Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ (الضحى [٩٣]: ٨)
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan.” (QS. Ad-Dhuha [93]: 8)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat di atas, bahwa Allah Ta’ala memberi kecukupan kepada Rasulullah ﷺ dengan cara membukakan pintu rezeki melalui perdagangan dan kehidupan rumah tangga yang penuh keberkahan.
Ibnu Katsir menyebut, bahwa salah satu sebab terbesar yang Allah Ta’ala jadikan sebagai jalan kecukupan itu adalah melalui pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Sayyidatina Khadijah binti Khuwailid Radhiyallāhu ‘anhā, seorang wanita mulia yang dipilih untuk menjadi penopang dakwah Rasulullah ﷺ.
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā adalah wasilah (perantara) duniawi yang Allah Ta’ala tetapkan untuk menguatkan perjuangan Rasulullah ﷺ. Hartanya tidak digunakan untuk kemewahan, tetapi menjadi penopang perjuangan yang baru tumbuh di tengah tekanan kaum Kafir Quraisy saat itu.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Kedudukan Sayyidah Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā sangatlah mulia. Ia bukan hanya sosok istri, tetapi menjadi pelindung, pendukung, dan penguat dakwah. Beliau adalah orang pertama yang menenangkan dan membenarkan risalah Rasulullah ﷺ, ketika kaum Quraisy menekan dan memusuhi, Khadijah berdiri sebagai benteng.
Selanjutnya, makna kalimat فَأَغْنَىٰ menggambarkan bahwa Allah Ta’ala mencukupkan Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan kelapangan rezeki, tetapi dengan sosok pendamping (istri) yang menguatkan iman dan perjuangan.
Sementara itu, Prof Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa ayat di atas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala menolong para nabi melalui jalan-jalan yang tidak selalu berupa mukjizat, tetapi melalui manusia-manusia pilihan yang menjadi sebab pertolongan.
Dalam konteks Rasulullah ﷺ, Ibunda Khadijah adalah salah satu bentuk pertolongan terbesar. Dukungan jiwa, harta, dan keteguhannya menjadi bagian dari rencana ilahiah dalam menopang dakwah tetap hidup di masa-masa paling sulit di Makkah.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Dari ayat di atas, umat Islam dapat memetik hikmah dan pelajaran bahwa perjuangan Islam tidak dibangun hanya oleh para lelaki di medan dakwah, tetapi juga oleh kaum wanita yang mengorbankan segalanya demi tegaknya kalimat Allah Ta’ala.
Khadijah, Keteguhan Seorang Istri dalam Menopang Dakwah
Dalam sejarah awal perkembangan Islam, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu ‘anha adalah simbol seorang istri mampu menjadi penguat bagi perjuangan suaminya. Beliau bukan sekadar pendamping dalam kehidupan rumah tangga, tetapi penopang utama dalam misi kenabian yang penuh ujian.
Dalam buku Biografi Istri dan Putri Nabi SAW, karya Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman disebutkan bahwa Khadijah adalah sosok yang tidak hanya mencintai Muhammad sebagai suami, tetapi juga menjadi orang pertama yang mengimani risalah beliau dengan keyakinan yang utuh, jauh sebelum dunia memahami apa yang sedang terjadi.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Kisah Sayyidah Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā bukan sekadar kisah cinta dalam kehidupan rumah tangga. Lebih dari itu, cintanya tumbuh dari ketulusan, lalu menjadi iman yang kokoh. Dari iman itulah lahir sebuah perjuangan yang agung.
Cintanya kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya cinta seorang istri kepada suaminya, tetapi cinta yang rela berkorban demi kebenaran, yang sanggup bertahan di tengah badai intimidasi dan perlawanan kaumnya. Dari sinilah kita mendapat pelajaran mendalam bahwa cinta itu membutuhkan pengorbanan.
Dalam diri Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā, cinta tidak berhenti pada perasaan, tetapi menjelma menjadi kekuatan spiritual yang menghidupkan dakwah dan menguatkan langkah Nabi ﷺ di masa-masa paling sulit.
Ketika Wahyu Pertama Turun
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Malam itu, Gua Hira menjadi saksi turunnya wahyu pertama. Muhammad ﷺ pulang dengan tubuh gemetar, wajah pucat, dan jiwa yang terguncang. Dalam riwayat yang ditulis oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya Shahih al-Bukhari, beliau berkata: “Zammiluni, zammiluni… (selimuti aku)…”
Pada situasi seperti itu, Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā tidak panik. Ia tidak mempertanyakan kenapa suaminya bisa seperti itu. Tetapi beliau mengucapkan kalimat yang menjadi penawar kegelisahan, penyejuk hati yang gundah.
