Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia Dorong Negara BRICS Gunakan Mata Uang Lokal dalam Transaksi Perdagangan

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 12 September 2026 - 13:52 WIB

Sabtu, 12 September 2026 - 13:52 WIB

1007 Views ㅤ

Rupiah di Angka Rp17.577, Pasar Cermati Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah
Nilai tukar rupaih terhadap dolar AS (foto: IG)

Mumbai, MINA – Indonesia mendorong negara-negara anggota BRICS memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan serta meningkatkan konektivitas sistem pembayaran lintas negara untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya fragmentasi ekonomi global.

Dorongan tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam pertemuan kedua Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS atau BRICS Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Mumbai, India, Sabtu (12/9).

Destry menilai BRICS memiliki peluang strategis untuk mengubah berbagai tantangan global menjadi ketahanan bersama melalui kerja sama konkret. Menurutnya, penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal dan konektivitas pembayaran perlu tetap memperhatikan tahapan pembangunan serta prioritas nasional masing-masing negara.

Di sela pertemuan tersebut, Destry juga bertemu Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra. Pertemuan bilateral itu membahas percepatan kerja sama transaksi mata uang lokal antara Indonesia dan India, pengaturan pertukaran mata uang bilateral, serta pengembangan konektivitas pembayaran melalui sistem QR lintas negara.

Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat

Kerja sama Indonesia-India tersebut menjadi salah satu langkah konkret untuk menerjemahkan agenda BRICS ke dalam konektivitas ekonomi dan keuangan. Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dapat mengurangi kebutuhan konversi melalui mata uang ketiga dalam perdagangan kedua negara, meski penerapannya tetap bergantung pada mekanisme dan kesepakatan masing-masing negara.

Pertemuan BRICS FMCBG juga membahas sejumlah agenda lain, antara lain transformasi digital, kecerdasan buatan, ketahanan siber, keuangan berkelanjutan, konektivitas pembayaran lintas negara, serta penggunaan mata uang lokal. Para anggota juga mendorong penguatan arsitektur keuangan global, termasuk reformasi tata kelola Dana Moneter Internasional (IMF) agar suara negara berkembang lebih terwakili.

Penguatan sistem pembayaran lintas negara menjadi salah satu agenda penting BRICS. Reuters melaporkan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral BRICS juga menyerukan sistem pembayaran yang lebih cepat, murah, aman, dan dapat saling terhubung. Sejumlah negara juga tengah mengkaji keterhubungan mata uang digital bank sentral untuk mempermudah transaksi lintas batas.

BRICS saat ini beranggotakan 11 negara, yakni Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Indonesia bergabung sebagai anggota penuh pada 2025. Di tengah semakin besarnya kelompok tersebut, penguatan transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi anggota tanpa harus bergantung pada satu mekanisme pembayaran global. []

Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Amerika
Internasional
Amerika
Rupiah di Angka Rp17.577, Pasar Cermati Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah
Indonesia