New York, MINA – Investor miliarder Ray Dalio mengatakan utang Amerika Serikat sedang memasuki zona berbahaya, mengingat dalam siklus utang panjangnya, akan melemahkan permintaan obligasi pemerintah, dan kenaikan biaya pinjaman jangka panjang melampaui krisis utang sebelumnya.
Dalam sebuah postingan di X, pendiri Bridgewater Associates itu mengatakan perkembangan terbaru, termasuk Jepang menjual beberapa kepemilikan Treasury AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS bersama kelemahan dolar, dan keputusan Departemen Keuangan AS untuk membeli obligasi konsisten dengan dinamika utang.
Dalio mengibaratkan sistem kredit dengan sistem peredaran darah manusia. Utang dapat menopang pertumbuhan ekonomi jika digunakan untuk membiayai kegiatan produktif yang menghasilkan pendapatan cukup untuk melunasi pokok dan bunganya.
Namun, ketika laju pinjaman melampaui kemampuan untuk melunasinya, pembayaran utang mulai menggeser pos pengeluaran lainnya. Dikutip dari Business Today, Selasa (25/8).
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
Pada akhirnya, kreditur mungkin menjadi enggan membeli atau memperpanjang jatuh tempo utang pemerintah. Hal ini menciptakan kesenjangan antara pasokan obligasi yang perlu dijual pemerintah dan permintaan terhadap obligasi tersebut.
Pada titik ini, Dalio melihat dua pilihan utama: membiarkan suku bunga naik untuk menarik pembeli, yang berpotensi merusak pasar dan aktivitas ekonomi, atau membiarkan bank sentral mencetak uang dan membeli surat utang pemerintah. Pilihan kedua ini dapat melemahkan mata uang dan meningkatkan tekanan inflasi.
Ia mengidentifikasi tiga indikator yang harus dicermati investor: beban pembayaran bunga utang pemerintah dibandingkan dengan pendapatan pemerintah; jumlah utang pemerintah yang dijual dibandingkan dengan permintaan; serta sejauh mana bank sentral mencetak uang untuk membeli utang pemerintah.
Dolar yang Melemah
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Dalio juga mengatakan bahwa tahap akhir dari siklus utang besar biasanya ditandai dengan kombinasi kenaikan suku bunga jangka panjang, pelemahan mata uang dolar, dan menurunnya minat terhadap utang pemerintah berjangka waktu lebih panjang.
Itulah sebabnya ia memberikan perhatian khusus pada kenaikan imbal hasil obligasi AS dan pelemahan dolar baru-baru ini.
Ia berpendapat bahwa kombinasi antara penerbitan utang yang sangat besar dan permintaan yang lebih lemah terhadap utang tersebut dapat memberikan tekanan yang meningkat pada sistem keuangan AS. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
















Mina Indonesia
Mina Arabic