Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Mempersatukan Umat

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 20 Agustus 2026 - 12:54 WIB

Kamis, 20 Agustus 2026 - 12:54 WIB

229 Views ㅤ

Masjid di Turkiye (foto: Fpik)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Mempersatukan Umat.

Dalam membangun persatuan umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mempersatukannya dengan berlandaskan kasih sayang, keteladanan, kesabaran, musyawarah dan ukhuwah (persaudaraan).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memahami bahwa umat yang kuat bukanlah berarti yang tidak punya perbedaan, tetapi umat yang kuat adalah mereka yang mampu mengelola perbedaan sehingga bisa saling melengkapi satu sama lain.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Di Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menghadapi masyarakat yang beragam. Ada kaum Muhajirin dari Makkah, ada kaum Anshar yang merupakan penduduk asli, ada Yahudi yang sudah tingga beratus-ratus tahun dan suku-suku lainnya yang belum memeluk Islam.

Khutbah selengkapnya, silakan simak berikut:

بســــــــــــــــــم الله الرحمن الرحيم

Khutbah pertama:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terus-menerus melimpahkan berbagai nikmat dan karunia-Nya, yang tiada terhitung jumlahnya, kepada diri, keluarga, masyarakat dan negeri kita tercinta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga terus-menerus mencurahkan kasih sayang dan hidayah-Nya sehingga kita masih tetap kokoh di atas iman dan Islam dan berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Al-Jama’ah dalam kehidupan kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga masih memberikan kesempatan kepada kita semua, untuk bertaubat atas segala dosa, sekaligus memberi kesempatan kepada kita untuk terus berbenah, memperbaiki diri dan beramal shaleh, sebagai wujud keimanan dan ketakwaaan kepada-Nya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Dalam kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah [9] ayat 128, yang berbunyi:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ (التوبة [٩]: ١٢٨)

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari dirimu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, (ia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Para ahli tafsir menjelaskan pengertian kata: أَنْفُسِكُمْ (dirimu sendiri), yang dimaksud adalah bangsa Arab. Sementara Al-Zayyad menafsirkan, yang dimaksud dengan dirimu sendiri adalah umat manusia, sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam diutus bukan kepada bangsa Arab saja.

Kedua definisi tersebut dapat kita terima, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memang berasal dari bangsa Arab. Namun, beliau diutus bukan untuk bangsa Arab saja, melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, sejak awal dakwah beliau, banyak orang non-Arab yang menyambut seruannya dan menyatakan diri masuk Islam. Di antara para sahabat dari kalangan non-Arab seperti: Bilal bin Rabah dari Ethiopia yang berkulit hitam, Shuhaib bin Sinan dari Romawi yang berkulit putih, Salman Al-Farisi dari Persia yang berkulit kuning dan banyak lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sangat mencintai umatnya. Beliau ingin sekali agar kita semua selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat sehingga semua risalah yang diwahyukan kepadanya disampaikan dengan sempurna kepada umat, sebagaimana dalam hadits dari sahabat Abu Dzar Al-Ghiffari Radhiallahu anhu,

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ (اَبُو ذَرٍّ) فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ (روه الطبرانى)

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah wafat meninggalkan kami, dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara, melainkan beliau telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka, melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.” (HR At-Thabrani)

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Demikian pula dalam membangun persatuan umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mempersatukannya dengan berlandaskan kasih sayang, keteladanan, kesabaran, musyawarah dan ukhuwah (persaudaraan).

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memahami bahwa umat yang kuat bukanlah berarti yang tidak punya perbedaan, tetapi umat yang kuat adalah mereka yang mampu mengelola perbedaan sehingga bisa saling melengkapi satu sama lain.

Di Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menghadapi masyarakat yang beragam. Ada kaum Muhajirin dari Makkah, ada kaum Anshar yang merupakan penduduk asli, ada Yahudi yang sudah tingga beratus-ratus tahun dan suku-suku lainnya yang belum memeluk Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau juga membuat perjanjian dengan kaum Yahudi dan suku lainnya untuk bersama-sama menjaga kota Madinah dari ancaman musuh.

Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar bukan sekadar simbol, tetapi lahir dari keikhlasan, dalam wujud kasih sayang. Kaum Anshar memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin. Mereka berbagi harta, tempat tinggal, pekerjaan dan berbagai kebutuhan kehidupan lainnya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Inilah persatuan yang melahirkan kepedulian, pengorbanan dan solidaritas antar sesama umat Islam.

Persatuan umat tidak berarti harus menghapus perbedaan, tetapi menyatukan hati dan langkah dalam perkara-perkara yang menjadi kepentingan bersama.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Dari kisah Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam membangun kehidupan masyarakat di Madinah, setidaknya ada empat prinsip penting dalam mempersatukan umat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Pertama, persatuan yang dibangun atas dasar iman dan takwa.

Persatuan dalam Islam bukan sekadar hubungan kesukuan, ekonomi atau kepentingan lainnya. Ia adalah ikatan iman, berbalut ketakwaan, sehingga membuahkan persaudaraan (ukhuwah Islamiyah).

Jika iman dan takwa sudah menjadi dasarnya, maka perbedaan organisasi, pendidikan, suku atau persoalan-persoalan khilafiyah tidak akan melemahkan ukhuwah.

Kedua, persatuan melahirkan sikap saling menghormati dan menghindari prasangka.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Di zaman komunikasi digital seperti sekarang ini, persatuan umat menghadapi tantangan yang semakin besar.

Berita dapat menyebar cepat. Video-video provokatif dapat memancing kemarahan. Komentar-komentar di media sosial dapat memperuncing perbedaan.

Karena itu, seorang Muslim harus bertabayun (kroscek). Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya. Jauhi prasangka buruk dan tetap saling menghormati menjadi kunci menjaga persatuan umat.

Ketiga, persatuan harus diwujudkan dalam tolong-menolong.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Jika ada saudara yang kesulitan, maka semaksimal mungkin kita bantu. Jika ada yang lemah, kita berupaya menguatkan. Jika ada yang berkonflik, kita berusaha mendamaikan.

Semangat tolong-menolong menjadi bukti nyata persatuan umat Islam di tengah bencana yang terjadi di berbagai negeri dan iklim politik global yang dinamis seperti saat ini.

Keempat, persatuan membutuhkan kepemimpinan yang amanah dan kaderisasi yang baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak hanya membangun masyarakat pada masa hidup beliau saja, tetapi juga mendidik generasi yang mampu melanjutkan perjuangan setelah beliau wafat.

Para sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan sahabat-sahabat lainnya radhiallahu anhum merupakan generasi yang dipersiapkan melanjutkan estafeta kepemimpinan umat.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk meneladani kehidupan dan perjuangan Rasulullah ﷺ terutama dalam membangun masyarakat yang bersatu, berjamaah dan berkasih sayang.

Keteladanan itu hendaknya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka, setiap Muslim memiliki tanggung jawab sesuai kemampuan dan perannya masing-masing.

Untuk membangun umat Islam yang besar dan beragam ini, tentu membutuhkan kepemimpinan yang amanah. Sosok pemimpin yang mampu membimbing, mengatur, melindungi dan mengarahkan umat menuju ketaatan.

Maka, mari kita terus memperbaharui kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ, memperkuat tekad untuk meneruskan perjuangan beliau, membangun persatuan umat, memperkuat ukhuwah, menumbuhkan kepemimpinan yang amanah, dengan meneladani kehidupan beliau, menuju kehidupan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada ucapan dan pengakuan, tetapi benar-benar menjadi kekuatan untuk membangun peradaban.

Semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan kepada kita untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam mempersatukan umat. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah kedua 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Hikmah
Indonesia