon pertolongan Allah , menguatkan kesabaran, dan meneguhkan pendirian. Karena itu, umat Islam harus menjaga shalat, khususnya shalat berjamaah shubuh, sebagai bagian dari pembentukan kekuatan umat.

  1. Menunaikan zakat.

Zakat menunjukkan kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab sosial. Harta yang kita miliki bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, karena di dalamnya terdapat hak orang-orang yang membutuhkan. Oleh sebab itu, seorang mukmin senantiasa menunaikan zakat, memperbanyak infak dan sedekah, serta membantu mereka yang membutuhkan. Inilah wujud kesalehan sosial yang harus tumbuh dalam diri seorang pembela agama Allah.

  1. Berbakti kepada orang tua.

Ayat ini menunjukkan bahwa kedudukan tinggi dalam pengabdian kepada Allah harus disertai akhlak mulia, termasuk berbakti kepada orang tua. Nabi Isa ‘Alaihis salam secara khusus menyebut ibunya, karena beliau lahir tanpa melalui seorang ayah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Pengabdian kepada Allah tidak boleh menjadikan seseorang mengabaikan hak orang tua dan keluarganya. Justru semakin kuat pengabdian seseorang kepada Allah , semakin baik pula akhlaknya kepada sesama, terutama kepada kedua orang tuanya.

  1. Tidak berlaku sombong dan berbuat celaka.

Kata jabbar menggambarkan orang yang sombong, sewenang-wenang, dan merasa berkuasa atas orang lain. Sementara syaqiyya menggambarkan orang yang celaka dan jauh dari kebaikan. Pribadi yang mengabdi kepada Allah harus rendah hati, tidak sombong, tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak menindas, dan tidak merasa lebih mulia daripada orang lain. Perjuangan harus dibangun di atas keikhlasan, kerendahan hati, persaudaraan, dan kerja sama.

  1. Mengharap keselamatan dari Allah.

Keselamatan tersebut terdapat pada tiga keadaan yaitu, saat dilahirkan, saat meninggal dunia, dan saat dibangkitkan pada hari kiamat. Dengan demikian, pribadi yang mengabdikan hidupnya kepada Allah  senantiasa membutuhkan perlindungan dan rahmat-Nya, sejak kehidupan di dunia hingga kehidupan akhirat. Sebagaimana Nabi Isa ‘Alaihis salam memohon keselamatan dari Allah dalam ketiga keadaan itu.

Dari kisah ibunda Maryam dan pernyataan Nabi Isa ‘Alaihis salam di atas, kita memahami bahwa pengabdian kepada Allah harus dimulai dengan niat yang tulus dan diwujudkan melalui kehidupan yang penuh ketaatan kepada Allah .

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda