Gaza, MINA — Citra satelit terbaru yang diperbarui di Google Maps mengungkap luasnya kehancuran di Jalur Gaza, dengan sejumlah kawasan permukiman tampak lenyap dan wilayah perkotaan berubah menjadi hamparan puing.
Citra udara yang diperbarui pada Senin (28/9) memperlihatkan kehancuran tidak hanya terjadi pada bangunan secara individual, tetapi juga meluas hingga blok-blok permukiman yang sebelumnya padat penduduk.
Anadolu melaporkan, sejumlah kawasan yang sebelumnya dipenuhi rumah dan bangunan kini terlihat sebagai area kosong yang dipenuhi reruntuhan.
Perbandingan citra sebelum dan setelah agresi militer Zionis Israel menunjukkan perubahan besar pada lanskap perkotaan Gaza.
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
Kerusakan tersebut masih mengancam keselamatan warga Palestina meskipun gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 telah menghentikan sebagian besar pertempuran.
Sejumlah bangunan yang sebelumnya rusak dilaporkan roboh dan menimpa warga.
Ribuan bangunan lain mengalami keretakan atau kerusakan parah sehingga berisiko runtuh, terutama ketika menghadapi hujan, angin dan kondisi cuaca lainnya.
Salah satu contoh terjadi pada September ketika sebuah bangunan enam lantai yang sebelumnya rusak akibat serangan Zionis Israel runtuh di Kota Gaza.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Sedikitnya 14 warga Palestina, termasuk lima anak-anak, tewas dalam peristiwa tersebut, menurut sumber Palestina yang dikutip Anadolu.
Penilaian satelit UN Satellite Centre (UNOSAT) menunjukkan sekitar 201.290 bangunan, atau 82 persen dari seluruh bangunan di Jalur Gaza, mengalami kerusakan hingga 16 Juni 2026.
Dari jumlah tersebut, sekitar 134.422 bangunan dinyatakan hancur, 13.848 mengalami kerusakan parah, 28.096 mengalami kerusakan sedang dan 24.924 lainnya kemungkinan mengalami kerusakan.
UNOSAT juga memperkirakan sekitar 328.627 unit hunian terdampak kerusakan.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Data tersebut menunjukkan tingkat kehancuran yang jauh melampaui kerusakan pada bangunan secara individual dan telah memengaruhi lingkungan permukiman secara luas.
Angka 80 persen lebih bangunan yang terdampak tersebut memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi dalam pemulihan Gaza, terutama terkait tempat tinggal, layanan dasar dan pembangunan kembali infrastruktur.
UNOSAT sebelumnya juga telah melakukan sejumlah penilaian berbasis citra satelit untuk memetakan kerusakan bangunan di Gaza.
Lembaga tersebut menggunakan citra beresolusi tinggi untuk mengidentifikasi bangunan yang hancur maupun mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Selain bangunan yang telah sepenuhnya hancur, bangunan yang masih berdiri juga menjadi ancaman bagi warga karena sebagian mengalami kerusakan struktural.
Situasi tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa tinggal di tenda atau tempat penampungan sementara.
Menurut Anadolu, pembatasan masuknya unit hunian sementara atau karavan turut memperburuk krisis tempat tinggal di Gaza.
Laporan tersebut juga mengutip laporan Pelapor Khusus PBB mengenai hak atas perumahan layak yang menyebut lebih dari 200.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Jalur Gaza selama hampir dua tahun.
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
Sementara itu, kehancuran akibat agresi Zionis Israel tidak hanya mencakup rumah warga.
Infrastruktur penting, jalan, fasilitas pelayanan publik dan berbagai bangunan lainnya turut mengalami kerusakan dalam skala luas.
Citra satelit terbaru Google Maps kini memberikan gambaran visual mengenai perubahan tersebut, dengan kawasan yang sebelumnya merupakan permukiman padat terlihat berubah menjadi hamparan puing.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic