DI BANYAK daerah Indonesia, alam pernah menjadi sahabat paling setia bagi rakyat. Gunung memberi air, sungai membawa rezeki, laut menyediakan ikan, dan hutan menjaga keseimbangan hidup. Di desa-desa yang dulu hijau, masyarakat tidak pernah takut kekurangan. Mereka hidup berdampingan dengan sumber daya alam (SDA) tanpa harus merampas atau merusaknya.
Kala itu, bencana bukanlah kata yang akrab di telinga, karena alam terjaga, tanah tetap kokoh, sungai bersih, dan udara segar. SDA benar-benar menjadi berkah; bukan hanya untuk segelintir orang, tetapi untuk seluruh rakyat yang menggantungkan hidup dari bumi yang subur ini.
Namun, seiring waktu, hubungan manusia dengan alam berubah. Kebutuhan meningkat, ambisi bertambah besar, dan SDA lalu diperlakukan bukan lagi sebagai titipan, melainkan sebagai komoditas yang harus dieksploitasi tanpa batas.
Di banyak tempat, tambang dibuka besar-besaran. Gunung-gunung ditambang hingga gundul. Hutan ditebang untuk sawit tanpa memikirkan habitat dan aliran air. Sungai dijadikan tempat limbah industri. Laut dikeruk untuk pasir, pesisir ditimbun untuk proyek prestisius. Semua terlihat megah di atas kertas, tetapi di sisi lain, perlahan-lahan berkah itu berubah menjadi petaka.
Baca Juga: Solidaritas Spanyol untuk Palestina, Dari Kibaran Bendera Yamal Hingga Kebijakan PM Sánchez
Bencana yang kini melanda hampir di seluruh Indonesia adalah cermin dari perubahan hubungan itu. Banjir bandang di satu wilayah, tanah longsor di daerah lain, kekeringan panjang di tempat yang biasanya basah, sekaligus kebakaran hutan yang menghitamkan langit. Setiap hari, berita bencana seperti tak ada habisnya.
Seolah-olah alam sedang memberi peringatan keras: bahwa berkah yang selama ini diberikan, bisa hilang kapan saja ketika manusia tidak lagi menghargainya. Air yang dulu memberi kehidupan, kini berubah menjadi gulungan banjir yang menghanyutkan rumah-rumah. Tanah yang dulu subur, kini mudah runtuh bahkan hanya karena hujan sebentar.
Rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya. Para petani kebingungan ketika musim tak lagi bisa diprediksi. Kadang hujan terlalu deras, kadang terlalu lama tidak turun sama sekali. Sawah gagal panen, harga naik, dan kehidupan semakin berat.
Para nelayan juga merasakan perubahan yang sama. Laut yang dulu ramah, kini semakin tak menentu. Ombak tinggi, cuaca ekstrem, dan pencemaran membuat mereka pulang dengan perahu kosong. Sementara itu, masyarakat yang tinggal di lereng gunung dan pinggir sungai hidup dalam ketakutan apakah rumah mereka akan tersapu banjir atau tertimbun longsor setiap kali hujan turun.
Baca Juga: Hikmah Kurban Yang Jarang Dibahas Dari Ketahanan Pangan dan Suplemen Otak
Saat SDA Dikelola dengan Benar
Di sisi lain, ketika SDA dikelola dengan benar dan penuh tanggung jawab, berkahnya begitu terasa. Ada daerah-daerah kecil yang mampu membuktikan bahwa menjaga bumi adalah kunci keberlanjutan. Di tempat seperti itu, hutan tetap dijaga, sungai dibersihkan, dan tambang hanya dibuka sesuai kapasitas lingkungan.
Ekonomi rakyat berjalan, tetapi alam tetap terpelihara. Para petani menggunakan air bersih dari mata air yang terlindungi. Nelayan menangkap ikan di laut yang masih sehat. Wisata alam berkembang tanpa merusak lingkungan. Semua berjalan harmonis karena manusia tahu batasnya. Mereka percaya bahwa bumi bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk anak cucu yang akan mewarisinya.
Kontrasnya begitu jelas: ketika SDA menjadi berkah, rakyat merasakan keamanan, kecukupan, dan ketenangan. Tapi ketika SDA dijadikan objek eksploitasi tanpa kendali, yang lahir hanyalah kerusakan, kemiskinan, dan bencana. Tidak sedikit daerah yang dulunya kaya sumber alam kini justru miskin setelah SDA-nya habis.
Baca Juga: Israel Dituduh Memata-matai Guru-Guru Palestina yang Kritik Perang Gaza
Lubang bekas tambang menganga, air tanah tercemar, dan tanah tak lagi bisa digarap. Pekerjaan yang dulu dijanjikan banyak, hilang begitu saja ketika proyek selesai. Sementara rakyat ditinggalkan menghadapi dampak jangka panjang.
Kini, saat Indonesia menghadapi rentetan bencana hampir setiap pekan, pertanyaannya sangat sederhana namun menampar: mau dibawa ke mana hubungan kita dengan alam?
Apakah kita ingin terus mengambil tanpa memberi?
Apakah kita masih ingin mengorbankan masa depan hanya demi keuntungan sesaat?
Baca Juga: Mali Bangkit dengan Tambang Emas dalam Nasionalisme dan Kedaulatan
Atau kita ingin mengembalikan alam sebagai berkah yang selama ini telah lama dinikmati oleh para leluhur kita?
SDA adalah amanah. Jika dijaga, ia menjadi berkah yang membuat hidup rakyat sejahtera. Tapi jika disalahgunakan, ia berubah menjadi peringatan keras—bahwa bumi punya cara sendiri untuk menegur.
Hari ini, saat banyak daerah dilanda banjir, tanah longsor, dan kekeringan, mungkin ini saatnya kita berhenti sejenak. Merenung. Menata ulang cara melihat alam. Karena berkah tidak selalu hilang tiba-tiba; sering kali ia pergi perlahan, satu pohon yang ditebang tanpa diganti, satu sungai yang dikotori, satu bukit yang diratakan tanpa rem.
Jika Indonesia ingin terus disebut negeri yang kaya, maka kekayaan itu harus dijaga, bukan dihabisi. Alam hanya akan kembali menjadi berkah jika manusia kembali menjadi penjaga, bukan perusak. Dan mungkin, inilah waktu terbaik untuk memulai perubahan itu—sebelum berkah benar-benar pergi selamanya.[]
Baca Juga: Israel Tutup Al-Aqsa, Safari Ramadhan SMART 171 Jaga Nyala Solidaritas
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Membangun Kembali Universitas Harus Jadi Prioritas di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic