Sydney, MINA — Australia menyalakan lilin dan mengheningkan cipta untuk mengenang para korban serangan senjata api di Pantai Bondi, Sydney, dalam rangka Hari Refleksi Nasional Australia.
Peringatan nasional ini digelar sebagai bentuk penghormatan dan duka mendalam atas tragedi Bondi yang menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya.
Pemerintah Australia menyerukan kepada seluruh warga untuk menyalakan lilin pada Ahad malam (21/12) dan mengheningkan cipta selama satu menit pada pukul 18.47 waktu setempat, waktu dimulainya serangan di Pantai Bondi.
Mengutip Al Jazeera, momen hening cipta ini menjadi simbol solidaritas nasional bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa tragedi Bondi merupakan luka mendalam bagi bangsa Australia.
Ia juga mengumumkan peninjauan terhadap lembaga penegak hukum dan intelijen, menyusul serangan yang kini diselidiki sebagai aksi terorisme.
Peringatan Hari Refleksi Nasional Australia diawali pada Ahad pagi dengan upacara pengasapan tradisional yang dipimpin para pemimpin adat di Paviliun Bondi di tepi laut.
Lokasi tersebut menjadi tempat berdirinya tugu peringatan dadakan bagi 15 korban tewas, yang saat kejadian tengah merayakan festival Yahudi Hanukkah.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Sebagai bagian dari masa berkabung nasional, bendera Australia dikibarkan setengah tiang di gedung-gedung pemerintah.
Warga dari berbagai latar belakang agama dan etnis turut berkumpul, menyalakan lilin, dan berdoa secara hening untuk mengenang korban Bondi.
Acara peringatan malam hari di Pantai Bondi berlangsung di bawah pengamanan ketat aparat kepolisian, termasuk kehadiran petugas bersenjata laras panjang.
Pihak berwenang menyatakan langkah tersebut dilakukan demi menjamin keamanan publik selama peringatan nasional.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Serangan pada 14 Desember itu disebut sebagai penembakan massal paling mematikan di Australia sejak 1996, ketika 35 orang tewas dalam tragedi Port Arthur di Tasmania.
Peristiwa Bondi pun kembali mengguncang kesadaran nasional Australia terkait bahaya ekstremisme bersenjata.
Otoritas Australia menyelidiki serangan Bondi sebagai tindakan terorisme yang menargetkan komunitas Yahudi.
Pihak berwenang menyebut para pelaku diduga terinspirasi oleh kelompok ISIL (ISIS), setelah bendera kelompok tersebut ditemukan di dalam kendaraan yang digunakan menuju lokasi serangan.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Dalam insiden tersebut, tersangka Sajid Akram (50) tewas ditembak polisi di tempat kejadian.
Sementara putranya, Naveed Akram (24), yang sempat koma, kini telah sadar dan didakwa dengan 59 pelanggaran, termasuk pembunuhan dan terorisme.
Ia masih menjalani perawatan di rumah sakit dalam status tahanan.
Hingga Ahad, sekitar 13 korban luka akibat serangan Bondi masih dirawat di sejumlah rumah sakit di Sydney.
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
Pemerintah Australia berharap peringatan dengan menyalakan lilin dan mengheningkan cipta ini menjadi momentum refleksi nasional untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic