Munich, MINA – Seorang anggota legislatif Amerika Serikat dari Partai Demokrat menyatakan bahwa bantuan militer yang diberikan Washington kepada Israel tanpa syarat telah ikut berkontribusi dalam memungkinkan terjadinya genosida di Gaza.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Alexandria Ocasio-Cortez, perwakilan daerah pemilihan New York, dalam Konferensi Keamanan Munich yang membahas arah kebijakan luar negeri AS, seperti dilaporkan oleh Harian Al-Quds pada Sabtu (14/2).
Ocasio-Cortez menyerukan agar kebijakan dukungan tersebut ditinjau ulang dan dikaitkan dengan kepatuhan pada hukum AS, terutama Undang-Undang Leahy. Aturan ini melarang pemberian dana kepada unit keamanan asing jika terdapat informasi kredibel yang mengaitkan mereka dengan pelanggaran hak asasi manusia yang berat.
“Memberikan bantuan tanpa syarat, tidak peduli apa yang dilakukan pihak penerima, adalah tindakan yang tidak masuk akal,” tegasnya.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Politisi tersebut menyoroti bahwa pendekatan seperti itu berkontribusi pada jatuhnya ribuan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak, di Gaza.
Ia menambahkan bahwa penerapan Undang-Undang Leahy adalah langkah yang tepat ketika pelanggaran serius terjadi, karena mewajibkan Washington untuk menghentikan aliran dana.
Undang-Undang Leahy, yang dinamai menurut mantan Senator Patrick Leahy, melarang Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri AS memberikan bantuan kepada unit keamanan asing yang terindikasi melakukan pelanggaran HAM berat. Meskipun secara resmi Israel tunduk pada aturan yang sama, implementasi undang-undang ini terkait Israel telah lama menjadi perdebatan di Washington.
Charles Blaha, mantan direktur pelaksana audit Undang-Undang Leahy di Departemen Luar Negeri, menilai bahwa meskipun secara teoretis Israel diperlakukan sama, dalam praktiknya hal itu “tidak benar” karena sering kali ada tumpang tindih prosedur.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Sementara itu, Duta Besar AS untuk NATO, Matt Whitaker, menghindari pertanyaan langsung mengenai kemungkinan peninjauan ulang bantuan tersebut. Ia hanya menegaskan bahwa Israel adalah “salah satu sekutu terdekat Amerika,” sebuah pernyataan yang mencerminkan sensitivitas politik AS dalam membahas syarat-syarat dukungan militernya di forum publik.
Dalam kesempatan yang sama, Ocasio-Cortez juga mengkritik kebijakan luar negeri di bawah Presiden Donald Trump. Ia menuduh Trump berusaha membawa AS menuju “era otoritarianisme” dengan menarik diri dari pengaruh global. Menurutnya, Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio tengah berupaya mengisolasi AS untuk leluasa mendominasi kawasan Belahan Bumi Barat dan Amerika Latin, sambil memberikan ruang lebih besar bagi Rusia untuk menekan Eropa.
Sebagai alternatif, Ocasio-Cortez menawarkan “visi kebijakan luar negeri dari sayap kiri” yang menyerukan pengembalian pada tatanan dunia berbasis aturan tanpa kemunafikan. Pernyataan ini menandai pergeseran perdebatan di internal Partai Demokrat dari sekadar keberatan moral menuju tuntutan akuntabilitas hukum yang lebih konkret. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic