Jakarta, MINA — Di tengah terik Lapangan Monas, Jakarta Pusat, suara Asma Nadia menggema. Penulis novel kenamaan Indonesia itu membacakan puisi karyanya sendiri berjudul “Palestina Kami Masih Mencintaimu” di hadapan ribuan peserta Pembukaan Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2026, Ahad (1/11) pagi.
Pembacaan puisi ini menjadi momen reflektif yang menyentuh, menyusul doa dan berbagai orasi di panggung utama.
Puisi dibuka dengan kalimat yang langsung menyentuh nurani: “Palestina, kami masih mencintaimu.”
Suasana hening. Ribuan pasang mata tertuju pada satu sosok yang berdiri membawa naskah. Asma Nadia kemudian melukiskan Palestina bukan sekadar nama di peta, melainkan luka yang hidup:
Baca Juga: MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo, Terkait Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran
“Palestina adalah ibu yang merindukan anaknya pulang
adalah anak yang mencari pelukan
dan rumah yang kehilangan suara tawa
menyisakan hanya dinding yang masih berdiri.”
Bait itu disambut isak dari sebagian peserta. Di sudut lapangan, beberapa relawan tampak mengusap mata.
Puisi terus mengalir. Asma Nadia membawa penonton menyaksikan realitas saudara-saudara di Gaza:
“Saudara kita di Gaza berhak untuk bangun pagi
tanpa menjadikan langit sebagai ancaman
mereka berhak menatap hari esok
tanpa bertanya apakah waktu masih berpihak kepada mereka.”
Baca Juga: Aktivis Ilustrasikan Gempa, Rasakan Getaran Bom di Palestina
Bait berikutnya menjadi tamparan halus bagi dunia yang sering berpaling:
“Palestina adalah cermin yang memaksa kita melihat
betapa mudahnya manusia berpaling
ketika penderitaan jauh dari rumah sendiri.”
Memasuki bagian puncak, suara Asma Nadia meninggi. Bait-bait itu keluar seperti komando, bukan kepada tentara, tetapi kepada mereka yang punya kuasa di bidangnya masing-masing:
“Saudaraku, dengarkan dan bergeraklah.
Jika kau penulis, hunus kata-katamu
jangan biarkan dusta menjadi tinta yang menulis ingatan dunia.
Jika kau musisi, hunus nada-nadamu
jadikan suaramu gema bagi mereka yang bungkam.
Jika kau guru, hunus ilmumu
ajarkan anak-anak kita
bahwa kecerdasan tak berarti jika hanya membuat pikiran semakin tinggi
tetapi hati berlutut di hadapan ketidakadilan.
Jika kau jurnalis, hunus fakta-faktamu
jangan biarkan kebohongan mengenakan mahkota kebenaran dan duduk di singgasana berita.
Jika kau seniman, hunus imajinasimu.
Jika kau pengusaha, gunakan semesta yang kau punya demi membuka jalan pembebasan.
Jika kau seorang ibu, tanamkan keadilan
tanamkan kecintaan kepada kemanusiaan
agar mengakar di hati anak-anakmu
agar mereka tak tumbuh menjadi pohon yang tinggi tapi hanya menaungi dirinya sendiri
dan membiarkan sesamanya terbakar.
Bawa semuanya ke medan kemanusiaan.”
Baca Juga: Pimpinan Hidayatullah: Sampai Kapan Bela Palestina? Sampai Palestina Merdeka!
Asma Nadia menutup puisi dengan suara yang sedikit bergetar, dan terisak, namun tegas:
“Penganiayaan dan genosida telah berlangsung terlalu lama.
Terlalu lama.
Cinta harus menjadi kaki yang berjalan menuju kebebasan
tangan yang mengulurkan bantuan
dan suara yang tak menyerah untuk keadilan.
Palestina, selama namamu masih disebut
selama penderitaanmu masih mengusik nurani
selama keadilan masih belum menjadi milikmu
maka selamanya
kami masih di sini
kami masih mengingatmu
dan kami masih teramat sangat mencintaimu.”
Tepuk tangan bergemuruh. Takbir pun berkumandang.
Pembacaan puisi Asma Nadia melengkapi rangkaian acara pembukaan BSP 2026 yang juga diisi dengan pengibaran bendera Merah Putih dan Palestina menggunakan paramotor di langit Monas, pembentangan bendera kolosal berukuran 50 x 9 meter, teatrikal santri Al-Fatah Cikampek, penampilan Annisa Theresia bersama anak-anak Maqdisy Talent, serta tarian tradisional Dabke oleh mahasiswa Universitas Pertahanan RI asal Palestina.
Baca Juga: Wakil Ketua MUI Serukan “Bocelli No, Palestina Yes!” dan Bacakan Fatwa Dukungan Palestina
Acara ini menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan BSP 2026 yang akan berlangsung sepanjang November dengan tema “Penguatan Peran Advokasi Global menuju Pembebasan Al-Aqsa dan Kemerdekaan Palestina.” Melalui puisi dan sastra, solidaritas untuk Palestina terus dijaga, bukan hanya di lapangan, tetapi juga di ruang-ruang literasi yang menyentuh hati dan membangun kesadaran. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ketua Presidium AWG Bacakan Ulang Ikrar Pembebasan Al-Aqsa 20 Tahun Silam di Monas
















Mina Indonesia
Mina Arabic