Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Australia Kucurkan Dana Rp288 Miliar untuk Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Arina Islami Editor : Rudi Hendrik - Selasa, 4 Agustus 2026 - 01:40 WIB

Selasa, 4 Agustus 2026 - 01:40 WIB

28 Views ㅤ

Ilustrasi: warga Rohingya membangun warung di tempat pengungsian di Bangladesh. (Foto: Ro Maung Hla Myint/X)

Dhaka, MINA – Pemerintah Australia bersama Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengumumkan bantuan kemanusiaan senilai 25,25 juta dolar Australia (sekitar 17,74 juta dolar AS atau Rp288 miliar) untuk membantu pengungsi Rohingya dan masyarakat tuan rumah di kawasan Cox’s Bazar, Bangladesh, di tengah menurunnya pendanaan kemanusiaan global.

Dalam pernyataan UNHCR pada Senin (3/8), bantuan multitahun yang merupakan bagian dari program bantuan kemanusiaan Australia periode 2026–2028 itu akan digunakan untuk mempertahankan layanan penyelamatan jiwa, mendukung pengembangan keterampilan para pengungsi Rohingya, serta membiayai upaya pengurangan risiko bencana di kamp-kamp pengungsian di Cox’s Bazar.

Pengumuman tersebut disampaikan di ibu kota Bangladesh, Dhaka, dan dihadiri Menteri Luar Negeri Bangladesh Khalilur Rahman serta Asisten Menteri Kewarganegaraan, Bea Cukai, dan Urusan Multikultural sekaligus Asisten Menteri Pendidikan Internasional Australia, Julian Hill.

“Australia tetap berkomitmen mendukung kebutuhan kemanusiaan pengungsi Rohingya di Myanmar dan Bangladesh. Warga Rohingya yang terusir ingin kembali ke tanah air mereka, tetapi kondisi di Myanmar harus memungkinkan kepulangan yang sukarela, aman, bermartabat, dan berkelanjutan. Hal itu hanya dapat terwujud dengan mengatasi akar penyebab krisis di Myanmar,” ujar Julian Hill, mengutip Anadolu Agency.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Sementara itu, Perwakilan UNHCR di Bangladesh, Juliette Murekeyisoni, mengingatkan bahwa krisis pengungsi Rohingya berisiko luput dari perhatian dunia seiring munculnya berbagai konflik dan keadaan darurat kemanusiaan baru.

“Hampir sembilan tahun berlalu, krisis Rohingya berisiko memudar dari perhatian global ketika berbagai keadaan darurat baru bermunculan di tempat lain,” katanya.

Menurut UNHCR, sejak gelombang penganiayaan besar-besaran pada 2017 memaksa ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, hingga kini sekitar 1,2 juta pengungsi Rohingya masih tinggal di negara tersebut.

Sebagian besar menghuni kamp-kamp pengungsian yang padat di sekitar Cox’s Bazar.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem

UNHCR menambahkan, para pengungsi Rohingya hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Namun, kekurangan pendanaan yang terus berlanjut telah memperburuk kerentanan mereka dan mendorong sebagian pengungsi menempuh perjalanan laut yang berbahaya.

Sepanjang 2025, hampir 900 pengungsi Rohingya dilaporkan hilang atau meninggal dunia saat mencoba menyeberangi Laut Andaman dan Teluk Benggala menggunakan jalur laut yang berisiko tinggi, menurut data UNHCR.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Rekomendasi untuk Anda