Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari 450 Pasien Kritis, Hanya 5 Boleh Keluar Gaza Setelah Rafah Dibuka

sri astuti Editor : Ali Farkhan Tsani - Senin, 2 Februari 2026 - 21:47 WIB

Senin, 2 Februari 2026 - 21:47 WIB

5 Views ㅤ

Pasien Gaza dirawat di lantai akibat keterbatasan fasilitas. (Foto: Twitter/@DrTedros)

Gaza, MINA – Hanya lima dari 450 pasien Palestina dalam kondisi kritis yang diperbolehkan keluar dari Jalur Gaza pada Senin (2/2), setelah Israel membuka kembali Penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir untuk lalu lintas terbatas.

“Kami diberitahu bahwa hari ini hanya lima pasien yang akan diizinkan keluar dengan dua pendamping melalui penyeberangan Rafah,” kata Dr. Mohammed Abu Salmiya, Direktur Rumah Sakit Al-Shifa di utara Kota Gaza kepada Al Jazeera.

“Kami menginginkan mekanisme yang jelas untuk keluarnya pasien dan korban luka dari Gaza untuk perawatan,” tambahnya.

Abu Salmiya mengatakan ada 20.000 pasien di wilayah tersebut, termasuk 4.500 anak-anak, yang sangat membutuhkan perawatan.

Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur

Menurut Kementerian, evakuasi setidaknya 500 pasien per hari diperlukan untuk meringankan penderitaan mereka.

“Alasan evakuasi massal diperlukan adalah karena militer Israel benar-benar menghancurkan sistem kesehatan Gaza,” kata Abu Salmiya.

Bagi warga Palestina di Gaza, penyeberangan Rafah telah lama menjadi satu-satunya penghubung ke dunia luar.

Pasukan Israel menduduki sisi Palestina dari penyeberangan tersebut pada Mei 2024, menghancurkan bangunan-bangunannya, mencegah perjalanan, dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah, terutama bagi pasien.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Mereka mengerahkan tentara di zona penyangga militer di sepanjang Koridor Philadelphi, di mana mereka masih berada hingga hari ini.

Fase pertama dari rencana gencatan senjata Gaza 20 poin Trump, yang mulai berlaku pada Oktober untuk mengakhiri perang genosida Israel di Gaza, menyerukan Israel untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah tersebut dan membuka “penyeberangan Rafah di kedua arah”.

Namun, Israel telah melanggar perjanjian tersebut dan terus menutupnya serta membunuh ratusan warga sipil dan memblokir bantuan yang sangat dibutuhkan.

Israel juga telah mendirikan pos pemeriksaan militer untuk warga Palestina yang memasuki Gaza dari Mesir dan menyebutnya koridor “Regavim”. Pos pemeriksaan tersebut berada di bawah pengawasan dinas keamanan Israel dan terletak di area yang dikendalikan militer di luar penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Juru bicara militer Israel mengatakan tentara akan memeriksa identitas mereka yang tiba dengan daftar yang disetujui oleh badan intelijen Israel, dan akan melakukan penggeledahan menyeluruh terhadap barang-barang mereka.

Namun, tidak seperti masuknya warga Palestina ke Gaza, Israel hanya akan mengawasi keluarnya warga Palestina dari Gaza ke Mesir dari jarak jauh dari ruang kendali menggunakan pengenalan wajah. []

 

 

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Mi’raj News Agency (MINA) 

 

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Rekomendasi untuk Anda