Washington, MINA – Kabinet Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengalami perpecahan internal seiring berlanjutnya perang antara Amerika Serikat dan Iran yang kian memanas.
Laporan terbaru menyebutkan adanya perbedaan tajam di antara para pejabat tinggi pemerintahan terkait arah kebijakan perang. Al-Jazeera melaporkan, Jumat (14/4).
Sebagian pihak mendorong pendekatan militer yang lebih agresif, sementara lainnya menginginkan jalur diplomasi untuk meredakan konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Perpecahan ini mencerminkan tekanan politik yang semakin besar terhadap pemerintahan Trump, terutama karena konflik belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Bahkan, perang yang semula diperkirakan berlangsung singkat kini telah melampaui target waktu awal dan berkembang menjadi krisis regional yang kompleks.
Di sisi lain, kebijakan Gedung Putih dalam menangani Iran dinilai tidak konsisten, dengan berbagai pernyataan yang berubah-ubah terkait tujuan utama operasi militer.
Sejumlah analis menilai hal ini memperburuk koordinasi internal pemerintahan serta membingungkan sekutu internasional Amerika Serikat.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya itu juga berdampak luas terhadap stabilitas global, termasuk lonjakan harga energi, gangguan jalur perdagangan internasional, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Selain itu, blokade dan operasi militer di sekitar Selat Hormuz semakin memperumit situasi ekonomi dunia.
Sejumlah pihak internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, terus menyerukan penghentian konflik dan mendorong dialog damai. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
















Mina Indonesia
Mina Arabic