Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Luar Ustadz di Rumah Asing

Bahron Ansori Editor : Arif R - Jumat, 27 Maret 2026 - 00:47 WIB

Jumat, 27 Maret 2026 - 00:47 WIB

8 Views ㅤ

Dakwah bukan sekadar menyusun kata-kata atau merangkai data, melainkan pancaran iman, keikhlasan, dan keteladanan hidup.(Foto: ig)

FENOMENA ini pelan tapi nyata. Di luar, lisannya basah dengan ayat dan hadits, mengisi majelis ke majelis, berpindah dari mimbar ke mimbar. Namanya dikenal, ceramahnya dinanti. Namun di rumah, ia hanya seperti bayangan yang lewat—tak sempat menyapa jiwa anak-anaknya, tak sempat menanamkan iman di hati keluarganya sendiri. Sebuah ironi yang menyayat: ketika dakwah menggema di luar, tetapi hening di dalam rumah.

Padahal, Islam tidak pernah memisahkan antara dakwah dan keluarga. Justru keluarga adalah madrasah pertama, ladang dakwah paling utama. Allah mengingatkan dengan tegas dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini bukan sekadar anjuran, tetapi perintah langsung—bahwa menjaga keluarga dari kebinasaan adalah tanggung jawab yang tak bisa diwakilkan.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Betapa banyak yang bersemangat menyelamatkan umat, namun lupa bahwa anak-anaknya sendiri sedang membutuhkan bimbingan. Ia mampu menjelaskan tauhid berjam-jam kepada orang lain, tetapi tak pernah duduk sepuluh menit untuk mendengar isi hati anaknya. Ia fasih menasihati tentang akhlak, namun anaknya belajar akhlak dari dunia luar tanpa arah. Di sinilah letak kegagalan yang sering tidak disadari.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam memberikan teladan yang sangat jelas. Beliau adalah pendidik umat terbaik, namun tetap menjadi kepala keluarga yang penuh perhatian. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya, dan itu akan ditanya di hadapan Allah—bukan hanya tentang ceramahnya, tetapi tentang anak-anaknya.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Kita sering lupa bahwa keberhasilan dakwah bukan hanya diukur dari banyaknya jamaah yang hadir, tetapi dari seberapa kokoh iman di dalam rumah sendiri. Apa artinya ribuan orang tersentuh ceramah kita, jika anak kita sendiri jauh dari shalat? Apa maknanya dikenal sebagai ustadz, jika di rumah kita tidak menjadi teladan?

Lebih menyedihkan lagi, sebagian anak dari orang-orang yang aktif berdakwah justru tumbuh dengan luka batin. Mereka merasa ditinggalkan, tidak didengar, tidak diperhatikan. Mereka melihat ayahnya dicintai banyak orang, tetapi tidak merasakan cinta itu di rumah. Dari sinilah muncul jarak, bahkan penolakan terhadap nilai-nilai yang seharusnya diwariskan.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang doa para hamba-Nya yang saleh: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata…” (QS. Al-Furqan: 74). Anak yang menjadi penyejuk mata tidak lahir secara kebetulan, tetapi dari perhatian, doa, dan pendidikan yang terus-menerus. Itu membutuhkan waktu, kehadiran, dan ketulusan.

Imam besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal pernah menegaskan bahwa memperbaiki keluarga adalah bagian dari amanah agama yang tidak boleh diabaikan. Para ulama salaf sangat menjaga waktu mereka untuk keluarga, meskipun kesibukan ilmiah mereka sangat tinggi. Mereka memahami bahwa rumah adalah fondasi umat.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam juga bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini seolah menjadi cermin bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak berhenti di mimbar, tetapi diuji di ruang tamu, di meja makan, di saat-saat sederhana bersama keluarga.

Fenomena “ustadz di luar, asing di rumah” adalah tanda zaman yang harus disadari. Kesibukan yang tidak terkelola, prioritas yang terbalik, dan pemahaman dakwah yang tidak utuh menjadi penyebabnya. Dakwah bukan hanya ceramah, tetapi juga sentuhan lembut kepada anak, nasihat penuh cinta kepada pasangan, dan keteladanan dalam keseharian.

Kita perlu jujur bertanya pada diri sendiri: sudahkah rumah kita merasakan dakwah kita? Sudahkah anak-anak kita merasakan kehangatan iman dari kita? Ataukah mereka justru mencari makna hidup dari luar karena kosongnya perhatian di dalam rumah?

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Luangkan waktu, walau sedikit, tapi penuh makna. Duduk bersama anak, dengarkan mereka, ajarkan doa, tanamkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadikan rumah sebagai majelis kecil yang hidup dengan dzikir, ilmu, dan kasih sayang.

Karena pada akhirnya, bukan hanya umat yang akan menjadi saksi, tetapi keluarga kita sendiri. Dan di hadapan Allah kelak, mungkin bukan aktivitas dakwah yang pertama kali ditanya, tetapi anak-anak yang pernah kita abaikan.

Semoga kita tidak termasuk orang yang hebat di mata manusia, tetapi lemah di hadapan keluarga dan Rabb-nya.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Rekomendasi untuk Anda

MINA Edu
Kolom
Artikel
MINA Edu
MINA Edu