Washington DC, MINA — Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dituduh telah secara diam-diam mengembalikan sejumlah warga Palestina dari wilayah AS ke Israel dengan memanfaatkan pesawat jet pribadi yang dikaitkan dengan salah satu donatur dekat lingkaran Trump.
Hal itu memicu kritik tajam dari sejumlah pihak, meyoroti aspek hukum dan kemanusiaan di negeri itu. Al-Jazeera melaporkan, Selasa (10/2).
Laporan investigasi menyatakan bahwa Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) telah mengatur setidaknya dua penerbangan deportasi yang membawa warga Palestina dari fasilitas penahanan di Arizona menuju Tel Aviv, sebelum akhirnya mereka dibawa ke Tepi Barat yang berada di bawah pendudukan Israel.
Pesawat jet mewah yang digunakan dalam operasi itu milik seorang pengusaha real-estate Florida yang diketahui merupakan donatur dan mitra bisnis lama Trump.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Dalam perjalanan, para deportan dilaporkan dalam keadaan diborgol, berpakaian seragam tahanan, dan menjalani rute dengan beberapa pemberhentian untuk mengisi bahan bakar, termasuk di Eropa, sebelum tiba di Israel.
Metode ini dinilai sangat jarang terjadi dalam deportasi imigran dan memunculkan pertanyaan mengenai pendekatan kebijakan imigrasi yang berlaku di bawah administrasi Trump.
Para kritikus menyoroti penggunaan jet pribadi dalam operasi itu sebagai hal yang melampaui praktik deportasi standar pemerintah, serta membuka perdebatan mengenai transparansi, biaya logistik yang tinggi, dan keterlibatan pihak swasta dalam prosedur penegakan hukum negara.
Bahkan sejumlah advokat hak asasi menilai langkah ini berpotensi melanggar prinsip perlindungan terhadap individu yang menghadapi deportasi paksa.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Sementara itu, pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang membawahi ICE mempertahankan kebijakan “nol toleransi” terhadap orang asing yang dianggap tidak memiliki hak tinggal di AS, namun tidak memberikan keterangan rinci tentang kerja sama dengan otoritas Israel ataupun alasan pemilihan jalur penerbangan dan moda transportasi yang digunakan.
Kasus deportasi ini terjadi di tengah dinamika kebijakan AS yang menjadi sorotan internasional, khususnya dalam konteks konflik berkepanjangan di Palestina. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic