Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Imam Syafi’i, Kepada Gaza Kerinduannya Berlabuh

Redaksi Editor : Arif R - Selasa, 9 Juni 2026 - 19:55 WIB

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:55 WIB

167 Views ㅤ

Ilustrasi

“Sesungguhnya aku merindukan tanah Gaza, meskipun aku berusaha menyembunyikan perasaan itu setelah perpisahan.”

UNGKAPAN tersebut bukan lahir dari seorang penyair yang tengah mengenang kampung halaman, melainkan dari Imam Syafi’i, ulama besar yang mazhabnya diikuti oleh jutaan umat Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Di balik keluasan ilmunya sebagai ahli fikih, hadis, dan ushul fikih, tersimpan kerinduan mendalam kepada Gaza, kota tempat ia dilahirkan. Jauh sebelum menjadi simbol perjuangan rakyat Palestina, kota ini telah mencatatkan namanya dalam sejarah peradaban Islam sebagai tempat kelahiran salah seorang ulama terbesar sepanjang masa.

Imam Syafi’i Lahir di palestina/">Gaza Palestina

Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud

Imam asy-Syafi’i memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Qurasyi. Beliau lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 150 Hijriah.

Dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i, Imam Al-Baihaqi meriwayatkan pengakuan langsung beliau:

“Aku lahir di Gaza pada tahun 150 Hijriah, dan aku dibawa ke Makkah ketika berusia dua tahun.”

Kesaksian tersebut menjadi bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Gaza merupakan tanah kelahiran Imam Syafi’i, pendiri salah satu mazhab terbesar dalam Islam.

Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud

Syair Imam Syafi’i tentang Gaza

Meski meninggalkan Gaza sejak masih kanak-kanak, kecintaan Imam Syafi’i kepada tanah kelahirannya tidak pernah sirna. Kerinduan itu terekam dalam bait-bait syair yang kemudian diabadikan para sejarawan Islam:

وإنّي لمشتاقٌ إلى أرضِ غزَّةَ
وإن خانَني بعدَ التفرُّق كِتماني

سقَى اللهُ أرضاً لو ظفرتُ بتُربِها
كَحَلتُ به من شدّة الشوق أجفاني

Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam

Artinya:

“Sesungguhnya aku merindukan tanah Gaza, meskipun aku berusaha menyembunyikan perasaan itu setelah perpisahan.

Semoga Allah menyirami tanah itu. Andaikan aku memperoleh segenggam tanahnya, niscaya akan kuusapkan pada kedua mataku karena begitu besar kerinduan yang kurasakan.”

Syair tersebut memperlihatkan sisi lain Imam Syafi’i yang jarang dibahas. Sosok yang dikenal tegas dalam berijtihad dan tajam dalam perdebatan ilmiah itu ternyata memiliki ikatan batin yang kuat dengan Gaza. Jarak dan waktu tidak mampu menghapus kenangan terhadap tanah tempat ia pertama kali menghirup udara kehidupan.

Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram

Perjalanan Imam Syafi’i Menuntut Ilmu

Dari Gaza pula perjalanan hidup seorang anak yatim dimulai. Setelah dibawa ke Makkah oleh ibunya, Imam Syafi’i tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Namun kemiskinan tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu.

Dengan kecerdasan yang luar biasa, beliau menghafal Al-Qur’an sejak usia muda, menguasai bahasa Arab secara mendalam, lalu berguru kepada para ulama besar pada zamannya. Salah satu guru terpentingnya adalah Imam Malik bin Anas di Madinah.

Kecerdasan Imam Syafi’i membuatnya mampu melahirkan metode ijtihad yang khas. Pemikirannya kemudian berkembang menjadi Mazhab Syafi’i yang menyebar luas ke berbagai wilayah dunia Islam, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.

Baca Juga: Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta demi Hijrah

Al-Qadhi Iyadh dalam Tartibul Madarik meriwayatkan sebuah kisah menarik. Suatu malam, seorang pejabat Abbasiyah bernama Harun bin Abdullah az-Zuhri bermalam di rumah Imam Syafi’i.

Saat itu Imam Syafi’i sedang menulis kitab hingga larut malam. Sang tamu mempertanyakan mengapa beliau bersusah payah begadang dan menulis pandangan-pandangannya yang berbeda dari mazhab yang berkembang di Madinah.

Imam Syafi’i menjawab bahwa hasil ijtihadnya memang berbeda dengan sebagian pendapat gurunya. Namun beliau meyakini bahwa ilmu yang sedang ditulisnya suatu hari akan memberikan manfaat besar bagi umat Islam.

Sejarah membuktikan keyakinan tersebut. Berabad-abad setelah wafatnya, karya-karya Imam Syafi’i tetap dipelajari di pesantren, perguruan tinggi, dan majelis ilmu di seluruh dunia.

Baca Juga: Sa’d bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qadisiyah yang Mengguncang Kekaisaran Persia

Kerinduan Imam Syafi’i kepada Gaza mengingatkan bahwa Palestina bukan sekadar wilayah konflik. Negeri ini juga merupakan tanah yang melahirkan ulama, cendekiawan, dan pewaris ilmu yang memberi kontribusi besar bagi peradaban Islam.

Warisan keilmuan Imam Syafi’i membuktikan bahwa Palestina bukan hanya tanah para nabi, tetapi juga tanah para ulama. Dari Gaza lahir seorang imam yang pemikirannya terus hidup lebih dari dua belas abad kemudian.

Hari ini, ketika nama Imam Syafi’i disebut di berbagai masjid, pesantren, dan majelis ilmu, sesungguhnya ada jejak Gaza yang ikut hidup dalam ingatan sejarah Islam.

Jejak Gaza dalam Warisan Imam Syafi’i

Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits

Kisah Imam Syafi’i mengingatkan umat Islam bahwa Palestina memiliki kontribusi besar dalam sejarah peradaban Islam. Negeri yang hari ini terluka oleh perang, penjajahan, dan genosida itu pernah melahirkan tokoh agung yang menerangi dunia dengan ilmu, hikmah, dan keteladanan.

Jika seorang ulama sebesar Imam Syafi’i saja merindukan Gaza, bagaimana mungkin kita melupakan negeri yang melahirkan begitu banyak ulama, sejarah, dan peradaban Islam?

Barangkali karena itulah, Gaza bukan sekadar nama sebuah kota. Ia adalah bagian dari ingatan umat, tempat lahirnya seorang imam besar yang hingga kini tetap mengajarkan jalan ilmu kepada jutaan Muslim di seluruh dunia. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa

Rekomendasi untuk Anda