Washington, MINA – Departemen Kehakiman AS pada Rabu (20/5) mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro dengan menuduhnya memerintahkan penembakan dua pesawat Amerika di lepas pantai Kuba pada tahun 1996.
Dilansir dari rt.com, Castro dan lima pejabatnya didakwa dengan konspirasi untuk membunuh warga negara AS, penghancuran pesawat, dan empat dakwaan pembunuhan, satu untuk setiap warga Kuba-Amerika yang tewas dalam penembakan tersebut.
Dakwaan terhadap Castro tersebut menandai eskalasi terbaru dalam kampanye tekanan Washington terhadap Havana.
Castro, yang menjabat sebagai menteri pertahanan Kuba pada saat kejadian, “berpartisipasi dalam konspirasi yang berakhir dengan pesawat militer Kuba menembakkan rudal ke pesawat sipil tersebut dan menewaskan empat warga Amerika,” kata Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche dalam konferensi pers di Miami pada Rabu.
Baca Juga: Tiket Konser Free Palestina Macklemore Ludes Terjual, Dukungan Kepada Palestina Meningkat
Pada 24 Februari 1996, jet tempur Kuba menembak jatuh dua pesawat ringan yang menurut Havana melanggar wilayah udaranya. Pesawat-pesawat tersebut – dua Cessna 337 Skymaster – dioperasikan oleh ‘Brothers to the Rescue’, sebuah kelompok anti-komunis Kuba dan Amerika yang dipimpin oleh agen CIA Jose Basulto. Tujuan resmi kelompok ini adalah untuk membantu para pembangkang meninggalkan Kuba, dan “mendukung upaya rakyat Kuba untuk membebaskan diri dari kediktatoran melalui penggunaan non-kekerasan aktif.”
Namun, salah satu mantan pilot organisasi tersebut, Juan Pablo Roque, membelot ke Kuba dua hari sebelum pesawat-pesawat itu ditembak jatuh dan mengeklaim bahwa Brothers to the Rescue terlibat dalam penyelundupan senjata ke pulau itu untuk digunakan oleh gerilyawan anti-pemerintah.
Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, Kedutaan Kuba di AS mengeklaim bahwa pesawat organisasi tersebut melakukan “lebih dari 25 pelanggaran serius, disengaja, dan sistematis” terhadap wilayah udara Kuba antara tahun 1994 dan 1996. Karena AS menolak untuk mengindahkan peringatan tertulis Havana, Kuba “tidak punya pilihan selain membela perbatasannya secara langsung,” tambah Kedutaan.
Sejak insiden tersebut, Basulto telah mendesak pemerintah AS untuk mengajukan tuntutan pidana terhadap Castro.
Baca Juga: Senat AS Gagalkan Resolusi Penyelidikan Kematian 9 Warga AS di Tepi Barat
Tidak ada indikasi bahwa Castro, yang sekarang berusia 96 tahun, akan pernah muncul di pengadilan Amerika. Kuba memiliki hubungan diplomatik yang terbatas dengan AS, apalagi perjanjian ekstradisi. Pemerintah Kuba sangat kecil kemungkinannya untuk menyerahkan mantan presiden dan pahlawan revolusi tersebut kepada AS, di mana ia akan menghadapi hukuman mati jika terbukti bersalah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Guterres Peringatkan Mandat UNRWA Terancam, Jutaan Pengungsi Palestina dalam Bahaya
















Mina Indonesia
Mina Arabic