Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artificial Intelligence Menuju Sakit Jiwa Anak-Anak

Arif Ramdan - Ahad, 23 Juni 2024 - 15:20 WIB

Ahad, 23 Juni 2024 - 15:20 WIB

11 Views

Oleh Kamaruzzaman Bustamam Ahmad,  Antropolog berdomisili di Banda Aceh

 

Baru-baru ini, saya membeli tiga buku yang agak bersamaan waktunya, yaitu: Pertama, A Brief History of Intelligence: Why the Evolution of the Brain Holds the Key to the Future of AI, karya Max Benner (2023). Kedua, AI 2041: Ten Future for Our Future oleh Kai-Fu Lee dan Chen Qiufan (2021/2024). Ketiga, The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Chilhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness, karya Jonathan Haidt (2024).

Ketiga buku tersebut sangat menarik, karena mengupas bagaimana Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan) bagi manusia. Hampir semua buku tersebut menyampaikan dampak signifikan AI bagi manusia, dimana dampak negatifnya cukup menakutkan, jika bukan sangat mengerikan.

Baca Juga: Perlindungan Anak dalam Perspektif Agama Islam

Hal yang mengerikan bahwa ketika AI akan tidak lagi membantu manusia—seperti saya tulis lebih komperehensif pada laman kba13.com–tetapi juga dapat mengontrol kehidupan manusia di segala lini. Dalam hal ini, buku AI 2024 menarasikan 10 skenario besar dari kehidupan AI di masa yang akan datang. Di sini, diambil masanya adalah tahun 2041.

Komposisi data yang awalnya untuk membangun Big Data, kemudian transformasikan menjadi sekumpulan pola-pola jawaban terhadap semua kebutuhan manusia, dimana terkadang muncul akibatnya adalah teknologi digital melalui kecerdasan buat lebih mengenal manusia itu, melebihi manusia itu mengenal dirinya sendiri.

Karena itu, ketika AI tidak lagi membantu manusia untuk pemenuhan data, melainkan sudah mampu menggerakkan kehidupan manusia, berdasarkan daripada data yang disuplai ke mereka, maka tidak mengejutkan jika kemudian, AI akan mengambil peran-peran selain produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga pada aspek nilai, etika, dan norma. Dalam AI 2041, disebutkan bahwa: “AI knows you better than you know yourself”.

Sementara itu, The Anxious Generation yang mengupas secara detail bagaimana dampak dunia digital, khususnya smartphone terhadap anak-anak Generasi Z yang berujung pada Sakit Jiwa (Mental Illness). Jonathan menarasikan bagaimana perubahan permainan anak yang awalnya “play based childhood” menuju pada “phone-based childhood”.

Baca Juga: Islam Mengatur Peperangan, Membangun Perdamaian

Kondisi ini menyiratkan bahwa hampir semua permainan anak-anak yang biasanya bermain di luar rumah, berubah menjadi semua permainan berdasarkan apa yang ditawarkan oleh “phone based.”

Karena itu, kondisi sakit jiwa atau gelisah tidak menentu, menjadi hal yang tidak dapat dikesampingkan daripada kondisi anak-anak yang terjangkit pada kencanduan pada smartphone.

Adapun A Brief History of Intelligence malah menyajikan beberapa hal yang cukup mengejutkan, bagaimana perubahan Chat GPT yang awalnya tampil seperti hanya menjawab pertanyaan, tetapi sekarang sudah berubah menjadi “teman dekat” manusia di dalam memberikan semua bantuan informasi atau ilmu pengetahuan kepada manusia.

Dari penjelasan dalam buku ini, diduga kuat bahwa kecerdasan Chat GPT merupakan proses transformasi pembelajaran pada anjing, yang kemudian diarahkan pada AI yang kemudian menjadi “teman dekat” baru manusia saat ini.

Baca Juga: Pengaruh Amal Saleh

Seekor anjing yang diberikan “hadiah” saat dia berhasil mengerjakan sesuatu, pada saat pelatihan atau perlombaan, menjadi seekor anjing cerdas, manakala dia sudah terbiasa memahami semua perintah pada dirinya, yang kemudian dia memiliki kecerdasan seperti manusia.

Inilah langkah-langkah perubahan, secara filosofis, perubahan Chat GPT atau aneka bentuk kecerdasan buatan lainnya, saat ini, yang benar-benar mengubah cara manusia di dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Bennext menulis bahwa keberadaan GPT-4 telah lebih maju dikembangkan, dari GPT 1 hingga 3, dimana dia menulis: “GPT-4 works in largely the same way as GPT-3 -it predicts the next word based solely on the prior sequence of words” 

Menuju Puberitas dengan Kecerdasan Buatan

Baca Juga: Itrek, Organisasi yang Membiayai Perjalanan Oknum Nahdliyin ke Israel

Ketika buku The Anxious Generation terbit, diperkirakan bahwa anak-anak yang lain pada tahun 2010 sedang menuju puberitas mereka. Dalam kondisi ini, masa puberitas mereka yang dibantu dengan keadaan kecanduan pada smartphone telah menciptakan kondisi gangguan kesehatan mental mereka yang tidak dapat diobati secara medikal.

Pada saat yang sama, para orang tua juga sibuk dengan Android atau Iphone di tangan mereka, maka kehidupan anak-anak menjadi objek dari pendidikan yang disajikan oleh kecerdasan buatan. Dalam Konteks ini, disebutkan pengaruh yang cukup parah terjadi pada perempuan, ketimbang anak lelaki.

Rasa ingin cantik di media sosial, terjadi pada anak-anak remaja perempuan, yang kemudian membuat mereka mencari berbagai aplikasi untuk mempercantik berbagai foto mereka di alam maya. Hobi memotret diri sendiri dan dipermak oleh teknologi kecerdasan buatan, membuat mereka selalu merasa “kurang cantik” atau “kurang menarik”.

Uniknya, dalam buku AI 2041 diprediksi bahwa gambar-gambar yang diposting media sosial, juga dapat direkayasa ulang oleh AI, untuk kemudian dapat dipergunakan oleh siapapun, untuk kepentingan tertentu, jika bukan untuk menambah deretan kejahatan alam maya di masa yang akan datang.

Baca Juga: Perhatian Terhadap Yatim Piatu di Lingkup Nasional dan Internasional

Teknologi AI untuk “topeng baru” manusia, sebagaimana diceritakan dalam AI 2041 telah memberikan dampak negatif dalam kehidupan keluarga penduduk bumi di masa yang akan datang.

Demikian ramalan disebutkan dalam buku tersebut. Kemunculan Deep Learning yang mencontoh dari cara kerja otak manusia, telah mampu menyajikan kesempatan AI untuk menjadikan sistem ini sebagai Omni-Use Techology.

Dalam AI 2041 disebutkan bahwa teknologi ini memiliki kemampuan untuk memahami, memprediksi, mengklafisikasi, membuat keputusan, dan melakukan proses sintensis.

Hal ini, jika anak-anak terobsesi dengan sekian pengumbaran foto di alam maya, kemudian dijadikan sebagai bahan Deep Learning, maka sangat boleh jadi, foto-foto tersebut menjadi bahan dari komersialisasi baru dalam alam maya, untuk membuat sintesis baru tentang perilaku manusia di masa yang akan datang.

Baca Juga: Memahami Makna Hidup Berjama’ah

Anak-anak yang sedang menuju masa puberitas akan menghadapi situasi yang dikenal dengan istilah visual deception (penyesatan secara visual). AI dapat melakukan proses penyesatan untuk melakukan penyesatan secara visual melalui deep fake (sangat palsu).

Ketika kepalsuan menjadi cara baru anak-anak atau remaja dalam menjalani kehidupan mereka bersama Android dan Iphone, maka sistem akan memberikan satu pola baru di dalam memahami seorang anak.

Langkah-Langkah Strategis

Jonathan Haidt memberikan 4 formula untuk menyelesaikan masalah ini. Pertama, tidak ada smartphones sebelum masuk sekolah SMP. Kedua, tidak ada media sosial sebelum umur 16 tahun. Ketiga, tidak pakai HP di sekolah. Keempat, menjauhi permainan yang tidak terawasi dan menciptakan kemandirian di usia dini.

Baca Juga: Larangan Memberikan Loyalitas dan Pertemanan dengan Yahudi

Semua formula ini, tampaknya sudah terlambat, sebab berbagai riset yang disajikan, merupakan akibat dari rekayasa Kecerdasan Buatan manusia yang awalnya “bangga”, kemudian sekarang sudah menuai dampak yang cukup mengerikan bagi anak-anak di usia belia. []

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Perang Digital Membela Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Kolom
MINA Health
Internasional