Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kaleidoskop Ekonomi Syariah 2025, Meneguhkan Arah di Tengah Ketidakpastian Global

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 31 Desember 2025 - 18:04 WIB

Rabu, 31 Desember 2025 - 18:04 WIB

16 Views ㅤ

DSN MUI Dorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah di Indonesia (foto: Fpik)

TAHUN 2025 menjadi fase penting dalam perjalanan ekonomi syariah, baik di Indonesia maupun dunia. Di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik, ketidakpastian arah suku bunga, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju, ekonomi syariah justru menunjukkan ketahanan yang kian nyata.

Prinsip kehati-hatian, keterikatan dengan sektor riil, serta nilai keadilan dan keberlanjutan menjadikan ekonomi syariah semakin relevan sebagai alternatif sistem ekonomi global yang lebih berimbang.

Bagi Indonesia, 2025 bukan sekadar tahun pencatatan capaian, tetapi juga momentum konsolidasi. Ekonomi syariah tidak lagi bergerak sendiri-sendiri, melainkan mulai terangkai sebagai sebuah ekosistem—menghubungkan sektor keuangan, industri halal, UMKM, hingga kebijakan publik.

Inilah fondasi penting untuk melangkah ke fase berikutnya pada 2026.

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Indonesia di Peta Ekonomi Syariah Global

Salah satu capaian menonjol sepanjang 2025 adalah keberhasilan Indonesia mempertahankan posisi tiga besar dunia dalam laporan State of the Global Islamic Economy. Peringkat ini mencerminkan kekuatan Indonesia pada berbagai sektor, mulai dari makanan halal, fesyen Muslim, hingga investasi dan keuangan syariah.

Capaian tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu motor penggerak ekonomi syariah global.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, capaian tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan global terhadap ekosistem ekonomi syariah nasional. Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara menyebut, pertumbuhan ini menandakan bahwa ekonomi dan keuangan syariah Indonesia semakin matang, tidak hanya tumbuh dari sisi aset, tetapi juga kualitas tata kelola dan daya saing internasional.

Baca Juga: Mushalla di Tempat Wisata: Kunci Kenyamanan Wisata Ramah Muslim

Kepercayaan tersebut tercermin pula dari meningkatnya investasi berbasis syariah, baik dari dalam maupun luar negeri. Indonesia dinilai memiliki keunggulan demografis dan pasar domestik yang besar, sehingga menjadi tujuan strategis bagi pengembangan industri halal global.

Lonjakan Aset dan Konsolidasi Keuangan Syariah

Tahun 2025 juga mencatat tonggak penting dari sisi keuangan syariah. Total aset keuangan syariah nasional dilaporkan telah menembus lebih dari Rp10.000 triliun, meningkat signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa perbankan syariah, pasar modal syariah, dan instrumen pembiayaan seperti sukuk semakin diterima oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Baca Juga: 7 Etos Kerja Seorang Muslim, Jalan Keberkahan Menuju Ridha Allah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pertumbuhan aset keuangan syariah merupakan sinyal positif bagi perekonomian nasional.

Menurutnya, keuangan syariah memiliki peran strategis dalam mendukung pembiayaan pembangunan, terutama untuk sektor-sektor produktif yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Namun demikian, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pertumbuhan aset harus diiringi dengan penguatan sektor riil. Tanpa keterhubungan yang kuat dengan industri dan UMKM, keuangan syariah berisiko tumbuh secara semu.

Karena itu, 2025 juga menjadi tahun konsolidasi agar pembiayaan syariah semakin menyentuh sektor-sektor produktif berbasis halal.

Baca Juga: Syahadat Mengubah Arah: Kisah Muallaf Produktif dari Perbatasan Aceh

Ekosistem Halal dan Inovasi sebagai Penopang

Penguatan ekonomi syariah pada 2025 tidak lepas dari peran industri halal dan inovasi. Penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) kembali menjadi momentum penting yang mempertemukan regulator, pelaku usaha, akademisi, dan investor.

Forum ini tidak hanya menjadi ajang pamer capaian, tetapi juga ruang dialog strategis untuk menyusun arah pengembangan ekonomi syariah ke depan.

Bank Indonesia menegaskan bahwa ekonomi syariah harus dibangun sebagai ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan. Gubernur BI menilai, sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan pengembangan industri halal menjadi kunci agar ekonomi syariah tidak hanya tumbuh di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Baca Juga: Melatih Santri Kreatif Melalui Pemanfaatan Kertas Bekas

Di sektor perbankan, inovasi juga terus dilakukan, termasuk pengembangan indikator dan instrumen berbasis data untuk membaca perilaku konsumsi masyarakat Muslim.

Inovasi ini dipandang penting untuk memperkuat perencanaan bisnis dan kebijakan ekonomi syariah agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Secara global, tren integrasi ekonomi syariah dengan prinsip keberlanjutan juga semakin menguat. Penerbitan sukuk berbasis ESG meningkat, menunjukkan bahwa nilai-nilai syariah memiliki kesesuaian kuat dengan agenda keuangan berkelanjutan dunia.

Hal ini membuka peluang besar bagi ekonomi syariah untuk memainkan peran lebih luas dalam pembiayaan pembangunan hijau dan inklusif.

Baca Juga: 5 Kunci Sukses Usaha dalam Bidang Apapun

Outlook 2026: Diperlukan Akselerasi dengan Tantangan Nyata

Memasuki 2026, prospek ekonomi syariah dipandang tetap positif, meskipun tantangan tidak ringan. Ketidakpastian global diperkirakan masih berlanjut, namun justru menjadi ruang pembuktian bagi ketahanan ekonomi syariah.

Para ahli menilai, tahun 2026 akan menjadi fase akselerasi, terutama pada sektor riil berbasis halal.

Ekonom INDEF Handi Risza menilai, fokus utama ke depan adalah memperkuat industri halal sebagai penggerak ekonomi umat. Menurutnya, sektor makanan halal, farmasi, fesyen Muslim, dan pariwisata ramah Muslim memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Baca Juga: Santripreneur Upaya Mengkader Pengusaha yang Amanah, Kreatif dan Bertanggung Jawab

Di sisi lain, tantangan literasi dan regulasi masih perlu mendapat perhatian serius. Tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk dan prinsip ekonomi syariah dinilai belum merata. Tanpa literasi yang kuat, potensi besar ekonomi syariah sulit dioptimalkan secara maksimal.

Meski demikian, optimisme tetap menguat. Dengan fondasi yang dibangun sepanjang 2025—mulai dari penguatan aset, ekosistem, hingga pengakuan global—ekonomi syariah Indonesia memiliki modal kuat untuk melangkah ke 2026.

Bagi banyak pengamat, ekonomi syariah bukan lagi wacana normatif, melainkan bagian dari solusi atas tantangan ekonomi global yang kian kompleks.

Tahun 2025 akan dikenang sebagai fase peneguhan arah. Sementara 2026 diharapkan menjadi tahun pembuktian, ketika ekonomi syariah tidak hanya tumbuh secara angka, tetapi hadir sebagai kekuatan yang membawa keadilan, keberlanjutan, dan harapan bagi masa depan perekonomian Indonesia dan dunia. []

Baca Juga: Belajar Manajemen dari Klub Sepakbola Como 1907, Dari Pinggir Danau ke Papan Atas Serie A Italia

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda