Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan Gelar H, Tanda Haji Mabrur Sekembali ke Tanah Air

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 10 Juni 2026 - 21:11 WIB

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:11 WIB

21 Views ㅤ

Jamaah haji. (Foto: MINA)

JAMAAH haji telah menyelesaikan rangkaian panjang ibadah yang menggetarkan jiwa di tanah suci. Dari hari demi hari perjalanan suci, dari padang Arafah yang padat berjuta munajat, dari lemparan jumrah yang penuh makna, hingga tahallul yang membebaskan. Kini mereka bersiap pulang ke tanah air.

Dan kita semua, di sudut ruang yang jauh, turut memanjatkan doa, “Semoga mereka kembali sebagai haji yang mabrur”.

Makna Haji Mabrur

Kata mabrur lahir dari akar kata Arab al-birr, artinya kebaikan, kebajikan, ketaatan. Secara bahasa, haji mabrur berarti haji yang diterima Allah, haji yang dipenuhi kebaikan, haji yang membawa kesucian dari dosa.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Para ulama kemudian menuangkan makna ini dalam definisi yang lebih dalam, haji mabrur adalah ibadah haji yang dikerjakan sesuai tuntunan syariat, dilandasi niat yang ikhlas, terbebas dari perbuatan dosa selama berhaji, dan yang terpenting meninggalkan bekas kebaikan yang nyata setelah pulang ke tanah air.

Dengan kata lain, haji mabrur bukanlah sekadar seremoni yang selesai di Tanah Suci. Ia adalah titik awal dari kehidupan baru yang lebih baik.

Balasan Haji Mabrur, Surga

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (Muttafaq ‘Alaih).

Surga. Itulah satu-satunya balasan. Bukan plakat, bukan gelar kebanggaan, bukan foto yang diunggah di media sosial. Surga adalah tujuan akhir yang tak bisa dibandingkan dengan gemerlap dunia. Tanpa reputasi dari netizen, tanpa sensasi selfi-selfi, dan tanpa validasi pencitraan dari manusia.

Dalam Fathul Bari dijelaskan, haji mabrur adalah haji yang ikhlas semata-mata karena Allah, tidak ada riya, tidak ada pamer, tidak ada keinginan untuk disebut hebat atau suci. Ia murni untuk-Nya.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 196).

Tanda Haji Mabrur, Bukan pada Huruf “H”

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Seringkali kita disibukkan dengan gelar “H”, alias Pak Haji atau Bu Hajjah, di depan nama dianggap sebagai mahkota kebanggaan. Padahal, tanda haji mabrur tidak akan pernah terletak pada embel-embel itu. Ia terletak pada perubahan nyata setelah kembali ke kampung halaman.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

“Tanda haji mabrur adalah suka memberi makanan dan berbicara yang baik.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Khuzaimah).

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Sederhana. Tidak perlu pidato panjang, tidak perlu pawai kemegahan. Cukup tangan yang ringan memberi, dan lisan yang terjaga dari kata-kata kasar. Inilah wujud birr, mabrur, kebaikan, yang hakiki.

Akhlak Haji Mabrur dalam Al-Qur’an

Tanda haji mabrur juga terekam dalam firman Allah:

فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

“Maka tidak boleh berbuat rafats (kotor/tidak senonoh), tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197).

Jika dalam ibadah haji yang penuh ujian sekalipun, kita mampu menahan diri dari perkataan kotor, pertengkaran, dan kemaksiatan, maka sepantasnya setelah pulang, akhlak itu terus hidup. Jangan sampai sesaat setelah tiba di rumah, ghibah kembali merekah, emosi kembali meledak, dan hati kembali kelam.

Maka, sesungguhnya, yang lebih berat bukanlah perjalanan fisik ke Makkah dan Madinah. Yang lebih berat adalah memelihara kemabruran setelah pulang. Inilah tantangan terbesar.

Secara individual (fardiyah): akankah shalat lima waktu tetap terjaga? Apakah amal saleh terus mengalir? Apakah hati tidak kembali lalai?

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Secara sosial (ijtima’iyah): mampukah hujjaj memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di sekitarnya? Akankah mereka turut mengarahkan lingkungan menuju kebenaran? Inilah yang disebut kesalehan sosial, buah dari haji yang diterima.

Doa untuk Haji Mabrur

Marilah kita panjatkan doa untuk para jamaah haji yang selesai pulang, dan untuk diri kita sendiri yang merindukan panggilan suci:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُورًا، وَسَعْيًا مَشْكُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مَقْبُولًا، وَتِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa

“Ya Allah, jadikanlah haji ini sebagai haji yang mabrur, sa’i yang penuh syukur, dosa yang terampuni, amal saleh yang diterima, dan perdagangan (ibadah) yang tidak akan merugi.”

Semoga para jamaah haji dianugerahi haji mabrur. Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan

Rekomendasi untuk Anda