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā memeluk Nabi ﷺ, menyelimuti beliau, menenangkan beliau, lalu berkata dengan ungkapan yang sangat monumental dalam sejarah dakwah Rasulullah ﷺ:
“Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahim, menolong yang lemah, memuliakan tamu, dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah.”
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Momen tersebut direkam dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam karya Abdul Malik Ibn Hisyam, yang menjelaskan bahwa Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā adalah orang pertama yang berdiri tegak ketika dunia menolak bahwa Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul terakhir telah diutus.
Ia adalah orang yang pertama beriman, bukan karena melihat mukjizat yang besar di hadapan mata, tetapi karena mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak suaminya dengan keyakinan yang utuh, tanpa keraguan.
Harta Khadijah Menjadi Nafas Dakwah
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā adalah wanita terpandang di Suku Quraisy. Ia dikenal sebagai pedagang besar, kaya, mulia, dan terhormat. Tetapi ketika Islam datang, kekayaannya digunakan sebagai penopang perjuangan.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah menyebut bahwa Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā termasuk orang yang paling banyak mengorbankan harta pada fase awal Islam, ketika kaum Muslimin masih lemah dan tertindas.
Ketika Rasulullah ﷺ memulai berdakwah, tekanan dan intimidasi dari kaum Kafir Quraisy sangat keras. Para pengikut Islam disiksa, diusir, dan dilaparkan. Dalam situasi seperti itu, Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā menginfakkan semua hartanya untuk membantu para sahabat yang kekurangan.
Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman, dalam bukunya menggambarkan bagaimana Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā memberikan seluruh kemampuan terbaiknya, baik dengan hartanya, pelayanan yang tulus dan keteguhan di tengah tekanan dan intimidasi, agar Nabi ﷺ dapat berdiri kokoh menjalankan amanah menyebarkan risalah.
Ujian paling berat terjadi ketika kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan kaum Muslimin. Mereka diasingkan di lembah sempit yang dikenal bernama Syi‘b Abi Thalib selama 3 tahun.
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Masa itu adalah masa kelaparan dan kesulitan yang luar biasa. Tangisan anak-anak terdengar nyaring karena lapar. Sementara kaum Muslimin bertahan dalam kondisi yang sangat berat. Namun Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā tetap berdiri bersama Rasulullah ﷺ. Ia menyerahkan semua hartanya untuk membeli makanan dan mencukupi kebutuhan para sahabat.
Di sinilah tampak bahwa pengorbanan bukan hanya soal materi, tetapi juga soal keteguhan jiwa. Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā yang dahulu hidup dalam kemewahan, kini rela menanggalkan seluruh kenyamanan demi mempertahankan iman.
Pengorbanan Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā bukanlah pengorbanan sesaat, tetapi pengorbanan yang terus mengalir seiring semakin beratnya ujian dakwah. Harta yang dahulu menjadi simbol kemuliaan di mata kaum Quraisy, berubah menjadi alat untuk menegakkan kalimat Allah Ta’ala.
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā meyakini bahwa kekayaan sejati bukan pada apa yang disimpan, melainkan pada apa yang diberikan di jalan kebenaran. Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā adalah seorang istri yang menjadikan rumah tangga menjadi pusat perjuangan dan menjadikan hartanya sebagai nafas dakwah yang menghidupkan harapan.
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Menjadi Pelipur Lara di Tengah Beratnya Dakwah
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā memahami bahwa suaminya membawa amanah yang agung. Ia mengerti, jalan dakwah bukan jalan yang mudah, melainkan penuh tekanan dan gangguan. Maka, beliau tampil menjadi pelindung jiwa, pelipur lara dan pengobat segala kesedihan dan lara.
Dakwah Nabi Muhammad ﷺ tidak selalu berjalan mulus. Beliau dicaci, dihina, dilempari kotoran, dan bahkan disebut sebagai tukang sihir dan orang gila.
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā menyadari, bahwa luka yang paling berat dalam perjuangan bukanlah luka fisik, tetapi luka batin, ketika risalah kebenaran ditolak dan dicemooh. Ketika Nabi ﷺ pulang dengan tubuh lelah dan hati penuh tekanan akibat hinaan Quraisy, Khadijah menyambut dengan kasih sayang yang menenangkan.
