Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agar Al-Qur’an Menjadi Sahabat Sejati Anak

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Senin, 12 Januari 2026 - 15:22 WIB

Senin, 12 Januari 2026 - 15:22 WIB

35 Views ㅤ

DI TENGAH hiruk-pikuk kemajuan zaman, teknologi yang kian canggih, dan tuntutan hidup yang semakin tinggi, lahirlah sebuah fenomena sosial yang sunyi namun dampaknya sangat dalam: fatherless generation.(Foto: ig)

DI TENGAH dunia yang semakin bising oleh gawai, layar, dan tuntutan prestasi, banyak anak tumbuh dengan hati yang cepat lelah dan jiwa yang mudah gelisah. Mereka pintar, cekatan, namun sering kehilangan pegangan. Di sinilah Al-Qur’an seharusnya hadir bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi sebagai sahabat sejati yang menenangkan, menuntun, dan menemani langkah hidup mereka sejak dini.

Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dihafal, apalagi diperlombakan semata. Ia diturunkan untuk dihidupkan. Ketika anak mengenal Al-Qur’an hanya sebagai tugas atau kewajiban yang menekan, maka yang tumbuh bukan cinta, melainkan jarak. Padahal persahabatan sejati selalu lahir dari rasa aman, nyaman, dan keteladanan.

Sahabat sejati adalah yang paling sering ditemui dalam suasana bahagia maupun sedih. Maka langkah pertama agar Al-Qur’an menjadi sahabat anak adalah menghadirkannya dalam momen-momen hangat di rumah. Bacaan Al-Qur’an yang terdengar lembut di pagi hari, tilawah bersama selepas Maghrib, atau doa-doa Qur’ani sebelum tidur akan menanamkan kesan bahwa Al-Qur’an adalah bagian dari rumah, bukan tamu asing.

Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar. Ketika orang tua akrab dengan Al-Qur’an—membacanya dengan tenang, merujuknya saat bingung, dan menjadikannya rujukan akhlak—maka anak akan menangkap pesan diam-diam: inilah sahabat orang tuaku, dan aku ingin memilikinya juga.

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Jangan tergesa-gesa menuntut anak sempurna dalam bacaan. Persahabatan tidak dibangun dengan paksaan, tetapi dengan kesabaran. Biarkan anak bertumbuh sesuai tahapnya. Kesalahan dalam membaca bukan aib, melainkan bagian dari proses. Yang jauh lebih penting adalah menjaga agar hati anak tetap lembut dan berani mendekat pada Al-Qur’an.

Al-Qur’an akan terasa dekat jika anak memahami maknanya, meski sedikit demi sedikit. Satu ayat yang dijelaskan dengan bahasa sederhana dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari akan jauh lebih membekas daripada satu halaman yang dibaca tanpa rasa. Dari sinilah anak mulai merasakan bahwa Al-Qur’an “berbicara” kepadanya.

Jadikan Al-Qur’an sebagai penolong saat anak menghadapi masalah. Ketika anak sedih, takut, atau kecewa, tuntun ia pada ayat-ayat tentang kesabaran, harapan, dan kasih sayang Allah. Anak yang merasakan bahwa Al-Qur’an hadir di saat sulit akan menyimpannya dalam hati sebagai tempat kembali.

Hindari menjadikan Al-Qur’an sebagai alat ancaman. Kalimat seperti “kalau tidak mengaji, Allah marah” sering kali melukai jiwa anak. Yang seharusnya ditanamkan adalah bahwa Al-Qur’an adalah surat cinta dari Allah, bukan palu hukuman. Cinta tidak tumbuh dari ketakutan, tetapi dari pengenalan dan rasa aman.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Beri ruang bagi anak untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an secara kreatif. Menghafal dengan nada yang disukai, menulis ayat favorit, atau menggambar kisah-kisah Qur’ani akan membuat hubungan anak dengan Al-Qur’an lebih hidup. Persahabatan selalu punya ruang ekspresi.

Apresiasi sekecil apa pun akan menjadi bahan bakar cinta. Senyuman, pelukan, atau doa tulus ketika anak membaca atau menghafal Al-Qur’an akan jauh lebih bermakna daripada hadiah materi. Anak akan merasa dihargai, dan Al-Qur’an pun dikaitkan dengan perasaan bahagia.

Jangan lupa, setiap anak unik. Ada yang cepat menghafal, ada yang lambat namun mendalam. Ada yang kuat di suara, ada yang kuat di pemahaman. Tugas orang tua dan pendidik bukan menyeragamkan, tetapi menemani. Al-Qur’an pun diturunkan dengan penuh hikmah dan kelembutan.

Ketika anak melihat Al-Qur’an diamalkan, bukan hanya dibacakan, ia akan memahami makna sejatinya. Kejujuran, kesabaran, adab berbicara, dan kepedulian sosial yang bersumber dari Al-Qur’an akan menjadikannya sahabat yang nyata, bukan sekadar simbol.

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

Persahabatan dengan Al-Qur’an adalah investasi jangka panjang. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat. Namun kelak, di saat anak dewasa dan menghadapi badai kehidupan, ayat-ayat yang pernah ia dengar dengan cinta akan muncul sebagai cahaya penuntun.

Di akhir zaman yang penuh fitnah dan kebingungan, anak yang bersahabat dengan Al-Qur’an memiliki kompas batin. Ia mungkin tidak sempurna, tetapi ia tahu ke mana harus kembali. Dan itu adalah anugerah terbesar yang bisa diberikan orang tua.

Maka, mari kita berhenti sekadar “mengajarkan” Al-Qur’an kepada anak, dan mulai “menghidupkannya” bersama mereka. Ketika Al-Qur’an hadir dengan cinta, keteladanan, dan kesabaran, ia tidak hanya akan dibaca oleh anak, tetapi akan menemani hidupnya—sebagai sahabat sejati hingga akhir hayat.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Rekomendasi untuk Anda

Artikel
Khutbah Jumat
MINA Edu
MINA Edu
MINA Edu