Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arab Saudi Hadapi Krisis Ekspor Minyak Pascaserangan Houthi

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 16 September 2026 - 09:14 WIB

Rabu, 16 September 2026 - 09:14 WIB

33 Views ㅤ

Ilustrasi minyak dunia (foto: Fpik)

Riyadh, MINA – Arab Saudi menghadapi tekanan serius terhadap jalur ekspor minyak setelah serangan pesawat nirawak merusak fasilitas pipa East-West yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Serangan tersebut terjadi pada Kamis (10/9) di sejumlah titik wilayah Riyadh dan Madinah. Pemerintah Saudi kemudian menghentikan sementara operasi pipa tersebut sebagai langkah pencegahan untuk memastikan keamanan jaringan dan melakukan pemeriksaan terhadap kerusakan yang terjadi. Arabnews melaporkan.

Pipa East-West, yang juga dikenal sebagai Petroline, membentang sekitar 1.200 kilometer dari wilayah produksi minyak Saudi di bagian timur menuju Yanbu. Jalur ini menjadi sangat strategis karena memungkinkan Saudi mengirim minyak melalui Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Menurut data yang dikutip Reuters, pipa tersebut sebelumnya mengalirkan sekitar empat juta barel minyak per hari atau sekitar empat persen dari pasokan minyak global. Kapasitas maksimal jaringan tersebut mencapai sekitar tujuh juta barel per hari.

Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme

Penghentian Petroline menjadi persoalan serius karena lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz juga mengalami gangguan. Saudi selama beberapa bulan terakhir meningkatkan penggunaan jalur East-West untuk mengalihkan sebagian ekspor minyaknya dari jalur Teluk menuju Laut Merah.

Dampaknya mulai terasa di Pelabuhan Yanbu. Saudi Arabia dilaporkan menghentikan sementara pemuatan minyak di pelabuhan tersebut, sementara sejumlah pengiriman minyak mentah ke Eropa untuk akhir September dibatalkan atau ditunda. Kondisi ini mendorong para pembeli mencari sumber minyak alternatif.

Perusahaan minyak Polandia Orlen, salah satu pembeli minyak Saudi, termasuk yang mulai mencari pasokan pengganti dari sejumlah negara. Perusahaan tersebut memperoleh sekitar 40 persen kebutuhan minyak mentahnya dari Saudi Aramco dan telah mencari pasokan dari kawasan Laut Utara, Amerika Serikat, Kazakhstan, Aljazair dan Guyana.

Gangguan tersebut juga memberikan tekanan terhadap harga minyak dunia. Pada Selasa (15/9), harga minyak Brent sempat mendekati 110 dolar AS per barel setelah pasar mengkhawatirkan terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah. Sejumlah kargo minyak fisik di Eropa bahkan diperdagangkan di atas 130 dolar AS per barel.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Pada Rabu (16/9), harga minyak berjangka kemudian mengalami penurunan setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat meningkat lebih besar dari perkiraan. Harga Brent turun sekitar 93 sen menjadi 107,82 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 97 sen menjadi 104,86 dolar AS per barel.

Meski demikian, gangguan terhadap infrastruktur minyak Saudi tetap menjadi perhatian pasar energi karena belum terdapat kepastian mengenai waktu pemulihan penuh pipa East-West. Menteri Energi Amerika Serikat menyatakan aliran minyak diharapkan dapat kembali dalam beberapa hari, sementara sejumlah sumber industri memperkirakan perbaikan dapat memerlukan waktu lima hingga enam pekan.

Saudi Arabia masih memiliki pilihan untuk mengirim minyak melalui jalur laut yang melewati Selat Hormuz. Namun, jalur tersebut menghadapi risiko keamanan di tengah konflik dan gangguan terhadap pelayaran di kawasan Teluk. Kondisi ini membuat kemampuan Saudi mengalihkan ekspor menjadi lebih terbatas dibandingkan sebelum gangguan terjadi.

Pipa East-West selama ini memang dibangun untuk mengurangi ketergantungan Saudi terhadap Selat Hormuz. Dengan mengalirkan minyak menuju Yanbu, Saudi dapat mengirimkan sebagian minyaknya ke pasar Eropa melalui Laut Merah, Terusan Suez dan jaringan pipa SUMED, sedangkan pengiriman menuju Asia dapat dilakukan melalui jalur selatan Laut Merah.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Namun, penghentian pipa tersebut terjadi ketika keamanan jalur Laut Merah dan kawasan Bab el-Mandeb juga menghadapi gangguan. Situasi ini mempersempit sejumlah pilihan alternatif bagi negara-negara Teluk untuk menyalurkan minyak ke pasar internasional.

Reuters melaporkan, sejumlah pedagang memperkirakan persediaan minyak di Yanbu hanya dapat menopang ekspor selama sekitar lima hingga tujuh hari jika aliran pipa tidak segera dipulihkan. Perkiraan tersebut merupakan penilaian sumber industri dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Saudi.

Gangguan ini menunjukkan pentingnya infrastruktur East-West bagi stabilitas ekspor minyak Saudi, terutama ketika jalur utama perdagangan energi di kawasan Timur Tengah menghadapi tekanan. Lamanya penghentian pipa akan menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar dampaknya terhadap ekspor Saudi dan pasar minyak dunia. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Dunia Islam
Internasional
Amerika
Internasional