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā tidak berkata, “Mengapa harus begini?” tetapi seolah menegaskan, “Teruslah melangkah dalam dakwah, aku bersamamu.” Inilah kekuatan seorang istri yang memahami bahwa rumah harus menjadi tempat pulang yang menenteramkan.
Kata-kata Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā bukan sekadar hiburan, tetapi suntikan iman yang membuat Nabi ﷺ kembali tegak menghadapi berbagai tekanan dari orang-orang yang memusuhinya.
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā tidak pernah meminta Nabi ﷺ berhenti berdakwah demi keselamatan keluarga, tetapi justru menjadikan dirinya sebagai benteng yang melindungi Nabi ﷺ dari rasa sepi dan putus asa.
Tahun Kesedihan yang Mengguncang
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā memang tidak hidup ketika Islam telah berkembang. Beliau hidup ketika umat Islam sedang menghadapi berbagai penderitaan. Tetapi Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā telah menanam fondasi yang kokoh, sehingga membuat Islam berdiri tegak dan dirasakan manfaatnya oleh manusia di seluruh dunia hingga saat ini.
Dalam banyak riwayat, Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā bukan hanya sebagai sosok istri, tetapi sebagai sahabat perjuangan. Bahkan setelah wafatnya, nama Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā tetap hidup dalam ingatan Rasulullah ﷺ.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan bagaimana Nabi ﷺ sering menyebut-nyebut kebaikan Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā, karena ia adalah orang yang beriman ketika orang lain mendustakan, dan ia membenarkan ketika manusia meragukan.
Hal ini menunjukkan bahwa peran seorang istri dalam dakwah dan perjuangan suaminya bisa begitu besar, hingga dikenang sepanjang hayat.
Ketika Khadijah wafat, Rasulullah ﷺ sangat berduka. Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Wafatnya Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā adalah kehilangan terbesar Nabi ﷺ setelah wafatnya Abu Thalib.
Kesedihan Rasulullah ﷺ pada wafatnya Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā bukan sekadar kesedihan seorang suami yang kehilangan pasangan hidup, tetapi kesedihan seorang Nabi yang kehilangan penopang paling setia di masa-masa paling berat.
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā bukan hanya sosok istri, tetapi beliau adalah wanita tempat bersandar, sahabat dalam sunyi, dan pelindung ketika badai dakwah menerpa tanpa henti. Karena itu, wafatnya Khadijah meninggalkan ruang hampa yang dalam di hati Rasulullah ﷺ, seolah rumahnya tidak lagi sama, dan dalam menapaki perjalanan dakwah terasa sunyi dan sendiri.
Para ulama menjelaskan bahwa Khadijah wafat setelah melewati ujian boikot yang sangat berat, dalam keadaan tubuh yang melemah karena pengorbanan yang panjang. Namun ruh pengorbanannya tidak pernah mati.
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā pergi bukan dalam kemewahan harta, tetapi dalam kemuliaan iman. Ia tidak menyaksikan kemenangan Islam secara lahiriah, tetapi beliau adalah bagian paling awal dari kemenangan Islam itu. Sebab kemenangan besar selalu dimulai dari ketulusan-ketulusan kecil yang dipersembahkan dengan sepenuh hati.
Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā wafat pada 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, beberapa tahun sebelum peristiwa hijrah. Beliau wafat tidak meninggalkan harta warisan, bahkan dalam sebuah riwayat, beliau wafat dengan pakaian penuh tambalan.
Setelah Ibunda Khadijah Radhiyallāhu ‘anhā wafat, Rasulullah ﷺ tidak segera menikah. Hal itu menunjukkan betapa dalamnya rasa cinta beliau kepada Ibunda Khadijah. Hal itu membuat sedih Khaulah binti Hakim, sahabat Ibunda Khadijah. Ia prihatin dengan kondisi Rasulullah ﷺ yang hidup sendiri, tidak ada sosok istri yang menemani dalam mengurus rumah tangga dan putri-putrinya.
Khaulah kemudian menemui Rasulullah ﷺ dan bercerita panjang lebar. Intinya, ia menyarankan kepada Nabi Muhammad ﷺ agar menikah lagi agar ada yang merawat, menghibur, dan menjadi teman hidupnya. Khaulah kemudian menyebutkan dua nama; Saudah binti Zam’ah dan Aisyah binti Abu Bakar.
Akhirnya, Rasulullah ﷺ mengutus seorang perempuan untuk melamar Saudah binti Zam’ah, seorang janda berumur 60 tahun-an yang memiliki 5 anak. Keduanya menikah pada bulan Syawwal tahun ke-10 H.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic