Zurich, MINA – Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 memicu gelombang kritik dari kelompok pembela hak asasi manusia (HAM).
FIFA dinilai gagal mempertahankan komitmennya terhadap prinsip HAM karena tidak mengambil langkah tegas terhadap kebijakan yang berpotensi membatasi akses sejumlah peserta, suporter, dan pengunjung dari negara-negara tertentu. Al-Jazeera melaporkan, Sabtu (13/6).
Sorotan utama tertuju pada kebijakan pembatasan perjalanan dan visa yang diterapkan pemerintahan Trump terhadap beberapa negara, termasuk Iran.
Kebijakan tersebut dinilai dapat menghambat ribuan suporter Iran untuk menyaksikan langsung tim nasional mereka berlaga pada ajang sepak bola terbesar di dunia yang sebagian besar pertandingan digelar di Amerika Serikat.
Baca Juga: Usai Juara FIFA ASEAN Cup, Timnas Indonesia Bersiap Hadapi Piala Asia 2027
Sejumlah organisasi HAM internasional menilai situasi tersebut bertentangan dengan komitmen FIFA yang selama ini mengusung prinsip kesetaraan, non-diskriminasi, dan akses terbuka bagi seluruh penggemar sepak bola.
Mereka mempertanyakan keseriusan FIFA dalam menegakkan standar HAM yang sebelumnya menjadi bagian dari proses pemilihan tuan rumah berbagai turnamen internasional.
Kritik juga datang dari kelompok advokasi olahraga yang menilai FIFA terlalu lunak terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat.
Menurut mereka, organisasi sepak bola dunia itu seharusnya menggunakan pengaruhnya untuk memastikan seluruh peserta, suporter, jurnalis, dan pekerja yang terlibat dalam turnamen dapat memperoleh akses yang adil tanpa hambatan politik.
Baca Juga: Ini Kata-Kata Pelatih John Herdman Usai Timnas Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Kontroversi semakin menguat karena hubungan dekat antara Presiden FIFA, Gianni Infantino, dan Trump kerap menjadi perhatian publik.
Kedekatan tersebut berpotensi memengaruhi independensi FIFA dalam menyikapi kebijakan tuan rumah yang dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip yang selama ini dikampanyekan organisasi tersebut.
Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah FIFA dengan melibatkan 48 negara peserta dan jutaan pendukung dari berbagai belahan dunia.
Karena itu, para pemerhati HAM menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan turnamen tidak hanya diukur dari aspek olahraga dan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan FIFA dan negara tuan rumah menjamin kesetaraan akses, kebebasan bergerak, serta penghormatan terhadap hak-hak dasar seluruh peserta dan pengunjung. []
Baca Juga: Timnas Portugal Masih Buka Pintu untuk Ronaldo, Pelatih Jorge Jesus Sebut Hanya Kesalahpahaman
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic