Al Quds, MINA – Penjajah Zionis Israel memberlakukan sejumlah pembatasan ketat di Masjid Al-Aqsa pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, termasuk membatasi jamaah, melarang warga Palestina masuk, menutup ruang shalat Kubah Batu, hingga membatasi penggunaan pengeras suara azan.
Akibat pembatasan Israel di Masjid Al-Aqsa tersebut, kompleks masjid di Yerusalem itu tampak sepi jamaah pada malam-malam terakhir Ramadhan yang biasanya dipadati puluhan ribu umat Islam untuk melaksanakan shalat, iktikaf, dan berbagai ibadah lainnya.
Masjid Al-Aqsa dikenal sebagai pusat aktivitas ibadah umat Islam pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, ketika jamaah dari Yerusalem, wilayah Palestina, hingga berbagai negara biasanya datang untuk beribadah. Mengutip Al-Quds, Jumat (13/3).
Menurut laporan media Palestina tersebut, penutupan Masjid Al-Aqsa oleh Israel dinilai sebagai langkah yang belum pernah terjadi sejak penjajahan Israel atas Yerusalem Timur pada 1967.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Di bawah pembatasan ketat Israel di Masjid Al-Aqsa, shalat hanya diizinkan untuk lima orang saja, yaitu imam, muazin, pemimpin shalat, penjaga mimbar, dan direktur masjid.
Akibat pembatasan jamaah di Masjid Al-Aqsa oleh Israel, suasana spiritual yang biasanya dipenuhi puluhan ribu jamaah berubah menjadi sunyi.
Seorang imam Masjid Al-Aqsa yang telah memimpin shalat selama lebih dari empat dekade menggambarkan kondisi tersebut sebagai “ketiadaan jamaah secara paksa”, karena biasanya ribuan warga Palestina dan umat Islam dari berbagai negara hadir untuk beribadah pada malam-malam terakhir Ramadhan.
Selain itu, sejak meningkatnya ketegangan militer pada akhir Februari antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, azan dan shalat di Masjid Al-Aqsa hanya disiarkan melalui pengeras suara internal, sehingga warga di sekitar Kota Tua Yerusalem tidak dapat mendengar panggilan shalat seperti biasanya.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Pembatasan Zionis Israel di Masjid Al-Aqsa juga mencakup penutupan ruang shalat Kubah Batu (Dome of the Rock), yang dilaporkan tetap ditutup sehingga semakin memperkuat isolasi kompleks Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan.
Dokter Yerusalem Majd Al-Hadmi, yang juga menjadi relawan imam dan muazin selama bertahun-tahun, menyebut penutupan dan pembatasan Israel di Masjid Al-Aqsa sebagai tindakan tidak masuk akal serta bentuk politisasi alasan keamanan.
Menurutnya, Masjid Al-Aqsa merupakan ruang sosial dan spiritual yang mempertemukan warga Palestina dari berbagai wilayah.
Karena itu, pembatasan akses Israel ke Masjid Al-Aqsa dinilai sebagai upaya memutus hubungan masyarakat Palestina dengan kota suci tersebut.
Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid
Data historis menunjukkan penutupan penuh Masjid Al-Aqsa dan larangan shalat Jumat hanya terjadi beberapa kali sejak 1967. Namun langkah terbaru ini menunjukkan peningkatan penggunaan kebijakan penutupan menyeluruh terhadap situs suci Islam tersebut.
Pemerintah Yerusalem memperingatkan bahwa pembatasan Israel di Masjid Al-Aqsa dapat menjadi bagian dari upaya mengubah status hukum dan historis masjid tersebut, yang selama ini berada di bawah pengelolaan Wakaf Islam.
Sementara itu, warga Palestina di Yerusalem menyatakan kesedihan mendalam karena Masjid Al-Aqsa kosong pada malam-malam paling suci Ramadhan, ketika seharusnya kompleks masjid dipenuhi jamaah yang beribadah sepanjang malam.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
















Mina Indonesia
Mina Arabic