Berlin, MINA — Badan intelijen domestik Jerman, Federal Office for the Protection of the Constitution (BfV), menyusun laporan khusus mengenai gerakan pro-Palestina di negara itu di tengah meningkatnya demonstrasi menentang agresi Zionis Israel di Jalur Gaza.
Dalam laporan tersebut, BfV menyebut gerakan yang mereka kategorikan sebagai “ekstremisme pro-Palestina sekuler” terdiri dari berbagai organisasi, jaringan, kelompok aktivis, hingga individu yang aktif menyuarakan dukungan untuk Palestina. Mengutip Middle East Eye, Rabu (13/5).
Laporan itu juga memuat pembahasan mengenai dugaan antisemitisme, simbol-simbol yang digunakan dalam aksi pro-Palestina, serta hubungan antara aktivis pro-Palestina dengan kelompok sayap kiri dan kelompok Islamis di Jerman.
Menurut BfV, sebagian kelompok pro-Palestina di Jerman telah lama aktif, sementara sebagian lainnya muncul setelah perang genosida Zionus Israel di Gaza pecah pada Oktober 2023.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Badan intelijen Jerman tersebut menilai kelompok-kelompok itu memiliki kesamaan sikap, yakni menentang Zionis Israel dan tidak mengakui keberadaan negara tersebut.
Sejak genosida Gaza oleh Zionis Israel dimulai, aparat keamanan Jerman dilaporkan semakin ketat menangani aksi demonstrasi pro-Palestina, terutama di ibu kota Berlin.
Pemerintah Jerman bahkan beberapa kali melarang aksi solidaritas untuk Palestina dengan alasan keamanan dan kekhawatiran munculnya ujaran antisemitisme.
Dalam laporannya, BfV menyebut berbagai demonstrasi di Berlin kerap diwarnai slogan dan simbol yang dianggap anti-Israel.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Belakangan, rekaman video penanganan demonstrasi pro-Palestina oleh polisi Berlin ramai beredar di media sosial.
Video tersebut memperlihatkan aparat menyeret demonstran, menjatuhkan mereka ke tanah, dan melakukan penangkapan secara paksa.
Sejumlah demonstran, termasuk anak di bawah umur, turut diamankan dalam aksi tersebut.
“Mereka menangkap kami hanya karena kami orang Palestina dan karena kami menolak genosida di Gaza,” kata salah seorang demonstran.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Pada Maret lalu, keluarga dan pengacara sejumlah aktivis anti-perdagangan senjata mengungkap para tahanan mengalami isolasi ketat di penjara Jerman.
Mereka ditangkap setelah melakukan aksi di fasilitas milik perusahaan senjata terbesar Zionis Israel yang berada di Jerman.
Sementara itu, mantan Wakil Kanselir Jerman, Robert Habeck, sebelumnya menegaskan dukungan negaranya terhadap Zionis Israel setelah agresi militer Gaza dimulai.
Jerman hingga kini masih menjadi pemasok senjata terbesar kedua bagi Zionis Israel setelah Amerika Serikat.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Meski sempat menghentikan sebagian pengiriman senjata pada Oktober 2025 terkait operasi militer Israel di Gaza City, pengiriman senjata kembali dilanjutkan pada November.
Selain itu, Jerman bersama Italia juga menolak usulan Spanyol, Irlandia, dan Slovenia untuk menangguhkan perjanjian perdagangan antara Uni Eropa dan Zionis Israel.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
















Mina Indonesia
Mina Arabic