Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bulan Rabi’ul Awal dan Suksesi Kepemimpinan Umat Islam

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 19 Agustus 2026 - 16:25 WIB

Rabu, 19 Agustus 2026 - 16:25 WIB

47 Views ㅤ

ilustrasi mjusyawarah para sahabat Nabi (foto: Ist)

ADA saat ketika Madinah terasa seperti kehilangan mataharinya, yakni ketika Rasulullah ﷺ wafat di bulan Rabi’ul Awal tahun ke 10 hijriyah. Di tengah duka yang begitu dalam, para sahabat menghadapi satu pertanyaan besar: siapa yang akan memimpin umat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ?

Rabi’ul Awal menjadi saksi salah satu momentum paling menentukan dalam sejarah Islam. Pada bulan inilah, menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama Sunni, Rasulullah ﷺ wafat pada Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun 11 Hijriah.

Namun, yang jauh lebih penting daripada memperdebatkan tanggal secara rinci adalah pelajaran yang ditinggalkan: Rasulullah ﷺ adalah manusia pilihan yang pasti kembali kepada Allah Ta’ala, sedangkan perjuangan dan dakwah umat harus terus berjalan.

Dalam hari-hari terakhir kehidupannya, sakit Rasulullah ﷺ semakin berat. Salah satu isyarat penting mengenai posisi Abu Bakar terlihat ketika Rasulullah ﷺ berulang kali memerintahkan agar Abu Bakar mengimami shalat kaum Muslimin.

Baca Juga: Dari Balfour ke BoP Trump: 109 Tahun Konspirasi Melanggengkan Penjajahan atas Palestina

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat mengkhawatirkan kelembutan hati ayahnya yang mudah menangis ketika membaca Al-Qur’an. Namun Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan: “Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia.” (HR. Al-Bukhari).

Kemudian tibalah saat yang paling memilukan. Rasulullah ﷺ wafat. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sempat tidak menerima kenyataan tersebut. Abu Bakar kemudian datang, menenangkan keadaan, lalu menyampaikan kalimat yang kelak dikenang sepanjang sejarah: Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat; tetapi siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati. Ia kemudian membaca QS. Ali ‘Imran ayat 144:

. وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ … (ال عمران [٣]: ١٤٤)

“Muhammad itu hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 144).

Baca Juga: Ketulusan Cinta Indonesia-Palestina, Makna Ciuman Kening Dubes Palestina kepada Imaam Yakhsyallah Mansur

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, persoalan kepemimpinan segera menjadi perhatian. Kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah, sementara Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah kemudian mendatangi mereka. Terjadilah dialog mengenai siapa yang layak memimpin umat.

Musyawarah Memilih Pemimpin

Kaum Anshar menyampaikan gagasan agar ada pemimpin dari mereka dan seorang pemimpin dari kalangan Muhajirin. Hubab bin al-Mundzir bahkan mengusulkan formula kepemimpinan bergantian.

Abu Bakar merespons dengan argumentasi mengenai kedudukan Quraisy dalam kepemimpinan Arab ketika itu, tetapi ia tidak mengangkat dirinya sendiri. Justru ia menawarkan Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah sebagai pilihan.

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

Di titik inilah Umar menunjukkan ketegasan sekaligus kejernihan pandangan. Ia mengambil tangan Abu Bakar dan membaiatnya. Para Muhajirin kemudian mengikutinya, disusul kaum Anshar.

Peristiwa itu menjadi baiat awal di Saqifah. Riwayat Umar yang panjang mengenai peristiwa tersebut terdapat dalam Shahih al-Bukhari, termasuk penjelasan bahwa para sahabat khawatir jika persoalan kepemimpinan dibiarkan tanpa keputusan, umat akan terpecah dalam baiat yang berbeda-beda.

Namun prosesnya tidak berhenti di Saqifah. Keesokan harinya berlangsung baiat umum di masjid, ketika Abu Bakar naik ke mimbar dan kaum Muslimin memberikan baiat kepadanya.

Riwayat Anas bin Malik dalam Shahih al-Bukhari 7219 secara jelas membedakan baiat yang berlangsung di Saqifah dengan baiat umum yang dilakukan di hadapan masyarakat.

Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Para ulama kemudian membahas peristiwa ini secara luas. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari memberikan perhatian besar terhadap peristiwa wafatnya Rasulullah ﷺ dan suksesi Abu Bakar.

Sementara Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah membahas persoalan kepemimpinan umat melalui konsep imamah dan kebutuhan masyarakat terhadap otoritas yang menjaga agama sekaligus mengatur kehidupan bersama.

Dari sini kita menemukan sebuah pelajaran besar: kepemimpinan bukan sekadar persoalan siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi bagaimana umat menjaga kesinambungan risalah setelah kehilangan seorang pemimpin.

Para sahabat tidak membiarkan kesedihan membuat mereka kehilangan arah. Mereka menangis, tetapi tetap mengambil keputusan. Mereka berduka, tetapi tidak membiarkan umat tanpa kepemimpinan. Mereka berbeda pandangan, tetapi perbedaan itu dibawa ke ruang dialog dan musyawarah.

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

Al-Qur’an menggambarkan karakter masyarakat beriman sebagai mereka yang “urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka” (QS. Asy-Syura: 38). Prinsip ini tampak dalam dinamika Saqifah: ada perbedaan pendapat, ada argumentasi, ada perdebatan, tetapi akhirnya terdapat keputusan yang mengikat umat.

Rabi’ul Awal bukan sekadar bulan untuk mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ. Ia juga mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah ﷺ berarti meneruskan risalah dan dakwahnya. Rasulullah ﷺ telah wafat, tetapi shalat harus tetap ditegakkan, dakwah tetap berjalan, umat tetap membutuhkan figur pemimpin yang membimbing, mengatur dan mengarahkan mereka.

Abu Bakar bukan hanya menerima sebuah jabatan, tetapi Ia menerima amanah yang berat. Dalam pidato pertamanya sebagai khalifah, ia mengingatkan umat agar menaatinya selama ia menaati Allah dan Rasul-Nya, serta mengoreksinya apabila ia menyimpang.

Inilah kepemimpinan dalam perspektif Islam: bukan kemuliaan untuk dipamerkan, tetapi amanah untuk dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Maka ketika Rabi’ul Awal kembali datang, barangkali pertanyaan terpenting bukan sekadar kapan Rasulullah ﷺ lahir dan kapan beliau wafat. Pertanyaan yang lebih mendalam adalah: apa yang akan kita lakukan terhadap amanah (meneruskan astafet kepemimpinan khas umat Islam) yang beliau tinggalkan?

Sejarah telah mengajarkan: ketika seorang pemimpin pergi, yang menentukan masa depan umat bukanlah besarnya kesedihan, melainkan seberapa kuat mereka menjaga persatuan dan kesatuan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Kolom
Tausiyah
Sosok